2.2 Pengganti
“Tasya gak berangkat
nak?” tanya mama.
“Iya Ma bentar lagi
berangkat kok,” jawab Tasya.
“Kamu nunggu Dion ya
nak?” Mama mencoba menebak isi hati anaknya.
“Iya Ma kenapa?” Tasya
menjawab tebakan Mamanya ini.
“Gapapa udah coba
dibbm?” Tanya mama lagi.
“Udah aku ping sih ma
hmm ya udah aku berangkat sendiri aja deh,” jawab Tasya dengan muka bete.
“Ya udah kamu
hati-hati,” Mama berpesan kepada Tasya.
“Iya Ma berangkat ya,
assalamualaikum,” Tasya berpamitan dan mencium tangan Mama.
“Waalaikum salam.” Mama
menjawab salam Tasya
Dengan muka kesal
Tasya berjalan kaki keluar rumah. Sebenarnya malas sekali dia berjalan kaki dan
naik angkutan umum untuk sampai ke sekolah. Saat Tasya sedang menunggu angkutan
umum lagi-lagi secara kebetulan Adit lewat. Adit menawari Tasya untuk berangkat
bersama. Agar tidak terlambat Tasya
masuk ke dalam mobil Adit dan mereka berangkat bersama.
Adit dan Tasya sampai
mereka berjalan bersama sampai ke kelas. Kelas Adit diujung kelas Tasya.
Sebelum melewati kelas Adit dan Tasya, mereka harus melewati kelas anak
sebelas. tepatnya melewati kelas Dion. Tasya melihat ke dalam kelas Dion, Dion
sudah sampai dan sedang duduk disamping kekasih barunya.
Dion melihat ke
jendela dan melihat ada Tasya lewat dengan seorang cowok. Tasya langsung buang
muka waktu melihat Dion menengok ke arahnya. Dion jadi bingung, apa salahnya
kepada Tasya. Dilihatnya bbmnya kepada Tasya. Belum dibaca juga. Lalu Dion
iseng mengping attack Tasya. Tapi tetap saja, Tasya tidak mau membaca bbm
darinya. Sepertinya Tasya marah.
Adit melihat muka
Tasya yang sepertinya kesal melihat sahabatnya tadi. Tiba-tiba Adit menaruh
tangannya dipundak Tasya.
Adit menepuk pundak
Tasya sambil berkata “Sabar ya Sya.”
Menoleh ke arah Adit
dengan muka sangat sinis dan berkata “Apaan sih Dit.”
Adit menyadari kalau
Tasya tidak suka dengan perkataannya “Lah kok lu jadi marah ke gua? Marahnya ke
Dion aja kali ngga usah ke gua!” ucapnya dengan nada nyolot.
“Maaf ya lagi kebawa
emosi nih!” ucap Tasya yang kemudian meminta maaf kepada Adit.
**
Pulang sekolah
Tasya berdiri di
balkon lantai 3 bangunan sekolahnya. Dari atas balkon ini terlihat parkiran
sekolah. Dan saat itu ia melihat Dion bergandengan tangan dengan Intan begitu
mesra. Entah kenapa dia menjadi kesal sendiri. Biasanya Dion menjemputnya ke
kelas dan menawarkannya pulang bersama.
Sejak ada Intan
dikehidupan Dion, Tasya merasa Intan merubah dunia mereka. Semenjak Dion
pedekate dengan Intan, Tasya merasa Dion mulai menjauh darinya. Mereka jarang ketemuan,
jarang jalan bareng juga. Pokoknya intensitas ketemuan mereka menjadi berkurang
deh.
“Dulu elo Sya yang selalu nempel sama Dion,
tapi baru beberapa hari si Intan jadian posisi lo udah kegeser.” Ucap seorang
cowok yang tiba-tiba sudah berada di samping Tasya.
“Ngga usah ikut campur
deh lo Dit,” ucap Tasya dengan nada kesal.
“Dari pada lo galau
mending ikut gue pulang, ya itu sih kalo lo mau?” Adit menawarkan tumpangan ke
Tasya.
Tasya berjalan
menuruni tangga, lalu Adit mengikutinya.
“Sya mau ke mana?”
Tanya Adit bingung dengan kelakuan temannya ini.
“Ke parkiran, katanya
mau nganterin gue pulang? Masih berlaku gak sih tawarannya?” jawab Tasya.
“Masihlah” ucap Adit
yang rada kesel sama cewek satu ini.
Mereka berjalan menuju
parkiran. Di parkiran Dion dan Intan terlihat sedang berkumpul dengan
teman-teman mereka, sepertinya mereka akan melakukan konvoi keluar sekolah.
Sedangkan Tasya dan Adit ke parkiran mobil, Adit menyalakan mobilnya lalu
memanasinya terlebih dahulu. Setelah 5 menit mesinnya dipanasi barulah mereka
jalan.
Di jalan, mobil mereka
terhenti karena lampu merah. Karena lampu merah cukup lama, mobil Adit bertemu
dengan konvoi motor yang dilakukan oleh teman-teman Dion dan Intan. Motor Dion
dan Intan berhenti tepat disebelah mobil Adit. Sayangnya tak berapa lama
kemudian lampu hijau, jadi masing-masing dari mereka tidak menyadari akan hal
itu.
**
Pagi ini Adit berjanji untuk menjemput Tasya. Adit dan Tasya berangkat
lebih pagi dari biasanya. Ini karena Adit ingin mengajak Tasya sarapan disuatu
tempat. Disisi lain Dion datang ke rumah Tasya untuk menjemputnya seperti
biasa. Tapi kata Mama, Tasya sudah
berangkat pagi-pagi sekali.
Adit mengajak Tasya untuk sarapan ditukang bubur di dekat sekolah mereka. Ini pertama kalinya Tasya
sarapan bubur disini. Buburnya enak sekali. Dan sangking asyiknya mereka makan
bubur, hampir saja mereka lupa pergi ke sekolah. Untung abang tukang bubur
mengingatkan mereka.
Di sekolah Dion menunggu Tasya di depan kelasnya. Kata Mamanya Tasya
sudah berangkat tetapi kenapa Tasya belum sampai juga. Lima menit lagi bel
masuk dan Tasya belum datang. Dion menerima bbm dari pacarnya yang menyuruhnya
segera ke kelas. Dionpun ke kelas untuk menemui pacarnya.
Adit dan Tasya berlarian ke kelas, beberapa menit lagi bel masuk. Betapa
rusuhnya mereka berlarian sampai Dion yang ada di dalam kelas bisa melihat
mereka. “Jadi Tasya berangkat sama Adit.” Ucap
Dion dalam hati.
**
Jam istirahat di koridor sekolah.
Tasya, Rere, dan Adit sedang berjalan di koridor sekolah sambil
bercanda. Dion yang sedang bermain di lapangan sekolah melihat sahabatnya
berjalan di koridor sekolah lalu menghampirinya.
“Sya,” panggil Dion.
Tasya terus berjalan tanpa menghiraukan Dion.
“Sya,” Dion menarik tangan Tasya.
“Lepasin!” Pinta Tasya yang tidak mau melihat muka Dion.
Dion masih memegang tangan Tasya dan membuat Adit geram.
“Lo denger gak broh kata dia lepasin!” Tiba-tiba Adit menjadi emosi.
“Eh lo diem aja, gue ngga ngomong sama lo,” Dion membalas Adit.
“Lo tuh cowo apaan sih, lepasin tangannya atau…” Adit mengancam Dion
dengan mengepalkan tangannya.
“Atau apa hah?” Dion menantang Adit dan melepaskan tangan Tasya.
“Mau lo apa?” Tanya Tasya yang sebenarnya sedang marah kepada sahabatnya
ini.
“Sya gue mau ngomong bentar,” ucap Dion dengan nada lirih.
“Ngomong aja,” Tasya menyuruh Dion berbicara.
“Tapi berdua doang gak ada mereka apalagi dia!” Dion menunjuk Adit.
“Kalo lo mau ngomong ya disini, kalo di tempat lain gue gak mau, gak ada
waktu juga,” ucap Tasya dengan nada ketus.
“Oke.. lo marah ya sama gue?” Tanya Dion.
“Menurut lo?” Jawab Tasya yang tak mau melihat mata Dion.
“Gue tau lo marah, kenapa sih Sya? Lo marah karena kemaren gue ngga
jemput lo, kan gue udah bbm lo bilang ga bisa jemput?” Tanya Dion yang membuat
Tasya menjadi kesal.
“Iya tapi bbm lo telat, udah sana urusin aja cewek lo!” Jawab Tasya yang
kesal.
“Eh Sya kok lo bawa-bawa Intan sih? Lo cemburu sama dia?” Dion menjadi
heran dengan Tasya.
Tasya yang semakin kesal menarik tangan Rere dan Adit, lalu meninggalkan
Dion sendirian di koridor. Setelah kejadian disekolah waktu itu. Tasya masih
bersikap diam dengan Dion. Dan setiap Dion menegurnya, Tasya hanya tersenyum
lalu berlalu meninggalkannya.
**
Malam ini Adit menelepon Tasya
dan menyuruhnya keluar rumah. Tasya agak terkejut karena begitu ia membuka
pintu rumah ada Adit.
“Assalamualaikum.” Sapa seorang cowok berkaos putih ini.
“Waalaikum salam. Ngapain lo ke sini?” jawab Tasya yang sangat sangat
terkejut dengan kedatangan Adit.
“Gua kan tadi bilang mau ngerjain pr biologi bareng lo.” Ucap Adit.
“Ya gue kira lo mau nyontek pas besok atau gimana gitu?pokoknya gak
dateng ke rumah gue?” ucap Tasya dengan nada kesal.
“Jadi lo gak suka nih? Ya udah deh gue pulang aja,” Adit berpura-pura
ingin pulang.
“Eh nggaaaa gitu, hmm lo ke sini naik apa? Ngga naik mobilkan?” Tasya
mencegahnya untuk pulang.
“Tuh liat aja,” Adit melemparkan padanganya ke sebuah sepeda fixie.
“Itu sepeda lo?” tanya Tasya yang tidak percaya dengan apa yang dia
lihat saat ini.
“Ngga itu sepeda pembantu gua haha,” ucap Adit sambil tertawa.
“Terserah lo deh haha yuk masuk,” Tasya menyuruh Adit untuk masuk ke
dalam rumah.
Mereka berdua masuk ke ruang tamu. Tasya mengambil buku biologinya di
kamar. Adit yang menunggu di ruang tamu lagi-lagi bertemu Mama Tasya. Mereka
sempat mengobrol sampai Tasya datang dan Mama pergi ke kamarnya.
**
Dion sampai di depan rumah Tasya. Dilihatnya ada sepeda terparkir
diteras rumah Tasya. Dion sedikit mengintip ke dalam rumah yang pintu rumahnya
terbuka ini. Samar-samar dari kejauhan dia melihat seorang cowok yang
dikenalinya sebagai Adit.
“Adit? Ngapain dia malem-malem ke
rumah Tasya?” Tanya Dion dalam hatinya. Dion melihat Tasya membawa minum untuk Adit lalu mereka bercanda. Dion
yang tadinya ingin menemui Tasya mengurungkan niatnya dan mengayuh sepedanya
untuk pulang ke rumah.
Dikamar Dion merenungi kejadian tadi. Untuk apa Adit datang ke rumah
Tasya malam-malam. Apakah Adit sedang menjalin hubungan dengan Tasya. Atau
mereka sudah pacaran? Timbul banyak pertanyaan dikepala Dion. Ia merasa
posisinya sedang digantikan oleh Adit.
Kenapa rasanya sakit saat meihat Tasya bersama Adit. Apakah ini artinya
Dion menyukai Tasya. Tapi bagaimana dengan Intan. Bukankah pacarnya sekarang
adalah Intan. Entahlah apa perasaan Dion saat ini. Hatinya seakan tak rela
melihat Tasya dengan seseorang yang lain. Ia ingin bisa tetap disamping Tasya
meskipun sekarang dia sudah mempunyai kekasih.
**
Tasya dan Adit mulai mengerjakan tugas mereka. Sambil bercanda Adit
mencoba masuk ke dalam hati Tasya. Dia
mencoba lebih mengenal temannya ini. Ternyata Tasya itu baik, sederhana, dan asik. Adit dan Tasya memang sudah berkenalan sejak
mereka SMP, tatapi mereka baru dekat saat sekarang ini.
“Sya.” Panggil Adit secara
tiba-tiba.
“Apa?” Jawab Tasya.
“Besok pagi mau berangkat bareng gak?” Tanya Adit dengan nada serius.
“Hmm boleh.” Jawab Tasya dengan senyuman termanis yang pernah Adit
lihat.
“Oh ya Mama lu mana, gue mau
pamit pulang nih.” Pinta Adit.
Adit berpamitan kepada Mama dan Papa Tasya lalu kemudian dia pulang.
**
Pagi hari yang cerah, Adit menjemput Tasya. Mereka berangkat bersama
hari ini. Saat melewati halte dekat rumah Tasya melihat Dion sendirian di
halte. Sebenarnya Tasya masih jengkel dengan kejadian beberapa hari yang lalu,
tapi dia terlalu kasihan melihat Dion. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul
06.20 kasihan kalau Dion sampai terlambat.
Tasya meminta Adit memberhentikan mobilnya. Tasya membuka kaca mobil dan
menawari Dion ikut bersama mereka. Tadinya Dion menolak, karena tidak enak
dengan kejadian beberapa hari kemarin. Tapi setelah dia pikir-pikir akhirnya
dia mau juga berangkat bersama Tasya dan Adit.
“Tumben Yon gak bawa motor?” Tanya Adit mengejek
“Motor gue lagi masuk bengkel,” Jawab Dion ketus.”Btw ada angin apa nih
lo mau nebengin gue sampe sekolah?” Tanya Dion.
“Jangan geer lo, gue kan baik hati ya Tas.” Jawab Adit dengan nada sok
manis, dalam hati dia berkata “ Ini
karena Tasya yang minta, kalo ngga gue juga ogah .”
“Udah deh kalian berdua tuh tiap ketemu ribut terus,” Tasya mencoba
melerai.
“Oh ya Sya lo udah ngga marah kan sama gue?” Tanya Dion mencoba
mencairkan suasana.
“Gue ngga marah sama elo Yon. Gue cuma kesel,” Jawab Tasya kali ini dengan
nada ketus.
“Kita udah sampe yuk turun.” Adit mematikan mesin mobilnya.
Mereka bertiga turun.
Dion mengucapkan terima kasih kepada kedua anak ini. Lalu Dion mengikuti Tasya
dan Adit dari belakang. Karena kedua orang ini merasa diikuti mereka berdua bertingkah
sok mesra agar Dion mengira mereka sudah berpacaran. Dan benar saja Dion
jengkel melihat hal itu dan mengira kalau Tasya dan Adit punya hubungan khusus.

Komentar
Posting Komentar