2.5 Kecelakaan


Adit berjalan menghampiri Tasya yang sudah menunggunya dari tadi.
 “Lama yah?” ucapnya.
“Ngga kok, yuk pulang” ajak Tasya.
“Oke,” ucap Adit lalu mengandeng tangan Tasya.
Hari ini Adit mengantar Tasya pulang ke rumah. Sejak kejadian di rumah Adit waktu itu, dia yang mengantar Tasya ke sekolah dan mereka semakin dekat.  Perlahan-lahan Adit masuk ke dalam kekehidupan Tasya. Dia mulai mengantikan posisi Dion. Sekarang Tasya selalu bersama Adit.
**
Sore ini Tasya membantu saudaranya Gina membuat tugas yang akan dikumpulkan besok. Tapi print di rumah Gina tidak bisa dipakai karena tintanya habis. Tasya memberi ide untuk mengeprint ke fotocopyan deket rumah Gina. Tasya dan Gina bergegas ke fotocopyan. Setelah mereka sampai, Gina mengeprint tugasnya.
Tasya melihat seorang anak kecil yang akan menyeberang jalan, tapi dari arah sebaliknya ada motor yang sedang ngebut. Entah apa yang membuat Tasya untuk melangkah untuk menolong anak itu. Dia berlari dan mendorong anak kecil itu, lalu motor dari arah berlawanan menabraknya. Tubuh Tasya terjatuh dan membentur jalanan. Kepalanya berdarah dan dia tidak sadarkan diri. Gina yang melihat kejadian itu sempat syok dan berlari ke arah saudaranya ini. Gina memeluk Tasya dan berteriak minta tolong.
Beberapa orang berkerumun. Gina melihat pelipis Tasya mengeluarkan darah. Gina makin menjerit-jerit minta tolong. Dengan bantuan beberapa orang Gina membawa Tasya ke rumah sakit terdekat. Tasya langusng masuk ke IGD. Gina menelepon keluarga Tasya. Beberapa menit kemudian keluarga Tasya datang. Gina menceritakan semua kejadiannya. Meski Gina juga masih syok dengan keadaan ini tapi Gina mencoba untuk menceritakan semuanya kepada keluarga Tasya.
**
 Adit melihat jam di handphonenya, sekarang menunjukkan pukul 19.00 dan tidak ada bbm dari Tasya. Dia mencoba menelepon Tasya tetapi tidak diangkat. Adit sedikit khawatir karena Tasya tidak memberi kabar. Entah perasaan apa yang ada dihatinya, tetapi ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa yang terjadi dengan Tasya. Tapi Adit menghiraukan perasaan ini.
**
Keesokan harinya Adit menjemput Tasya.
“Tasya… Tasya” panggil Adit.
Bibi keluar dan berkata, “Mas Adit,” sambil tersenyum.
“Eh Bibi Tasya nya ada gak Bi?” tanya Adit dengan sopan kepada bibi.
“Loh mas Adit belum tau ya?” ucap bibi.
“Belum tau? Emang Tasya kenapa Bi?” tanya Adit dengan wajah serius.
“Mba Tasya kecelakaan mas, sekarang dia di rawat di rumah sakit.” Jawab Bibi dengan nada lirih.
“Di rumah sakit mana Bi?” tanya Adit yang mulai resah hatinya.
“Di rumah sakit Melia mas,” jawab Bibi lagi
“ Oke makasih Bi,” Adit berpamitan dan langsung bergegas ke rumah sakit.
Adit menyalakan mobilnya dan melaju secepat mungkin ke rumah sakit itu. Dia sangat khawatir dengan keadaan Tasya, ternyata memang perasaannya tadi malam itu benar. Ada sesuatu yang terjadi dengan Tasya. Hatinya menjadi tak karuan.
Sesampainya di rumah sakit, Adit menuju pusat informasi dan bertanya nama Tasya. Suster memberi tahu kamar Tasya. Adit mendorong pintu kaca yang bertuliskan ruang Anggrek. Dia menuju kamar nomor  14. Dilihatnya dari  kaca, seorang perempuan sedang tertidur. Perempuan itu terlihat lemas apalagi dia memakai alat  bantu pernapasan. Adit menarik napas dan melangkahkan kakinya utnuk masuk.
Mama menengok ke pintu ketika Adit membuka pintu. Adit mencium tangan Mama dan bertanya tentang keadaan Tasya.
“Bagaimana keadaan Tasya Tante?” Adit bertanya dengan wajah yang benar-benar khawatir.
“Tasya baik kok  Dit,” ucap Mama dengan sedih, “Cuma sekarang dia sedang tidur, kamu tau dari mana kalau Tasya ada disini,” tanya Mama lagi.
“Tadi pagi aku kerumah Tan, mau jemput Tasya terus ketemu bibi dan kata bibi Tasya kecelakaan, makanya aku langsung ke sini,” jawab Adit panjang lebar. “Hmm kenapa Tasya bisa kecelakaan tan?” tanya Adit dengan sopan, ia takut menyakiti hati Mama Tasya.
“Kemarin Tasya ke fotocopyan untuk mengeprint tugas sama sodaranya. Terus Tasya ngeliat ada anak kecil yang mau ditabrak sama motor, pas dia mau nolong anak kecil itu malah dia yang ditabrak sama motor itu,” Mama menjelaskan dengan sedih.
“Lalu yang menabrak Tasya?” tanya Adit lagi.
“Dia melarikan diri Dit,” jawab Mama yang menghapus air matanya.
Mata Tasya terbuka, dia mendengar ada suara Mama yang sedang berbicara dengan orang. “Ma,” ucapnya.
“Iya sayang, kamu udah bangun nak?” tanya Mama yang kaget.
“Iya Ma, aku haus,” ucap Tasya.
“Biar aku aja yang ambilin tante” pinta Adit, lalu Adit mengambilkan segelas air untuk Tasya.
“Makasih, ” Tasya mengembil gelas dari tangan Adit dan meminumnya.
Adit tersenyum dan berkata “Sama-sama.”
Tasya memandangi wajah Adit dan menatapnya lama.
“Kenapa?” tanya Adit yang heran dengan kelakuan temannya ini.
Tasya memandangi lama wajah Adit, lalu berkata “Adit?”
“Iya Tasya.. gimana kabar lo?” tanya Adit dengan wajah sendu.
“Aww,” Tasya memeganggi kepalanya yang dililit oleh perban berwana putih.
“Kenapa nak?kepala kamu sakit?” tanya Mama.
“Pusing Ma,” jawabnya.
“Ya udah kamu istirahat ya Sya,” suruh Mama.
Tasya hanya menganggguk dan menghabiskan segelas air putih yang masih dipegangnya.
“Banyak-banyak istirahat ya Sya,” ucap Adit yang memegang pundak Tasya.
Tasya mengangguk dan memberikan senyum kepada temannya ini, “Oh ya lo kok gak masuk hari ini?” tanya Tasya yang ingat kalau hari ini harusnya mereka masuk.
“Gue bolos Sya hehe,” Adit menjawab sambil tersenyum malu.
“Eh lo bolos cuma mau jengukin gue doang?” tanya Tasya sambil menunjuk dirinya.
“Iyeeee hahaha,” jawabnya sambil tertawa. “Oh ya itu kepala sama tangan kenapa diperban ampe begitu deh Sya?” tanya Adit sambil menunjuk perban di kepala dan tangan Tasya.
“Hmm kan gue jatoh Dit” jawab Tasya yang kemudian raut wajahnya menjadi sedih.
“Kok lo bisa kecelakaan gini sih Sya?” tanya Adit yang ingin mengetahui kejadiaan sebenarnya.
“Dit, Sya Mama tinggal dulu ya. Dit tolong jaga Tasya dulu ya,” ucap Mama yang kemudian keluar kamar.
“Iya Tante,” Adit memberikan senyum kepada Mama Tasya.
“Sya?” panggil Adit.
“Apa?” tanya Tasya.
“Jawab pertanyaan yang tadi,” pinta Adit yang udah kepo banget mau tau kejadiaannya.
“Oh itu gue lagi difotocopyan Dit nemenin sodara gue, terus gue liat ada anak kecil mau nyebrang dan diseberangnya ada motor hampir mau nabrak. Nah gue mau nyelametin, eh malah gue deh yang kena -__-“ cerita Tasya panjang lebar.
“Oh gitu terus itu kepala ngapa ampe diperban lebay gitu?” tanya Adit dengan nada meledek.
“Kata dokter kepala aku bochor bochor hahaha,” jawab Tasya sabil tertawa.
“Hahaha,” yang membuat Adit ikut tertawa padahal dalam hatinya masih menyimpan kekhawatiran. “ Terus itu berapa jaitan Sya?” tanya Adit lagi.
“Ngga tau Dit, gue ngga nanya-nanya hehe,” jawab Tasya yang tetap ceria meskipun dirinya sedang sakit.
Mereka berdua asik mengobrol. Mama mengurus semua admnistrasi pengobatan Tasya. kata dokter jaga hari ini Tasya sudah diperbolehkan pulang. Mama Tasya masuk ke dalam kamar dan menemui Tasya serta Adit.
Mama memberitahukan berita gembira ini kepada keduanya. Tasya terlihat sangat senang. Begitu juga dengan Adit yang ikut tersenyum mendengar berita ini. Adit dan Mama membereskan beberapa barang milik Tasya.
Sebelum Tasya meninggalkan rumah sakit, dokter memeriksa keadaan Tasya kembali dan menyarankan Tasya untuk istirahat di rumah dan melakukan medical check up besok. Tasya tersenyum dan berterima kasih kepada dokter serta suster disitu.
Karena Tasya hanya menginap semalam dan barang bawaanya tidak banyak, Adit menawarkan untuk mengantarnya pulang. Kebetulan mobil Tasya masih dirumah. Mama yang tadinya akan menelepon supir, mematikan panggilannya. Mama dan Tasya pulang diantar Adit.
**
Keesokan harinya, Tasya tidak masuk sekolah. Dia sudah memberitahu dan menitipkan surat dokter kepada Adit . Hari ini dia harus menjalani beberapa medical check up. Jam masih menunjukkan pukul 07.00. Tasya masih berbaring dikasur empuknya. Mama masuk dan membuka jendela kamar, sehingga sinar matahari masuk ke dalam kamar dan membuat Tasya silau. Dengan malas Tasya membuka matanya. Mama menyuruhnya mandi karena dia harus ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Tasya sudah berganti baju dan siap menjani beberapa medical check up. Dia menjalani tahap demi tahap. Sampai akhirnya semua tahap itu selesai. Sekarang Tasya hanya tinggal menunggu hasilnya. Tasya dan Mama pulang ke rumah.
**
Di sekolah, Dion berjalan menyusuri koridor dilihatnya Adit sedang bersama teman-temannya di lapangan. Dia sedang bermain sepak bola. Biasanya dipinggiran lapangan ada Tasya dan teman-temannya yang bersorak-sorai menyemangati.  Tapi dari kemarin dia tidak melihat ada Tasya atau Tasya bersama Adit. Sepertinya hari ini Tasya tidak masuk pikirnya dalam hati. Tapi Dion tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan menyusuri koridor.
Adit  masih bermain sepak bola lalu kemudian dia capek dan menghentikan permainannya. Adit duduk dipinggiran lapangan.  Adit berniat untuk menjenguk Tasya sepulang sekolah. Dia ingin membawakan sesuatu untuk Tasya. Tapi dia tidak tahu apa yang Tasya sukai. Adit mencoba berfikir-fikir kira-kira apa yang Tasya senangi. Lalu ia teringat kalau Tasya suka makan ice cream. Akhirnya Adit memutuskan untuk membelikan Tasya ice cream.
Sepulang sekolah Adit mampir ke salah satu toko wirausaha untuk membeli ice cream. Dan ia bergegas ke rumah Tasya. Sesampainya di rumah Tasya, Tasya sangat senang karena dia mendapatkan satu baskom penuh berisi ice cream rasa coklat.
**
Tiga hari kemudian
Rumah Sakit Melia Internasional
Sudah beberapa hari Tasya tidak masuk sekolah. Dan setiap hari juga Adit terus datang ke rumahnya. Padahal Tasya sudah bilang agar Adit tidak usah datang ke rumahnya. Tapi tetap saja anak itu ngeyel dan datang ke rumah Tasya.  Bukan hanya Adit tapi beberapa teman-teman Tasya seperti rere dan teman-teman sekelasnya serta bapak dan ibu guru datang menjenguknya.
Hari ini Mama dan Tasya akan ke rumah sakit untuk melakukan check up. Setelah dokter memeriksa Tasya dia menyuruh Tasya keluar ruangan.  Mama masih duduk dibangku ruangan dokter yang merawat Tasya. mereka sedang berbica tentang keadaan Tasya.
“Bagaimana hasil ronsen dari Tasya dok?” tanya Mama dengan muka tegang.
“Hmm hasilnya lumayan bagus,” jawab dokter sambil melihat hasil ronsen milik pasiennya. “Hmm tapi benturannya cukup keras,” lanjutnya lagi.
“Lalu apa itu akan berpengaruh pada anak saya dok?” Mama bertanya dengan nada sedih.
“Hmm mungkin ya mungkin juga tidak, sebaiknya Tasya tidak memikirkan yang terlalu berat dulu, berikan dia waktu untuk istirahat,” dokter  menjawab pertanyaan Mama.
“Baiklah, lalu bagaimana dengan keadaan fisik Tasya?” tanya Mama yang khawatir dengan keadaan anak keduanya ini.
Dokter melihat lagi hasil ronsen tubuh Tasya ,“Hmm keadaannya cukup baik” ucap dokter. “Oh ya bu jangan lupa agar Tasya mengahabiskan semua obatnya dan pastikan luka jahitan dikepalanya tetap kering,” Dokter menambahkan beberap peringatan kepada Mama.
“Baik dok, terima kasih,” ucap Mama.
Mama keluar ruangan. Wajahnya tersenyum melihat anaknya.
“Udah Ma?” tanya Tasya.
“Sudah sayang pulang yuk” ajak Mama.
“Gimana keadaan Tasya,” tanya seorang cowok tinggi yang duduk disamping Tasya.
“Alhamdulillah Tasya baik-baik saja Ji,” Mama tersenyum kepada anak pertamanya ini.
Tasya mempunyai satu kakak laki-laki. Mereka memang tidak tinggal serumah. Ini karena kakak Tasya tinggal di Bandung. Kakak laki-lakinya ini mendapatkan pekerjaan tetap di bandung. Sebulan sekali kakaknya selalu menyempatkan untuk pulang ke Jakarta.  Tapi karena mendengar berita adik kesayangnya ini kecelakaan, dia langsung mengambil cuti untuk melihat langsung kondisi adiknya. Nama kakak laki-laki Tasya adalah Panji Juliansyah Ferdinan yang biasa dipanggil Panji.

**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru