1.7 Pengakuan

 Sore ini Anya, Jani  dan Karin akan latihan padus. Ini latihan perdana mereka. Cinta selaku ketua padus sudah bersiap di depan teman-teman. Cinta dibantu beberapa anggota padus membagi anggota padus menjadi beberapa kelompok kecil. Cinta mengaudisi para anggota padus untuk mengetahui karakter suara mereka.
Anya, Jani dan Karin mereka bertiga tidak ada yang sekelompok. Kelompok padusbenar-benar dipencar. Semua anggota padus mendaptkan lagu yang sama hanya bedanya mereka harus membuat lagu itu terlihat berbeda. Selain itu setiap anggota kelompok dites satu persatu suaranya. Para anggota diberi kesempatan untuk berlatih selama 15 menit. Anya mendapatkan kelompok kedua. Siap tidak siap kelompoknya harus maju. Anya bernyanyi agak gugup tapi dia mencoba menikmati nyanyiannya. Karin mendapat kelompok ketiga. Dan Jani mendapat giliran tampil paling akhir.
Saat kelompok Karin maju, dia melihat disitu ada kak Reza. Rupanya Reza menjadi salah satu juri.Reza mulai terpesona dengan Karin. Entah kenapa ada sesuatu dari diri Karin yang ia sukai.  Kelompok Karin mulai bernyanyi. Kebetulan Karin mendapat kelompok yang asik dan penampilan mereka sangat memukau. Sedangkan Jani yang adalah kelompok terakhir juga memberikan penampilan yang memukau para juri padus ini.
Saat audisi berlangsung ada beberapa anggota ada yang senang karena penampilannya bagus. Dan ada yang sedih karena penampilannya kurang maksimal.Kurang lebih dua  jam Cinta mengaudisi suara para anggota padus. Setelah selesai audisi Cinta memperbolehkan anggota padus untuk pulang. Dan pengumuman pembagian karakter suara akan diumumkan pada pertemuan  padus berikutnya.
Setelah selesai audisi padus mereka pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa mereka bertiga pulang bersama-sama. Karin berjalan dibelakang Anya dan Jani. Anya dan Jani menoleh ke belakang dan menggoda Karin.
“Kar lo lagi mikirin apa deh?” Tanya Anya yang kepo.
“Tau Kar serius banget kayanya? Hmm jangan-jangan mikirin Malik ya?” Jani menggoda Karin.
“Ish apaan sih kalian berdua? Kepo deh!” Karin memjawab semua pertanyaan sahabatnya itu.
“Hmm Kar lo sama Malik tuh udah jadian belom sih?” Tanya Anya yang lagi-lagi kepo sama hubungan Malik dan Karin.
“Tau Kar, kalian udah jadian ya? Kok gak bilang-bilang sih?” Jani menambahkan.
“Kalian apaan sih? Gua sama Malik cuma temen kok. Eh udah ada angkot naek yuk!” Jawab Karin dan mereka bertiga menaiki angkot.
“Hmm terus Malik beloman nembak lo gitu?” Anya mencoba mengorek informasi.
“Ya belomlah Nya.” Jawab Karin.
“Tapi kalo misalnya ditembak emang lo mau terima Kar?” Jani bertanya dengan muka sangat serius.
“Hmm ngga tau deh.” Karin menjawab dengan nada sedih.
“Eh Kar tapi lo suka gak sama Malik?” Pertanyaan yang bikin Karin speechless.
“Hmm soal itu gua gak tau Nya?” Lagi-lagi Karin menjawab dengan nada sedih.
“Kok lo malah sedih gitu sih Kar?” Tanya Jani yang melihat raut kesedihan di muka sahabatnya ini.
“Iya Kar lo cerita dong sama kita?” Ucap Anya dengan sedih juga.
“Hmm gua gak tau suka apa ngga ke Malik. Yang jelas sih gua gak mau ngerusak pertemanan kita berlima.” Karin mulai bercerita.
“Kenapa harus ngerusak sih Kar?” Tanya Jani.
“Soalnya kalo nanti gua sama dia jadian kan kalo putus nanti kita balakan canggung Jan. gua takut nanti pertemanan kita berlima malah jadi renggang dan rusak.” Karin berucap dengan raut dan nada kesedihan.
“Ngga kok Kar lo tenang aja ya.” Jani mencoba menenangkan Karin.
“Iya Kar, tapi lo suka gak sih sama Malik? Secara ya dia kan lumayan ganteng, pinter, terus banyak yang suka lagi, dan satu hal lagi…. Dia perhatian tuh sama lo dibanding ke cewek lain?” Anya mencoba  membuat Karin untuk memceritakan perasaannya.
“Kalo soal itu gua gak mau munafik Nya, mungkin ya gua suka dengan semua perhatian yang dia berikan. Tapi gua ….” Jawab Karin yang tiba-tiba berhenti berbicara.
“Tapi kenapa Kar?” Tanya Jani dan Anya bersamaan.
“Tapi gua mau kita tetep temenan aja.” Lanjut Karin.
“Yah gak seru nih!” Anya rada geregetan sama jawaban Karin.
“Tau nih Karin gak asyiiiik.” Jani ikutan geregetan.
Udahlah ya, lagian gua juga gak yakin sama perasaan Malik ke gua guys”  Karin berucap dalam hatinya. “Hmm ya udah sih guys biar waktu aja yang nanti menjawab semuanya, oke?” Karin menjawab dengan senyum.
**
Siang ini Karin ke perpustakaan, dia ingin meminjam buku matematika. Karin mencari dengan teliti buku yang dia mau. Tak butuh waktu lama untuk Karin menemukan buku itu. Setelah menemukannya Karin bergegas ke penjaga perpustakaan untuk meminjamnya.
Dari arah luar, Aji berjalan melewati perpustakaan. Di kaca luar dia melihat ada Karin dimeja penjaga perpustakaan. Sepertinya Karin ingin meminjam buku. Aji  mempercepat langkahnya dan masuk ke perpustakaan. Sampailah dia di dekat Karin. Lalu ia menyapa pujaan hatinya ini.
“Karin” Sapa Aji dengan senyuman.
“(Menoleh ke samping) Iyaaa” Jawab Karin dengan tersenyum.
“Lagi apa?” Tanya Aji berbasa-basi.
“Hmm minjem bukulah kak?” Jawab Karin yang sebenarnya malas sekali menjawab pertanyaan itu.
“Oh hehe kirain gitu Karin disini mau makan?” Aji mencoba melawak.
“Hehe” Karin hanya tersenyum meringgis karena lawakannya garing abis buat dia.
“Sudah nih neng.” Penjaga perpustakaan memberikan buku serta kartu perpustakaan milik Karin.
“Makasih Mas.” Karin mengambil buku dan kartu perpustakaannya kemudian menoleh ke arah Aji dan berpamitan. “Kak, Karin duluan ya?”
“Oh iya Kar, hati-hati ya.” Ucap Aji yang sebenarnya masih mau ngorbol sama Karin.
Karin berjalan keluar perpustakaan. Rasanya lega sekali sudah tidak bertemu dengan Aji. Karin berjalan sambil berfikir tentang Aji. Dia menyadari kalau Aji suka dengannya. Tapi yang tidak Karin habis fikir adalah kenapa Aji bisa suka dengannya. Apa yang menarik darinya? Padahal setiap Aji sms pun selalu Karin cuekin alias gak pernah Karin balas.
Dari kejauhan seorang cowok memperhatikan seorang cewek yang dia kenal sedang berjalan ke arahnya. Tapi sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Dengan keisengannya dia mengagetkan cewek itu.
“Hoooi!” Terak cowok tadi tepat ditelinga cewek ini.
“Astagfirullohhal adzim.” Ucap cewek ini sambil memegang telinganya.
“Halo Karin.” Cowok yang tadi teriak senyum-senyum lalu dia berdiri di depan Karin.
“Apa?” Ucap Karin dengan nada kesal bin jengkel .
“Ya ampun galak amat sih?” Cowok ini masih tersenyum.
“Raka please minggir gua mau lewat!” Karin berusaha sopan dan mengontrol emosinya.
“Makanya kalo jalan jangan sambil melamun. Apa sih yang dilamunin?” Tanya cowok iseng itu yang adalah Raka.
Karena Karin kesal dengan Raka yang bertanya begitu dan dirinya masih berdiri di depan hadapan Karin, Karin memutuskan untuk berjalan kembali dan tanpa menjawab pertanyaan Raka. Karin malas mencari masalah dengan Raka. Dia tidak ingin terbawa emosi.
**
Jum’at sore di rumah Adam. Kamar Adam tertutup rapat, seakan tidak ada orang didalamnya. Padahal di dalam sana ada Adam dan Malik yang sedang bermain ps. Selesai solat Jum’at kedua anak ini kerumah Adam dan bermain ps. Sudah hampir 3 jam mereka bermain. Adam mulai lelah dan dia meminta Malik untuk beristirahat. Dan Malik yang juga cape menghentikan permaninannya.
“Lik cape nih istirahat dulu yuk!” Ajak Adam.
“Cups nih haha tapi gua juga cape sih.” Malik menerima ajakan Adam.
“Lik.” Ucap Adam sambil tiduran ke karpet.
“Apa?” Malik juga ikutan tiduran karpet Adam yang nyaman.
“Lo sama Karin gimana tuh? Kok gak ada kelanjutannya?” Tanya Adam.
“(Menoleh ke arah Adam) Maksud lo?” Malik tidak mengerti dengan pertanyaan Adam.
“Ya lo suka gak sama Karin?” Tanya Adam.
“Hmm gue gak tau Dam?” Jawab Malik dengan nada bingung.
“Kok gak tau sih? Terus perhatian lo ke dia selama ini apa artinya?” Nada suara Adam mulai ikutan bingung.
“ Sebenernya ya gua suka sama Karin, tapi……” Belum selesai Malik berbicara Adam memotongnya.
“Tapi apa?” Adam memotong omongan Malik.
“Tunggu apa gua belom selesai ngomong. Jadi gua emang suka sama Karin tapi gua gak berniat untuk menjadikan dia pacar gua Dam!” Malik menyelesaikan omongannya.
“Kenapa lo bisa suka sama dia tapi gak mau ngejadiin dia pacar?” Adam mempertanyakan jawaban dari Malik.
“Soalnya Karin tuh terlalu baik buat gua Dam.” Jawab Malik dengan muka memelas.
“Terlalu baik?” Adam makin gak ngerti sama maksud maksud Malik.
“Ya Dam, dia terlalu baik untuk gua jadikan seorang pacar.” Malik menambahkan.
“Hmm tapi lo suka kan sama dia?” Tanya Adam.
“Suka sih, siapa sih yang gak suka sama cewek seperti Karin. Dia baik, pinter, juga cantik. Dan satu lagi.” Malik memotong omongannya dan membua Adam penasaran.
“Apa?” Tanya Adam penasaran.
“Apa ya?” Jawab Malik dengan tersenyum yang membuat Adam makin penasaran.
“Cepetan nyeeet! Gua penasaran nih!” Ucap Adam yang udah mengeluarkan kata-kata yang ngga enak didenger.
“Dia beda aja Dam dari cewek kebanyakan.” Malik melanjutkan perkataannya.
“Beda apanya? Perasaan Karin masuk cewek standar ah buat tipe gua.” Tanya Adam yang adalah playboy abis. Buat Adam Karin adalah tipe cewek standar alias ya dia kaya cewek kebanyakan, hmm nothing special gitu.
“Beda aja dia gitu dari cewek kebanyakan Dam.” Jawab Malik yang ingin menjelaskan kepada Adam tapi takut Adam ngga ngerti. “Ah udah ganti topik aja deh!” Malik kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Adam tersebut.
“Oh ya lu sama Susan gimana tuh? Dia masih ngejar-ngejar elo ngga?” Adam memulai percakapan baru.
“Kok nanyanya seputar gua lagi sih?” Ucap Malik dengan nada memelas.
“Ya abisnya adanya itu doang, gimana? Udah jawab aja!” Adam memaksa Malik.
“Sejak kejadian dikantin sih.. Susan udah ngga pernah ganggu gua. Nah ini yang ngebuat Karin berbeda dimata gua Dam.” Jawab Malik dengan muka berseri-seri.
“Bedanya apa?” Tanya Adam yang masih gak ngerti maksud dari sahabatnya ini.
“Lo liat gak ekspresi dan reaksi Karin waktu dia dilabrak sama Susan?” Malik mencoba memancing Adam untuk menjawab pertanyaannya.
“Karin cuma diem kan?” Jawab Adam.
“Yup, dan setelah kejadian itu, gua makin merasa bersalah sama Karin.” Malik mulai pasang tampang memelas.
“Kenapa merasa bersalah lik?” Tanya Adam.
“Soalnya gara-gara gua, dia jadi kena labrak. Padahalkan dia bukan pacar gua!” jawab Malik masih dengan muka memelas.
“Makanya lo cepet-cepet jadiin diapacarlah.” Adam memberikan saran.
“Ngga bisa Dam.” Ucap Malik.
“Kenapa?” Tanya Adam yang melihat keraguan dimuka Malik.  “Apa lo hanya menjadikan Karin sebagai perisai pelindung untuk lo?” Adam mencoba menebak.
Suasana saat itu menjadi hening. Malik terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Malik seperti dipojokkan oleh Adam. Malik tidak membenarkan atau menyalahkan pernyataan atau tebakan dari Adam. Dirinya menyadari kalo memang benar dia menjadikan Karin sebagai perisai pelindungnya dari para fans yang selalu menggangunya. Tapi disisi lain Malik tidak bermaksud untuk menyakiti hati Karin.
Setelah sesi curhatan itu Malik jadi berfikir. Apakah dengan terus dekat dengan Karin ia akan semakin menyakiti Karin. Terkadang Malik berfikir kalau sebenarnya Karin mengetahui kalau dirinya tidak benar-benar menyukai Karin. Dan mungkin sebenarnya Karin menyadari kalau Malik hanya menjadikannya sebagai pertahanan dari cewek-cewek yang menyukainya. Tapi yang Malik salut dari Karin adalah mungkin Karin menyadari semua itu dan dia tidak pernah marah kepada Malik.
Itulah yang membuat Malik tidak ingin menjadikan Karin sebagai kekasihnya. Karena Karin terlalu baik dan Malik berharap agar Karin bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya. Jadi Malik berfikir lebih nyaman dan lebih baik kalau mereka hanya berteman dan menjadi sahabat. Semoga saja Karin tidak memiliki perasaan lebih dengannya.
**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru