2.6 Perkelahian
Di Sekolah, Adit dan teman-temannya sedang
makan sambil bercanda-canda di kantin. Di kejauhan Dion, Intan dan
teman-temannya berjalan ke arah kantin. Dion, Intan serta teman-teman Intan
duduk dan memesan makanan. Dion melihat Adit bersama teman-temannya.
Akhir-akhir ini Dion selalu melihat Adit, tapi
tanpa ada Tasya di sampingnya. Sudah beberapa hari ini (sejak Dion melihat Adit
bermain sepak bola di lapangan tanpa Tasya) dia tidak melihat Tasya. kemana
anak itu. Padahal mereka satu sekolah. Harusnya mereka bisa saling bertemu atau
setidaknya Dion bisa melihat kehadiran Tasya.
Bel masuk berbunyi semua siswa siswi
berhamburan masuk kelas dan meneruskan pelajaran yang tertunda akibat bel
istirahat tadi. Setelah jam pelajaran usai semuanya kembali berhamburan ke luar
kelas untuk pulang. Dipinggir lapangan, Adit sudah berganti baju dan memegang
bola. Setiap hari kamis dia selalu ikut latihan futsal. Dion yang masih berada
di sekolah menghampiri Adit.
“Dit,” panggilnya.
Adit menoleh kebelakang, “Iya,” jawabnya.
Dion berdiri di depan Adit.
“Mau ngapain lo?” tanya Adit dengan nada
menantang.
“Gue cuma mau nanya aja,” jawab Dion dengan
muka kesal.
“Tanya apa?” ucap Adit dengan nada malas.
“Tasya kemana?kok udah beberapa hari ini dia ngga
masuk?” tanya Dion.
“Lo ngga tau kalo dia kecelakaan?” jawab Adit
yang tersenyum sinis seakan meledek Dion.
“Kecelakaan? Dia kecelakaan apa?” tanya Dion
dengan raut wajah tak percaya.
“Dia ditabrak motor,” jawab Adit dengan wajah
sangat malas.
“Kok bisa? Kemana lo waktu itu? Lo gak jagain
dia?” tanya Dion yang mulai memuncak kemarahannya.
“Gue lagi gak sama dia, lagian lo ngaca dong!lo
tuh sahabat macam apa?masa sahabatnya sendiri kecelakaan lo gak tahu?” ucapan
dari Adit ini membuat Dion tersulut emosinya.
“Eh lo kalo ngomong ati-ati ya!gue bisa jaga
Tasya lebih dari lo!” Dion berkata dengan nada mengancam.
“Terus mau lo apa?ribut aje deh kita?” tantang
Adit yang membuang bola yang sedari tadi dipegangnya.
“Kurang ajar lo Dit!” Dion memukul bagian wajah
Adit.
Adit tidak terima lalu dia memukul bagian perut
Dion. Mereka berdua berkelahi. Teman-teman yang melihat kejadian itu langsung
memisahkan mereka. Intan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat ada
kerumunan orang-orang. Dia berlari melihat kerumunan itu.
“Dion,” ucapnya ketika melihat kekasihnya
meringgis kesakitan dan memegang bagian perutnya. “Kamu gapapa sayang?” Intan memeluk
pacarnya.
“Gapapa,” ucap Dion agar Intan tidak khawatir
dengan kondisinya.
“Kamu kenapa berantem?” tanya Intan sambil
memegangg wajah kekasih hatinya ini.
“Ngga apa-apa pulang yuk,” ajak Dion sambil
mengambil tasnya yang terjatuh dilantai dan menarik tangan Intan untuk ikut
bersamanya.
Dion dan Intan ke parkiran motor. Intan terus
bertanya apa yang menyebabkan Dion berkelahi dengan Adit. Tapi Dion hanya diam
dan terus menuntun Intan ke parkiran.
Intan menghentikan langkahnya dan berkata “Apa Tasya
yang ngebuat kalian berantem?” kalimat ini sontak membuat Dion menghentikan
langkahnya. “Kenapa kamu berhenti? Berarti aku bener ya?” pertanyaan itu seakan
membuat Dion bingung untuk berkata-kata.
“Kamu ngga perlu tahu, ini urusan cowok!” jawab
Dion dengan dingin. Sebenarnya Dion bingung harus menjawab apa. Dia sedang
menahan rasa sakit akibat perkelahiannya dengan Adit tadi dan Intan membuatnya
tambah sakit karena dari tadi dia terus bertanya-tanya.
“Urusan cowok?hah?kamu bohong!” ucap Intan
kesal.
“Terserah kamu!udah cepet naik aku mau anter
kamu pulang,” Dion menghidupkan motornya dan Intanpun naik.
Dimotor kedua pasangan ini berdiam-diaman. Intan
sampai di depan rumahnya dan mereka masih berdiam-diaman. Intan turun lalu
langsung masuk ke dalam. Dion juga tidak menghiraukan hal itu. Dia masih
menahan rasa sakit karena perkelahian tadi. Dia ingin segera sampai ke rumah
dan beristirahat.
**
Hari ini Tasya sudah siap untuk kembali ke
sekolah. Meskipun kondisinya belum pulih betul, tapi dia sudah merasa jauh
lebih baik dari hari sebelumnya. Kak Panji yang akan mengantarnya ke sekolah
hari ini, sekalian dia pamit akan kembali lagi ke Bandung.
Di Sekolah, Adit menunggu Tasya di parkiran
mobil. Tak lama datang mobil BMW silver. Seorang cewek berseragam yang
mengenakan kardingan biru dan seorang cowok bertumbuh tinggi turun dari mobil itu. Adit menyambut cewek itu
dengan senyuman.
“Makasih ya mas Panji udah nganter aku ke
sekolah,” ucap Tasya keapda kakak laki-lakinya ini.
“Iya sama sama,” balas Panji dengan kecupan
mesra dikening adiknya ini.
“Oh ya mas kenalin ini Adit,” Tasya
memperkenalkan Adit kepada mas Panji.
“Adit,” Adit berjabatan tangan dengan mas
Panji.
“Panji, tolong jaga Tasya ya Dit,” ucap Panji sambil menepuk
pundak pemuda ini.
“Aku sama Adit masuk ke kelas dulu ya mas,”
Tasya berpamitan dan mencium tangan kakaknya.
Adit dan Tasya berjalan menelusuri koridor sekolah.
Dan Pandi masuk ke dalam mobilnya. Terlihat
dari kejauhan mobil kak Panji melaju keluar gerbang. Tasya tersenyum kepada
Adit sambil memandangi wajah temannya ini. Tasya melihat ada lebam dibawah mata
Adit.
“Dit?” panggil Tasya.
“Apa?” jawabnya.
“Elo abis berantem ya?” Tanya Tasya yang hendak
memegang wajah Adit tapi dia menepisnya.
“Ah ngga kok, ini cuma kena bola kemaren pas
lagi latihan,” Adit memegang tangan Tasya mencoba memegang luka lebamnya lalu
Adit tersenyum, “Muka lo ngga usah sedih gitu Sya,” ejeknya.
“Tapi Dit, itu bukan kaya kena bola?” Tasya
tahu Adit berbohong padanya tapi dia tidak tahu apa yang penyebab luka
lebamnya.
“Udah ngga usah dipkirin, yuk ke kelas udah mau
masuk nih,” Adit melanjutkan jalannya dan Tasya mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kelas Tasya duduk ke bangkunya
dan mengobrol dengan Rere.
“Hai Tasya kamu kemana aja?kangen tau sama kamu
Sya,” ucap Rere yang sangat senang dengan kehadiran Tasya.
“Hallo Rere, iya aku juga kangen banget sama
Rere,” Tasya sangat senang karena bisa bertemu teman sebangku yang selalu rame
ini.
“Oh ya Sya kok kamu udah masuk sih?emang kamu
udah sembuh?” tanya Rere yang sempat
menjengguk Tasya.
“Alhamdulillah udah kok Re, oh ya Re nanti
bantuin aku ya,” jawab Tasya.
“Bantu apa Sya?” tanya Rere yang tidak mengerti
dengan maksud Tasya.
“Bantuin pas pelajaran, kan aku udah ketinggalan banyak
pelajaran karena kemarenan gak masuk,” Tasya menjelaskan maksudnya.
“Oh itu mah pasti Sya tenang aja,” ucap Rere
yang sudah mengerti maksud dari temannya. “Oh ya Sya kamu harus tau gossip
terbaru!” tiba-tiba Rere membuat Tasya penasaran.
“Hah?gosip apaan Re?” tanya Tasya yang
penasaran sama ucapan Rere.
“Gosip tentang si Adit. Katanya kemaren si Adit
sama Dion berantem!” jawab Rere.
“Jadi
kemaren Adit berantem dan berantemnya sama Dion,” Tasya
berkata dalam hatinya. “Kenapa mereka berantem?” tanya Tasya yang mencoba
santai mendengar berita itu.
“Kurang tau sih, tapi katanya cuma masalah
sepele aja, hmm tapi ada yang bilang mereka ngerebutin
Intan, terus juga ada yang bilang mereka ngeributin kamu Sya?hmm aku kurang tau deh mana yang bener?” ucap Rere panjang lebar.
Intan, terus juga ada yang bilang mereka ngeributin kamu Sya?hmm aku kurang tau deh mana yang bener?” ucap Rere panjang lebar.
Teeeet…. Teeeet bel masuk berbunyi semua siswa
siswi memulai pelajaran. Tasya masih kepikiran dengan cerita Rere yang tadi.
Apa betul kedua temannya itu berkelahi. Tapi apa penyebabnya. Dan kenapa Adit
berbohong kepadanya tadi.
**
Di kantin saat waktu istirahat
Tasya dan Rere sedang makan bersama teman-teman
mereka. Dion dan Intan lewat di depan meja Tasya. Dion sempat menatap mata
Tasya, Tasya yang merasa ditatap Dion membuang pandangannya agar mereka tidak
saling bertatapan. Dion melihat ada hansaplas dikening Tasya. Sepertinya
kecelakaan kemaren membuat kepalanya terluka.
Dion memperhatikan kondisi Tasya. sepertinya
dia masih terlihat lemas. Apalagi Tasya memakai kardigan, tidak biasanya Tasya
memakai itu kecuali kalau dirinya benar-benar sedang sakit. Tidak seperti Intan
yang selalu mengenakan kardigan walaupun dia sehat. Dion tersadar bahwa dirinya masih sangat
terbayang-bayang oleh Tasya. Dia hafal semua kebiasaan Tasya dibandingkan
dengan kebiasaan Intan. Maklumlah dia dan Tasya sudah lama bersahabat.
Intan menoleh ke Dion yang dari tadi hanya
duduk diam disampingnya. “Dion kok dari tadi diem aja sih?” tanya Intan.
Tersadar dari lamunannya, “Oh gapapa Tan, kamu
mau pesen apa?” tanya Dion yang mengalihkan pertanyaan pacarnya ini.
“Aku udah pesen mie ayam, kamu mau pesen
apa?dari tadi aku perhatiin kamu diem aja kenapa? Perut kamu yang kemarin masih
sakit?” tanya Intan dengan begitu perhatiannya.
“Ngga kok sayang,” Dion membelai rambut Intan.
“Aku mau kesana dulu ya pesen makanan,” ucap Dion yang tersenyum lalu dia
beranjak pergi untuk memesan makanan.
Disisi lain Tasya ke tempat Ibu yang menjual
soto. Tasya tidak sadar kalau ada Dion juga ada disitu. Tasya mengambil uang dan hendak membayar. Tapi saat dia melihat
Dion, wajahnya berubah menjadi malas. Sedangkan Dion tersenyum melihat Tasya
dan ingin menyapanya.
“Hai Tas?” sapa Dion dengan senyum.
“Hai,” balas Tasya dengan malas, “Ibu ini
uangnya,” Tasya memberikan uang kepada Ibu Tiwi penjual soto.
“Tadi pake nasi gak neng?” tanya Ibu Tiwi.
“Pake bu,” jawab Tasya.
“Ini
kembalinya ya neng, makasih neng,” ucap Bu Tiwi sambil memberikan uang
kembalian.
“Sama sama,” Tasya mengambil uang kembaliannya
dan bergegas pergi.
Padahal tadi
Dion mau mengobrol dan menanyakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Tasya.
Tetapi lagi-lagi Tasya seakan menghindar dari dirinya. Dion agak heran dengan
sahabatnya ini. Dion merasa Tasya berubah setelah dia dan Intan jadian. Tasya
seakan menjaga jarak bahkan menjauh dari dirinya.
Intan melihat Dion dan Tasya di tempat penjual
soto. Dion terlihat memandangi Tasya. Intan cemburu melihat hal itu. Dion
sangat fokus memandangi Tasya, bahkan dia tidak berkedip sama sekali. Intan
merasa iri. Ini hal yang selalu Intan takutkan. Dia takut tersaingi oleh Tasya.
Tapi setelah Intan melihat ekspesi Tasya yang cuek kepada Dion, ia sedikit
lega. Karena setidaknya anak itu menuruti peringatannya waktu itu.
**
Bel pulang sekolah, semua siswa-siswi SMA
Global berhamburan keluar kelas. Tasya berjalan keluar kelas bersama Rere. Adit
sudah menunggu Tasya diluar kelas. Seperti biasa mereka akan pulang bersama.
Adit melewati parkiran mobil. Tasya mengikuti Adit dan agak heran kenapa Adit
malah berjalan ke parkiran motor. Adit mengeluarkan kunci dan menyalakan motor
Kawasaki ninja berwarna putih.
“Nih helmnya Sya, yuk naik,” ajak Adit yang
membuat Tasya terheran-heran.
“Kita naik ini?” tanya Tasya yang agak syok.
“Iya, udah buruan naik,” suruh Adit yang
menggas motornya.
“Oh oke,” jawab Tasya yang kemudian memakai
helm dan naik ke atas motor.
Motor mereka melaju melewati jalan raya. Adit
memacu motornya dengan perlahan. Udara sejuk sore hari ini terasa sekali.
Biasanya Tasya hanya merasa udara sejuk yang keluar dai ac mobil Adit. Ternyata
udara sejuk sore hari lebih segar dari udara ac mobilnya Adit. Seketika Tasya
teringat dengan sahabatnya. Dahulu sekali,Dion yang selalu memboncengnya.
Sekarang semua itu sudah tidak ada, sudah berubah dan hanya ada Adit sekarang.
“Dit, kok ganti jadi motor? Emang mobilnya
kemana?” tanya Tasya.
“Gapapa, mobilnya ada dirumah kok haha, “ jawab
Adit sambil tertawa.
“Gue seriusan Dit?” tanya Tasya yang
meninggikan nada suaranya agar terlihat serius.
“Biar elo bisa meluk gue Sya haha,” jawab Adit
dengan bercanda dan tertawa.
“Hah,” jawab Tasya dengan malas. “Oh ya kemaren
lo berantem ya sama Dion?” tanya Tasya lagi yang kali ini membuat Adit
mempercepat laju motornya dan membuat Tasya berpegangan lebih kencang. “Adit
please jangan ngebut-ngebut,” ucap Tasya sambil menyubit perut Adit.
“Aduh sakit Sya,” ringgis Adit.
“Dit jawab pertanyaan gue?” lagi-lagi Tasya
menaikan nada suaranya.
“Iya,” jawab Adit singkat.
“Kenapa?” tanya Tasya lagi.
“Urusan cowok, cewek gak perlu tau!” jawab Adit
dengan ketus.
“Tapi bukan karena gue kan?” tanya Tasya yang
membuat Adit pengen ketawa.
“Pede lu Sya hahaha udahlah lupain aja, ini
urusan cowok. Harga diri!” ucapnya. Adit mengantarkan Tasya sampai rumah.
Kemudian dia berpamitan pulang.
**
.jpg)
Komentar
Posting Komentar