1.6 Mendapat murid baru


Setelah Vino pindah ke Luar negeri tepatnya ke Amerika, Karin sudah tidak mengajar lagi. Rasanya sedih karena kelihalangan pekerjaan. Tapi ada baiknya juga karena Karin bisa mengisi waktu luangnya dengan belajar dan membaca buku-buku d rumah atau perpustakaan.
Handphone Karin bergetar tanda ada sms. Karin membaca sms tersebut. Dani meng-smsnya. Selain Dani juga ada kak Aji yang meng-smsnya. Karin menjawab sms Dani dan tidak menghiraukan sms dari kak Aji. Dani menginginkan Karin untuk menjadi guru privatnya. Tadinya Karin ingin menolak. Tapi Dani bersungguh-bersungguh. Apalagi sekarang dia sudah kelas  6 dan membutuhkan guru pembimbing untuk membantunya belajar. Alhasil Karin tidak bisa menolak lagi. Dia menerima tawaran dari Dani. Mulai sabtu ini Karin akan mulai mengajar Dani di rumahnya.
Sabtu siang yang cerah, Karin mendatangi rumah Dani. Rumah Dani cukup besar meskipun tidak sebesar rumah Vino. Mama Dani berbincang sebentar dengan Karin lalu mengantarnya ke sebuah ruangan di dekat ruang tamu. Disana Dani sudah bersiap dengan buku-buku pelajarannya.
Hari ini Karin mengajarkan Dani matematika dan Bahasa Inggris. Sekitar 2 jam berlalu. Selesai juga Karin mengajar. Mama Dani menahan Karin pulang dan mengajaknya mengobrol. Disitu juga ada papa Dani. Mereka semua mengobrol dengan asik. Mama dan papa Dani lebih banyak bertanya tentang keluarga Karin dan sekolah Karin. Ternyata Karin satu sekolah dengan kakaknya Dani yaitu Raka.
Saat sedang mengobrol Raka turun dari lantai atas. Bajunya sangat rapi dan dia sangatlah harum. Papa yang melihat Raka turun memanggilnya untuk ikut berbincang-bincang.
“Nah itu dia Raka anak kami.” Ucap papa ketika melihat Raka menuruni tangga. “Raka sini nak.” Ajak papa.
“Kenapa pa?” Tanya Raka yag baru turun dari tangga.
“Kenalkan ini Raka anak kami. Dia yang kami bilang satu sekolah sama kamu.” Ucap mama sambil memperkenalkan Raka kepada Karin.
“Raka.” Raka mengulurkan tangannya.
“Karin.” Karin membalas uluran tangan Raka.
“Ma, Pa, Raka sekalian pamit ya mau pergi.” Raka berpamitan sambil mencium tangan papa.
“Ka kamu sekalian anterin Karin pulang ya? Kasihan tuh diluar udah mau mendung.” Pinta mama kepada Raka yang hendak mencium tangan mama.
“Tapi ma…” Ucap Raka seakan keberatan.
“Raka!” Mama memanggil nama Raka dengan lembut yang artinya dia tidak boleh membantah.
“Oke.” Raka berucap dengan pasrah. “Yuk Karin, ikut gua.”
“Om tante Karin pamit pulang ya?” Karin berpamitan kepada papa, mama, dan Dani.
“Iya hati-hati ya Kar.” Ucap mama dengan penuh perhatian.
“Kamu jangan ngebut-ngebut ya Ka.” Papa mengingatkan anaknya ini.
Raka hanya mengangguk dan berjalan ke luar rumah. Memang langit saat itu sangatlah mendung. Raka menyalakan motornya. Sebelum berangkat Raka memanaskan motornya terlebih dahulu. Setelah motor selesai dipanaskan dia mengantar Karin pulang.
“Rumah lo dimana?” Tanya Raka kepada Karin.
“Di komplek perumahan indah asri.” Jawab Karin singkat.
“Oh. Hmmm maaf ya waktu itu gua nabrak lo pas lagi turun tangga.” Raka meminta maaf.
“Hmm lo orang yang nabrak gua waktu itu?” Karin malah bertanya.
“Iya emang lo gak tau?” Jawab Raka.
“(menggeleng)”
“Ya udah deh lupakan aja. Oh ya, Kenapa lo gak minta jemput aja sama pacar lo?” Tanya Raka.
“Pacar?” Karin malah bingung.
“Iya pacar lo? Lo cewek yang waktu itu dilabrak di kantinkan?” Tanya Raka lagi.
“Iya kenapa?” Jawab Karin yang malas dengan pertanyaan ini.
“Kalian berebut cowok kan? Dan dari gossip yang gua denger kalian emang udah pacaran?” Raka nyerocos terus.
“Lo dapet gossip dari mana?” Tanya Karin yang geram sama gossip ini.
“Satu sekolah juga udah tau kali, bukan cuma gua aja.” Jawab Raka. “Oh ya rumah lo yang mana nih?” Tanya Raka.
“lo lurus aja terus ada rumah yang pagernya item itu rumah gua.” Jawab Karin.
“Helooooo disini pagernya item semua.” Ucap Raka yang melihat rata-rata pagar di komplek itu berwarna hitam.
“Berhenti.” Karin memberikan intruksi.
“(Raka memberhentikan motornya) Lo kenapa?” Tanya Raka yang kaget.
“Udah sampe, makasih ya Raka.” Ucap Karin yang langsung masuk ke rumah tanpa menyuruh Raka berbasa-basi untuk masuk ke rumahnya.
“Ih itu cewek gak ada basa-basinya banget sih! Suruh gua masuk gitu ke dalem. Ini mah cuma dikasih ucapan terima kasih!hemmmm gak gua anter pulang lagi lu!” Raka ngedumel dalam hati sambil memutar balikan motor Kawasaki ninjanya.
**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin