1.5 Kejadian di kantin

Selasa siang di kantin sekolah. Kantin ramai sekali dengan anak-anak yang sedang makan siang. Anya, Jani, Karin, Malik dan Adam duduk di satu meja yang sama. Anya dan Jani memesan mie ayam bakso pangsit, sedangkan Karin memesan siomay. Malik dan Adam memesan nasi rames buatan mpok kantin. Malik dan Adam selesai makan duluan, sedangkan ketiga cewek ini masih menikmati makanannya.
“Kar cobain siomay lo dong.” Pinta Malik kepada Karin dengan manja.
“Nih!” Karin menyodorkan piringnya.
“Suapin dong Kar, duuh gak perhatian banget sama pacar” lagi-lagi Adam mengeluarkan kata-kata yang lebay bin gossip menurut Karin.
“Makan sendiri sih, bisa kan?” Tanya Karin kepada Malik.
“Ngga suapin dong Kar.” Pinta Malik dengan nada manja.
“Tau suapin sih Kar apa susahnya sih?” Anya ikut-ikutan menggoda mereka.
“Yup suapin aja Kar.” Jani juga ikut-ikutan.
“Nih buka mulutnya!” Dengan terpaksa Karin menyuapi Malik.
“Cieee” Ucap Anya, Jani dan Adam.
Tanpa mereka berlima sadari. Cewek-cewek di sekitar meja mereka berlima memperhatikan tingakah dan pola mereka. ada yang jengkel, iri bahkan kesal melihat tingkah mereka. Susan yang  duduk dekat meja mereka melihat adegan suap-menyuap itu. Rasanya panas, seperti kebakaran. Susan tak terima kalau pujaan hatinya bermesraan dengan wanita lain. Apalagi itu Karin.
Kembali ke meja Adam, Malik, Karin, Jani dan Anya. Mereka berlima terlihat menikmati suasana. Sampai Adam mendapatkan panggilan alam. Dia harus ke kamar mandi untuk buang air kecil. Adam meminta Malik menemaninya dan berjanji kepada ketiga cewek ini untuk kembali ke kantin setelah dirinya selesai buang hajat.
Jani dan Anya sudah menyelesaikan makanannya. Suapan terakhir untuk siomay Karin. Karin menghabiskan minumannya. Kenyang sudah perutnya sekarang. Saat mereka sedang ketawa ketiwi dari arah sebelah kanan datanglah seorang cewek dengan muka sangat marah.
“Eh cewek kegatelan!” Ucap Susan kepada Karin dengan nada menghina.
“(menenggok ke samping) Lo ngomong sama gua?” Tanya Karin.
“Iyalah siapa lagi, di depan gua kan cuma ada elo!” Jawab Susan dengan nada tinggi.
“Apa maksud lo ngomong kaya gitu?” Karin tidak terima dirinya dihina seperti tadi.
“Emang gitu kan kenyataannya. Ngapain lo kecentilan sama Malik?” Susan berbicara dengan nada tinggi yang membuat seisi kantin bisa mendengarnya.
Dikamar mandi, Adam sedang buang air kecil dan tiba-tiba ada temannya yang masuk.
“Malik.” Ucap cowok ini sambil terenggah-enggah
“Apa? Kenapa lo Hil kok ngos-ngosan?” Tanya Malik.
“Cewek lo? Cewek lo Lik.” Ucap cowok ini sambil menelan ludah.
“Cewek gua siapa?” Tanya Malik kaget dan bingung dengan perkataan temannya ini.
“Karin Lik dia lagi dilabrak Susan di kantin.” Jawab cowok ini.
“Hah yang bener lo? Lo becanda kali?” Malik tidak percaya dengan perkataan Hilman.
“Gue serius Lik, buruan lu ke kantin.” Hilman berbicara dengan nada terengah-engah.
“Dam buruan yuk ke kantin Karin lagi di labrak sama Susan.” Malik memberitahu Adam.
“Yang bener lo?” Tanya Adam gak percaya. “Aw..aw..” Ucap Adam kesakitan.
“Kenapa lo Dam?” Tanya Malik.
“Kejepit.” Jawab Adam meringgis.
Malik dan Adam bergegas ke kantin. Dilihatnya kantin memang ramai sekali. Apalagi di meja tempat  yang mereka duduki tadi. Malik dan Adam menerobos kerumunan yang berkumpul. Di dapatinya Karin yang sedang kena labrakan dari Susan. Karin hanya diam, sedangkan Susan terus berbicara.
“Lo gak tau apa kalo gua sama Malik tuh udah deket. Mending mulai sekarang lo jauhin Malik!” Ucap Susan lalu dia mengambil air mineral yang diegang temannya dan menyiram Karin dengan air itu.
Karin basah kuyup. Dia mulai geram dengan apa yang Susan lakukan kepadanya. Dari tadi dia hanya diam dan tidak melakukan pembelaan apa-apa. Saat Karin menoleh dia melihat ada Malik dan langsung berbicara.
“Sekarang ada Maliknya mending lo tanya deh dia pilih lo apa gua? Tapi lo yang tanya karena kalo gua yang tanya rasanya gak adil!” Ucap Karin.
“Untuk apa?” Tanya Susan dengan angkuh.
“Kalo dia milih lo, gua akan jauhin dia seperti apa yang lo minta, dan kalo dia pilih gua maka sebaliknya.” Jawab Karin sambil menantang Susan.
“Oke, Malik sekarang lo pilih gua apa si cewek kecentilan ini?” Tanya Susan kepada Malik.
“Yuk pergi Kar.” Malik menarik tangan Karin.
“Tunggu Lik, lo jawab dulu.” Karin meminta kepastian Malik.
“Jawaban apa lagi udah jelaskan?” Malik menarik tangan Karin dan membawanya pergi dari kerumunan.
Karin menarik tangan Anya, Anya menarik tangan Jani dan Jani menarik baju Adam. mereka berlima meninggalkan kerumunan. Kerumunanpun bubar. Susan dan teman-temannya yang jengkel dengan peristiwa tadi pergi meninggalkan kantin.
Malik  membawa Karin ke koprasi sekolah. Dia ingin mengantikan baju seragam Karin yang basah tersiram air karena insiden tadi. Dalam hatinya Malik sangat merasa bersalah dengan Karin. Karena dekat dengannya Karin jadi mendapat musibah seperti ini. Karin tidak mau dibelikan baju seragam baru oleh Malik. Dia hanya meminta diantar ke kamar mandi oleh Anya dan Jani. Malik dan Karin sempat berdebat disitu, tetapi Malik menghargai Karin dan mengikuti kemauannya.
**
Beberapa hari setelah kejadian itu berlalu, Karin dan Malik sudah seperti biasa lagi. Malik yang tidak enak dengan Karin terus meminta maaf kepada Karin. Sampai-sampai Karin bosan mendengar permintaan maaf dari Malik.
Diperpustakaan Reza melihat Karin sedang membaca buku sendirian. Dihampirinya Karin dan disapanya dengan penuh kelembutan.
“Hai Karin.” Sapa Reza.
“Hei kak Reza. Ada apa kak?” Tanya Karin.
“Gapapa. Tumben sendirian? Biasanya bareng-bareng sama temen.”Jawab  Reza berbasa-basi.
“Iya kak pada lagi mencar. Kakak sendirian juga?” Tanya Karin lagi.
“Iya hmm kok Karin gak bareng Malik? Emang kalian lagi marahan ya?” Reza malah balik bertanya.
“Malik? Ngga kok ngga lagi marahan kenapa?” Karin bingung kenapa kak Reza bertanya seperti itu.
“Gapapa kirain kalian lagi marahan? Bukannya kalian pacaran ya?” Tanya Reza yang juga ikut bingung.
“Pacaran? Dapet gossip dari mana kak?” Karin jadi semakin bingung.
“Loh jadi kalian gak pacaran?” Tanya Reza dengan nada kaget.
“Nggalah kita kan cuma berteman.” Jawab Karin.
“Tapi kok kalian terlihat sangat dekat ya?” Reza terus bertanya.
“Namanya juga teman, aku ke Anya ke Jani dan ke Adam juga gitu kok. Jadi gak cuma ke Malik aja.” Jawab Karin sambil menjelaskan yang sebenarnya.
“Oh gitu.” Reza berucap.
**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.6 Mendapat murid baru