1.9 Kembali ke Masa Lalu
Stevan
adalah teman Karin saat dia masih SMP. Saat itu Karin masih kelas 3 SMP dan Stevan
kelas 3 SMA. Mereka berkenalan dari temannya Stevan yang adalah kakak dari
teman Karin. Waktu itu Karin sedang ada belajar bersama di rumah salah satu
temannya yang bernama Diana. Awalnya Karin ingin berpamitan pulang, dan ada
teman kakaknya Diana yang juga ingin pulang. Karena hari sudah sangat sore,
kakak Diana menyuruh temannya mengantar Karin pulang.
Tadinya
Karin menolak karena takut merepotkan. Tapi teman kakaknya tidak merasa
direpotkan. Akhirnya Karin diantar pulang oleh teman kakaknya itu. Dari situlah
perkenalan mereka. Karena mereka sudah sama-sama kelas 3 dan hanya berbeda
dijenjang pendidikan, sebentar lagi mereka akan melaksanakan ujian nasional.
Intensitas
belajar mereka mulai meningkat. Karin yang sering belajar bersama di rumah
Diana bersama teman-temannya, teryata membuatnya dengan Stevan sering bertemu.
Dan tanpa mereka sadari mulai ada perasaan diantara mereka. Stevan jadi sering
main ke rumah Diana. Dan memberanikan diri untuk meminta nomor Karin.
Setelah
mendapatkan nomor Karin, Stevan mulai mendekati Karin perlahan-lahan. Dan saat
hati Karin mulai tercuri olehnya. Sebuah kejadian yang mereka impikan terjadi.
Stevan mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Karin gembira dengan pengakuan
Stevan kepadanya. Tapi disisi lain ia juga memikirkan perbedaan yang mereka
miliki.
Karin
mencoba menerima Stevan meskipun mereka berdua berbeda. Sebuah perbedaan yang
sangat besar dan akan menjadi jurang pemisah untuk mereka nantinya. Hubungan
mereka sudah terjalin selama beberapa minggu. Dan Stevan yang memang dekat
dengan mamanya mengenalkan Karin pada mamanya. Stevan berharap agar mamanya
menyukai kekasih hatinya ini. Tapi apa yang terjadi, semua yang Stevan inginkan malah berubah menjadi
boomerang untuknya.
Saat Stevan
memperkenalkan Karin kepada mamanya
semua baik-baik saja. Tapi setelah Karin pulang, mama Stevan mengajaknya untuk
berbicara. Ternyata mamanya tidak merestui hubungan mereka berdua. Dan menyuruh
Stevan memutuskan hubungannya dengan Karin. Hancur hatinya saat itu juga.
Disaat ia sudah menemukan pujaan hatinya malah disaat itu juga dia harus berpisah
dengannya.
Stevan
memutuskan untuk membohongi mamanya. Dia bilang dia sudah putus dengan Karin.
Mulai hari itu Stevan dan Karin pacaran backstreet. Stevan tidak member tahukan
kepada Karin tentang mamanya yang tidak menyukainya. Sampai suatu saat mamanya
mencurigai Setevan masih berhubungan dengan Karin. Mama Stevan mengintai
handphone Stevan. Dan setelah ketahuan mama Stevan menyita handphone Stevan dan
melabrak Karin lewat sms tanpa sepengetahuan Stevan.
Karin yang
menerima sms itu sangat kaget. Mama Stevan meminta Karin menjauhi Stevan. Meski
mama Stevan men sms dengan kata-kata sopan tetapi tetap saja rasanya
menyakitkan. Segala cara mama Stevan lakukan untuk menjauhka anaknya dengan
Karin. Karin hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Sedangkan Stevan… dia tidak
bisa berontak karena mamanya telah mengancamnya.Stevan yang sangat sayang
dengan mamanya tidak berdaya dengan ancaman mamanya. Disatu sisi dia tidak
ingin durhaka dan kehilangan mamanya. Tapi disisi lain dia tidak tega melihat
Karin menderita karena dirinya. Sungguh situasi yang sulit untuk mereka.
Ujian
nasional untuk SMA telah selesai. Mama Stevan sudah mendaftarkan Stevan ke
salah satu universitas di luar negeri. Stevan terkejut mendengar kabar ini. Awalnya
Stevan menolak dan sempat ngambek sama mamanya. Tapi mamanya memaksanya dan
menyuruhnya untuk mengurus semuanya di Australia secepatnya.
Stevan tau
ini adalah salah satu cara mamanya untuk menjauhkannya dengan Karin. Dan Stevan
menyadari itu. Memang perbedaan yang mereka milikilah yang membuat jurang
pemisah antara mereka berdua. Perbedeaan yang tidak akan pernah bisa
dipersatukan. Mungkin itu yang membuat
mamanya memisahkannya dengan Karin.
**
Siang ini
Stevan akan meniggalkan Jakarta. Dia akan mengurus semua kepindahannya ke
Australia. Sang mama telah menyiapkan semuanya untuk Stevan. Tapi sebelum
Stevan berangkat ia meminta mamanya untuk ke gereja dekat rumahnya, karena ia ingin
berdoa disana. Stevan memasuki gereja dan berdiri altar depan sambil mengepalkan
tangannya, Stevanpun berdoa dan memejamkan matanya.
“Tuhan bila
aku tidak berjodoh dengannya, buatlah dia mendapatkan seseorang yang seiman
dengannya dan seseorang itu lebih baik dari aku, buatlah dia bahagia tanpa aku
Tuhan. Aku mohon kuatkan dia Tuhan. Dan jaga dia untukku. ” Doa Stevan untuk
Karin.
“Stevan
kamu sudah selesai?” Tanya Mama Stevan menghampiri Stevan.
“(membuka
matanya) Sudah ma.” Jawabnya dengan senyuman.
Mobil bmw
melaju dengan cepat ke arah bandara soekarno-hatta. Sesampainya disana pak
supir menurunkan koper-koper besar milik tuannya. Stevan turun dari mobil dan
menghela nafas. Rasanya ia tidak ingin meninggalkan Indonesia tepatnya Jakarta.
Banyak sekali kenangan di kota ini. Karena hari semakin siang, dan pesawat
Stevan sudah menunggu dia segera ke tempat tunggu (waiting room).
**
“Horeeeeee”
Terdengar sorak sorai gembira dari anak-anak yang keluar kelas. Hari ini adalah
hari terakhir ujian nasional tingkat SMP. Karin gembira dengan selesainya ujian
ini. Tapi rasa kegembiraan itu tergantikan oleh kabar buruk yang Diana berikan.
“Karin.”
Sapa Diana.
“Iya
Diana.” Karin menyapanya juga.
“Gimana
tadi bisa ngerjainnya?” Tanya Diana.
“Alhamdulilah
lancar, kamu gimana Di?” Jawab Karin yang bertanya kembali.
“Aku juga lancar,
oh ya Kar aku disuruh kasih tau sesuatu sama kakak aku setelah kamu selesai
ujian.” Diana berucap.
“Kasih tau
apa?” Tanya Karin penasaran.
“Pacar kamu,
kak Stevan, hari ini dia akan berangkat ke luar negeri.” Jawab Diana.
“Jam berapa
Di?” Tanya Karin lagi yang berniat menyusul Stevan.
“Aku kurang
tau, tapi kakak aku mau berangkat ke airport buat ketemu Stevan, kamu mau
ikutan?” Jawab Diana yang memberikan saran.
“Bener
gapapa?” Tanya Karin yang kurang yakin.
“Iya
gapapa, bentar aku telepon kakak aku.” Jawab Diana yang segera menelepon
kakaknya. “Halo kakak dimana? Bisa jemput Karin sama aku gak kak di sekolah?hmm
kakak emang udah otw oh itu ya mobilnya? Siiiip” Diana mengobrol dengan
kakaknya.
Ternyata
sebelum kakaknya ke bandara, kakaknya Diana sengaja menjemput Diana dan Karin.
padahal Stevan sudah menyuruh sahabatnya ini yang bernama Rico untuk tdak memberitahu
Karin. Tetapi Rico berinisiatif untuk membawa Karin menemui Stevan. Karena
sudah lama sekali Stevan tidak melihat wajah Karin. Rico memacu mobilnya dengan
sangat kencang. Dia tidak mau terlambat. Tapi apalah daya jalanan sudah sangat
padat oleh mobil.
Sekarang
waktu menunjukkan pukul 12.00 sedangkan Stevan berangkat pukul 12.30. mereka
butuh sekitar 45 menit untuk sampai bandara, ditambah dengan kemacetan ini
mungkin bisa satu jam. Karin hanya diam, dia tidak tahu harus berbuat apa. Begitu
juga Rico dan Diana yang sudah pasrah dengan keadaan ini.
**
Di ruang
tunggu Stevan sudah gelisah. Katanya Rico akan datang tapi kenapa sampai
sekarang ia belum keihatan. Mama Stevan yang melihat kegelisahan anaknya ini
mengira anaknya gelisah karena takut naik pesawat. Mama Stevan mencoba menyuruh
Stevan tenang. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.20 mama Stevan menyuruh
Stevan untuk naik ke pesewat.
Stevan
menolak, dia beralasan ingin ke kamar mandi dulu. Lalu dia ke kamar mandi dan
mencoba menelepon Rico. Tetapi handpone Rico tidak aktif, Stevan sudah pasrah.
Mamanya meneleponnya dan menyuruhnya untuk segera keluar dari toilet. Stevan
keluar dari toilet dan menemui mamanya.
Stevan dan
mamanya menuju pesawat. Stevan berjalan sangat pelan. Dia memperhatikan kanan
dan kiri siapa tahu Rico sudah datang. Tapi sepertinya nihil, karena Stevan
tidak sama sekali melihat. Mama Stevan memberikan tiket dan diperiksa oleh
pramugari. Mereka berdua pun memasuki pesawat.
**
Mereka
bertiga sampai. Rico, Diana dan Karin segera turun dan memasuki gedung bandara.
Mereka bertiga mencari keberangkatan luar negeri. Rico mengambi handponenya dan
hendak menelepon Stevan. Handpone Rico ternyata mati. Rico menghidupkannya. Ada
banyak miscall dari Stevan. Lalu Rico mencoba menelepon Stevan. Handpone Stevan
yang sekarang tidak aktif. Feeling Rico mengatakan Stevan sudah naik ke
pesawat. Dan Karin mendengar pengumuman.
“Perhatian..Perhatian untuk seluruh penumpang
pesawat garuda tujuan Australia diharapkan untuk naik ke pesawat karena
sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Terima kasih.”
Sesak dada
Karin, rasanya ia ingin menaggis mendengar pengumuman itu. Stevan pasti sudah
di pesawat. Dan dirinya terlambat untuk melihat Stevan terakhir kalinya. Rico
dan Diana yang juga mendengar pengumuman itu langsung mendekat ke Karin. Diana
memegang pundak Karin dan Rico mengelus-elus rambut Karin. Karin menahan
tanggisannya, dia tersenyum dan meminta Rico dan Diana untuk pulang saja
sekarang. Kedua kakak beradik ini mengikutinya.
Diana dan
Rico tau betapa hancurnya hati Karin. Perjuangan Stevan untuk Karin dan
perjuangan Karin untuk Stevan, hanya Tuhan dan mereka berdualah yang tahu.
Sungguh pilu melihat kedua sejoli ini yang harus terpisah karena perbedaan.
**
Sekarang dikamar
Karin.
Karin masih
tidak percaya kalau tadi sore dirinya bertemu dengan Stevan. Orang yang sudah
lama tidak ia temui. Dengan spontan, semua kenangan masa lalunya dengan Stevan
lewat terlintas begitu saja didepan fikirannya. Hampir saja Karin menanggis
karena mengingat-ingat semua kenangan masa lalunya. Dan kebetulan Karin sedang
mendengarkan radio dengan handponenya dan lagunya sangat tepat sebagai
soundtrack masa lalunya.
Memang kita takkan menyatu…kini harusnya kita
coba lupakan….melupakan kita pernah bersama…
Lagu cakra
kan menggema di telingga Karin. Saat Karin dan Stevan, mereka tidak akan
menyatu. Itu adalah kenyataan terpahit yang pernah Karin temui dalam hidupnya.
Mereka berdua hanya bisa menjadi teman. Tapi Karin mengambil hikmah dari masa
lalunya itu. Mungkin ini yang membuatnya selalu berhati-hati dalam memilih
pasangan.
**
Sabtu sore
seperti biasa Karin harus mengajar di rumah Dani. Hari ini mereka sedang
membahas matematika. Dani pusing sekali dengan soal-soal matematika yang Karin
berikan. Karin yang melihat Dani kebingungan membantunya sampai Dani bisa
mengerjakannya. Raka yang turun dari tangga dan melihat ada Karin.
Raka terus
memperhatikan Karin dari kejauhan. Kalau dilihat-lihat Karin memang cantik.
Selain itu dia juga pintar dan baik. Tapi Raka berfikir, kenapa Karin selalu
bersikap cuek kepadanya. Kenapa Karin tidak bisa bersikap baik dan perhatian
seperti sikap Karin kepada adiknya. Apa karena Raka suka menggoda Karin. Atau
karena Karin sudah punya pacar.
Raka yang
sedang didapur dan memegang segelas jus sambil melamun ini dikagetkan oleh
pembantunya.
“Dooooor.”
Pembatu Raka mengagetkan.
“Eh bibi
kenapa bi?”Raka yang tersadar dari lamunannya.
“Aden
ngelamunin apaan?” Bibi bertanya sambil menggoda majikannya ini.”Aden dari tadi
bibi perhatiin ngeliatin non Karin terus. Jangan-jangan Aden ngelamunin non
Karin ya?”
“Ish si
bibi apaan sih? Ngga kok.” Jawab Raka yang tersipu malu.
“Ngga usah
boong den, non Karin memang cantik kok, baik lagi ditambah dia pinter.” Bibi
malah nyerocos panjang lebar.
“Hahaha
bibi apaan deh, ya terus kenapa kalo si Karin cantik, pinter, baik?” Tanya
Raka.
“Kan bisa
jadi pacar aden Raka.” Jawab bibi dengan polos.
“Raka udah
punya pacar bi, lagian Karin juga udah punya pacar kali bi.” Raka jadi sewot.
“Den Raka
tau dari mana kalo non Karin udah punya pacar?” Tanya bibi yang tidak percaya.
“Saya kan
satu sekolah sama Karin bi.” Jawab Raka dengan senyumannya yang manis. “Udah ah
Raka mau ngisengin Dani. Daaaaah bibi.” Raka ngeloyor pergi
Bibi
melihat tuannya ini berjalan mendekati Karin dan Dani. Bibi hanya
mengeleng-gelengkan kepalanya dan kembali bekerja. Sedangkan Raka yang membawa
segelas jus datang menghampiri Karin dan Dani. Sepertinya mereka berdua sedang
membereskan buku. Ternyata Karin dan Dani sudah selesai belajar. Gagal rencana
Raka untuk menjahili mereka berdua. Raka
melihat raut muka Karin yang sedang membereskan buku, cantik puji Raka dalam
hatinya. Lalu keisengan Raka dimulai.
“Lo sakit
Kar?” Tanya Raka dengan penuh perhatian.
“Ngga kok
emang kenapa?” Jawab Karin dengan nada ketus.
“Ish jadi
cewek jutek amat sih.” Raka jadi ngomel.
“Siapa yang
jutek sih Ka?” Tanya Karin dengan sopan.
“Ya elo
lah, oh ya abis ini mau pulang?” Tanya Raka lagi.
“Iya kenapa
emangnya? Mau nganterin?” Jawab Karin yang lagi-lagi dengan nada ketus.
“Kan ketus
banget jawabannya, iya gua anterin yuk mau gak?” Raka berbaik hati menawarkan
dirinya.
“Tumben kak
Raka baik? Hmm kak Raka naksir kak Karin ya?” Dani yang dari tadi diam kini
meledek abangnya.
“Ish apaan
sih lo? Siapa juga yang naksir Karin. Gua kan hanya ingin berbuat baik,
terserah sih kalo lo gak mau?” Raka hampir aja salah tingkah karena adeknya
ini.
“Hmm ngga
usah deh Ka, gua bisa pulang sendiri kok.” Jawab Karin dengan sopan dan sambil
tersenyum.
“Cantik.” Puji Raka dalam hatinya. “Oke ya udah.” Raka
gak mau maksa Karin, karena kalau dia memaksa nanti bisa-bisa si Dani adeknya
ini malah makin ngejek dia.
“Dani kak
Karin pamit pulang ya. Raka gua pamit ya, salam buat mama papa lo.” Ucap Karin
lalu ia meninggalkan rumah itu.
**
Dikamar
Raka
Raka sedang
tidur-tiduran di kamar. Tiba-tiba terbayang wajah Karin difikirannya.
Cepat-cepat dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Raka lo
kan udah punya pacar, duh kenapa lo jadi kebayang-bayang sama Karin.” Ucap Raka
kepada dirina sendiri. “Tapi Karin memang menarik. Dia cantik, pintar dan
hemmmm jutek hiihiihihihi.” Raka tertawa sendiri.
**
Malam
minggu ini Anya wangi sekali. Baju yang dikenakannya juga begitu indah.
Meskipun badan Anya tidak selangsing Jani dan Karin tetapi dengan baju yang
Anya kenakan sekarang, tubuhnya jadi terlihat lebih kecil. Anya meminta izin
kepada kedua orang tuanya untuk keluar malamini. Dan ia diizinkan. Malam ini
Anya akan bermalam mingguan dengan cowok yang waktu itu ia kenal di eskul
padus.
Namanya
Dion. Dion siswa kelas 11, berbeda 1 tahun diatas Anya yang masih kelas 10.
Dion yang sudah sampai di rumah Anya berpamitan kepada kedua orang tua Anya.
Mereka berdua pergi sebuah mall untuk menonton. Setelah selesai menonton,
mereka makan di cafetaria mall.
Saat Anya
dan Dion selesai makan, Dion melihat ada Reza sedang berjalan dengan seorang
cewek. Saat Reza mendekat dan Dion menyapanya. Dion menyuruh Reza bergabung.
Reza dan cewek yang bersamanya duduk ditempat Dion dan Anya.
“Za lo abis
dari mana?” Tanya Dion yang heran melihat Reza ke mall bareng cewek ini.
“Oh gua
abis nganterin Cinta beli cd Yon, lo sendiri ngapain?” Jawab Reza yang balik
bertanya kepada Dion.
“Gua hemmm…
kenalin ini Anya.” Ucap Dion.
“Anya.”
Anya menyapa Reza dan Cinta.
“Reza.” Ucap
Reza denga ekspresi datar
“Cinta.”
Ucap Cinta. “Lo anak padus kan?” Tanya Cinta.
“Iya kak
hehe.” Jawab Anya dengan senyum.
“Za balik
yuk nanti kemaleman.” Pinta Cinta kepada Reza.
“Oh ya
udah. Dion, Anya gue duluan ya.” Reza berpamita.
“Duluan
ya.” Pamit Cinta.
“Iya.” Ucap
Dion dan Anya.
**
Tidak
terasa sudah hari senin saja. Para siswa-siswi berbaris dengan rapih sesuai
dengan kelasnya masing-masing. Anya, Jani, Malik dan Karin sudah berbaris rapih
di tempatnya masing-masing. Sedangkan Adam masih sibuk mengatur barisannya.
Selesai mengatur barisan, Adam baris di dekat keempat sahabatnya ini.
“Jan, Kar
tau gak sih!” Anya gak sabar mau cerita ini sama Jani dan Karin.
“Tau apa
Nya?” tanya Jani penasaran.
“Ini berita
heboh bangeeeeet.” Jawab Anya.
“Berita
apaan sih Nya?” Malik tiba-tiba ikutan bicara.
“Kepo lo
Lik.” Ejek Anya.
“berita apa
Nya?” Karin penasaran.
“Iya Nya
berita apaan deh buruan!” Ucap Adam yang juga ingin tahu.
“Tenang
teman-teman. “ Anya menyuruh sahabatnya agar tenang. “Jadi begini ceritanya, kan kemaren gua jalan sama kak
Dion.” Baru Anya ingin bercerita tapi terpotong oleh teriakan pemimpin upacara.
“Hormaaaat
geraaaak!” Teriak Pemimpin upacara.”Tegak geraaaak!”
“Oh ya
gimana tuh jalannya kemaren sabtu, lancar Nya? haha” Tanya Jani sambil tertawa.
“Ya gitu
deh, tapi nih yang sureprisenya…” omonganAnya dipotong oleh Adam.
“Lo
ditembak?” Potong Adam.
“haha
cieee..” Karin menggoda Anya.
“Ih bukan,
udah deh lo pada diem dulu, gua mau cerita nih. Jadi gini kemaren pas gua sama
kak Dion jalan, ketemu sama kak Reza dan kak Cinta.” Anya bercerita.
“Ya ampun
kak Cinta yang ketua padus Nya?” Tanya Jani.
“Iya Jan.”
Jawab Anya dengan muka serius.
“Sssst ada
bu guru tuh.” Karin meningatkan teman-temannya.
“Jangan
pada ngobrol ya!” Ibu Guru mengingatkan anak-anak muridnya lalu pergi.
“Oh ya Nya,
pas ketemu kak Reza sama kak Cinta lagi apa?” Sekarang malah Karin yang
penasaran.
“Hmm
kemaren sih katanya kak Reza mereka beli cd gitu. Gua juga liat kak Cinta
megang plastik yang isinya cd.” Jawab Anya.
“Cd celana
dalem Nya?haha” Adam mulai bercanda.
“Apaan sih
Dam!” Anya memandang Adam sinis.
“Hihihihii.”
Jani, Malik dan Karin tertawa pelan.
**
Bel pulang
sekolah berbunyi, Karin, Jani, dan Anya berkumpul dengan anggota padus. Hari
ini akan diumumkan karakter suara mereka. Karin mendapat suara 3 yaitu bagian
suara tinggi. Sedangkan Anya dan Jani bagian suara 2 yaitu bagian suara sedang.
Semua anggota padus berbaris mengikuti pembagian suara.
Karin
memperhatikanpola tubuh Cinta dan Reza. Kedua orang ini memang terlihat dekat.
Apalagi Cinta yang tidak segan memegang bahu Reza yang sedang memainkan
keyboard. Entah kenapa Karin jelous dengan hal itu. Apa ini berarti Karin
menyukai Reza? Karinpun tidak tahu.
Disisi lain
Anya sedang berbahagia dengan Dion. Eskul padus membuat keduanya menjadi dekat
dan semakin dekat. Selesai padus Anya yang biasanya pulang bersama Jani dan
Karin, sekarang pulang bersama Dion. Jani dan Karin ikut senang dengan
kedekatan temannya ini. Semoga saja mereka bisa cepat jadian.
**
bagguss banggeett ceriitaanya :'')) hihih
BalasHapusmakasih
BalasHapus