1.10 Mawar untuk Karin
Pagi hari
yang sangat cerah Karin sudah sampai di depan gerbang sekolah. Bibirnya
tersenyum kepada babe (sebutan untuk penjaga sekolah), babe juga ikut tersenyum
membalas sapaannya. Melewati koridor sekolah Karin berjalan perlahan-lahan
menghirup udara segar. Langkahnya terhenti karena dilihatnya seorang cowok
berdiri di depannya dan ia sedang mengunci sebuah ruangan sambil memegang gitar
di tangan kirinya. Cowok itu menegok ke sebelah kirinya dan cukup kaget dengan
kehadiran Karin disitu. Kemudian cowok itu tersenyum dan menyapa Karin.
“Oh hai
Karin.” Sapa cowok itu.
“Hai kak
Reza.” Karin balik menyapa.
“Kok tumben
pagi-pagi kamu udah sampe?” Tanya Reza dengan sopan.
“Emang
kenapa kak?gak boleh?” Jawab Karin yang dengan bingung.
“Hmm mumpung
masih pagi ikut aku yuk Kar.” Ucap Reza yang langsung menarik tangan Karin.
“Mau kemana
emang?” Tanya Karin kepada Reza yang sama sekali tidak menghiraukan
pertanyaannya.
Reza masih
memegang tangan Karin. Dia membawa Karin ke taman sekolah. Setelah sampai
barulah Reza melepaskan tangan Karin. Karin kesakitan karena Reza menggengam
tangannya dengan sangat erat. Saat Reza melepaskan tangannya, ditangan Karin
terdapat ceplakan tangan Reza yang berwarna merah.
“Kita sudah
sampai.” Ucap Reza.
“Ngapain
kita ke sini kak?” Tanya Karin dengan raut wajah bingung.
“Dari pada
kamu di kelas sendirian ya kan? Mendingan nemenin aku aja. Sini duduk.” Jawab
Reza dengan senyuman termanisnya.
Karin duduk
disamping Reza. Reza mulai memetik gitarnya dan bernyanyi di depan Karin. Reza
menyanyikan lagu untitled dari maliq n d’essential. Karin yang suka dengan lagu
itu ikut bernyanyi. Mereka berdua bernyanyi lagu itu dengan sangat merdu.
Adakah diriku… oh singgah dihatimu…. Dan bilakah
kah kau tahu…. Kaulah yang ada dihatiku…. Kau yang ada dihatiku….. adakahku
dihatimu…
Reza
bernyanyi sambil memandang wajah Karin. Diperhatikannya wajah itu baik-baik.
Cantiknya puji Reza dalam hati. Melihat Karin bernyanyi sebahagia ini membuat
hati Reza senang. Entah apa yag ada dibenaknya saat ini. Satu hal yang Reza sadari
kalau Karin begitu cantik pagi ini.
Karin
bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Dia mengikuti alunan pertikan gitar yang
Reza mainkan. Bergitu merdu dan indah suaranya. Seakan akan Karin merasa kalau
lagu ini mewakili isi hatinya kepada Reza. Selain lagu untitled mereka juga
menyanyikan lagu I will fly dari ten 2 five.
I wil flying to your arms… and be with you to
be end of time…. Why are you so far away… its so very hard to me…. To get my
self close to you…
Setelah
selesai bernyanyi dan sedikit bercanda, Karin ingat dia harus cepat-cepat ke
kelas. Karin mengajak Reza untuk ke kelas bersama. Reza tidak menolaknya.
Mereka berdua berjalan sambil mengobrol menuju kelas masing-masing. Reza
mengantar Karin sampai depan kelasnya.
Di dalam
kelas Malik memandang pintu dengan tatapan kosong. didalam hatinya berfikiran sebentar
lagi sepertinya akan ada yang datang. Ternyata kata hatinya benar. Seorang cewek
diantar seorang cowok ada di depan kelasnya. Cewek itu melambaikan tangannya
kepada cowok yang tadi mengantarnya. Malik menjadari kalau itu Karin. Siapa
yang mengantar Karin barusan?
Dari arah
pintu Karin melihat teman-temannya dan menghampiri mereka. Dengan tersenyum
Karin menyapa teman-temannya ini.
“Hai guys!”
Sapa Karin kepada teman-temannya.
“Eh Siapa
ya? Pernah kenal?” Tanya Adam dengan muka judes.
“Ish jahat
banget lo Dam!” Jawab Karin sambil tersenyum.
“Kar, tadi
lo dianter siapa?” Tanya Malik tanpa berbasa-basi.
“Emang lo
dianter siapa Kar?” Jani juga ikut penasaran.
“Ngga
dianter siapa-siapa kok.” Jawab Karin.
“Masa,
terus cowok yang tadi nganter lo sampe pintu depan kelas siapa?” Tanya Malik
dengan nada mengintrograsi.
“Hah emang
tadi Karin dianter sama cowok? Sampe depan kelas lagi? Kok gue gak liat sih
Lik?” Tanya Anya dengan raut wajah kaget.
“Iya tadi
gue liat si Karin dianter gitu sama cowok sampe depan kelas lagi.” Ucap Malik
yang makin penasaran menunggu jawaban dari Karin.
“Lo kenapa
sih Lik? Cemburu kalo Karin deket sama cowok lain?” Adam meledek Malik.
“Oh itu
heem tadi gue bareng sama kak Reza.” Jawab Karin.
“Cieee Karin ahaaay deket sama Kak Reza nih
sekarang.” Jani meledek Karin.
“Haha Malik
cemburu nih yeeee…” Anya ikut meledek Karin dan Malik.
“Kalo lo
gak mau Karin diambil sama orang lain mendingan elo cepet-cepet nembak dia deh
Lik.” Adam memanas-manasi Malik.
Karena
pertanyaan Malik tadi, mereka berlima jadi heboh sendiri. Mereka berisik sekali
dan tidak sadar kalau banyak telinga yang mendengar bahkan menguping
pembicaraan mereka. Tapi mereka berlima tidak pernah ambil pusing dengan itu
semua.
**
Bel
istiharat kedua berbunyi. Murid-murid kelas sepuluh satu berganti baju
olahraga. Setelah berganti baju mereka berkumpul di lapangan indoor sekolah
untuk pemanasan. Bapak Edo selaku guru olahraga kelas sepuluh satu menyuruh
anak muridnya untuk mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali untuk
pemanasan.
Semua murid
melakukan pemanasan. Kemudian bapak guru membagi mereka kedalam beberapa
kelompok kecil. Setelah semua kelompok dibagi, pak guru segera menyampaikan
materi hari ini. Rupanya hari ini mereka akan belajar bermain basket. Pak guru
mengajarkan bagaimana cara men- dribble, shoot, dlln tentang basket.
Karena Adam
dan Malik adalah anak basket yang dilatih oleh pak Edo, jadi mereka berdua
diminta membantu teman-temannya. Sekitar kurang lebih satu jam murid-murid
mempraktekan teknik-teknik yang diajarkan oleh bapak guru. Kemudian sisanya
dipakai untuk latihan bermain basket secara berkelompok.
Kelompok
Karin dan kelompok Fanya diminta untuk bertanding dan mempraktekan
teknik-teknik yang tadi sudah diajarkan. Karin bersiap menggapai bola
basketnya. Tapi dia kalah tinggi dengan Fanya. Dimulailah pertandingan basket.
Pertandingan berjalan baik-baik saja sampai tiba-tiba, Karin jatuh. Siku dan
lututnya mengenai lantai, Karin mencoba berdiri tapi badannya sangat lemas.
Malik yang
menjadi wasit dalam pertandingan meniup peluit panjang dan berlari menghampiri
Karin. Selain Malik ternyata Anya, Jani, Adam dan teman-temannya mengerubunginya.
Malik membantu Karin berdiri. Pak guru menyuruh Malik untuk membawanya ke uks
diikuti oleh Anya, Jani dan Adam.
Malik
memapah Karin, tapi Karin meminta Jani dan Anya yang memapahnya.sedangkan Adam
dan Malik membawakan tas mereka. Sampai di uks Malik mengambilkan obat merah,
lalu Jani membersihkan luka Karin dengan hati-hati dan memberinya obat merah.
Sedangkan Anya memberikan Karin minum air putih.
“Kok lo
bisa jatuh gitu sih Kar?” Tanya Adam dengan tenang.
“Gue juga
gak tau Dam.” Jawab Karin dengan lemah.
“Luka lo
sakit banget Kar? Duh nanti lo pulangnya gimana?” Tanya Anya yang malah jadi
panik sendiri.
“Ngga sakit
sih Nya tapi perih, ngilu gitu hehe.” Jawab Karin yang tersenyum meringgis.
“Elo sih
pake jatoh Kar haha.” Ucap Jani sambil tertawa.
“Sssst Jani orang lagi sakit diketawain.” Tegur Adam.
“Nanti lo
balik sama gue aja ya Kar.” Malik mewarkan diri.
“Ngerepotin
lo gak Lik?” Karin berbasa-basi.
“Nggalah
masih kaku aja lu.” Jawab Malik yang mengerti maksud dari perkataan Karin.
Teeeet
teeeeet (bel berbunyi)
“Udah
pulang, yuk pulang.” Ajak Anya.
“Nih tasnya
Karin.” Jani memberikan tas Karin kepada Malik.
“Tas gue
dong.” Pinta Adam.
“Nih.” Anya
melempar tas Adam.
“(menangkap
tas) makasih.” Ucap Adam.
“Lo bisa
naek motor kan Kar?” Tanya Malik yang agak ragu.
“Bisalah
lagian kan lukanya kan ringan.” Jawab Karin.
“Tapi lo
bisa jalan ke parkiran gak Kar?” Tanya Adam.
“Nah itu
yang gue bingung.” Jawab Karin dengan sedih.
“Ya udah
nanti kita bantuin.” Ucap Anya.
“Eh Nya
jangan dibantuin biar Malik aja yang mapah Karin.” Adam mulai meledek.
“Iya Nya
kita jangan bantuin Karin.” Jani mulai ikut-ikutan.
“Yah Nya lo
gak gitu kan? Lo tetep bantuin gue kan?” Tanya Karin dengan muka memelas.
“Hehe gue
balik duluan deh Kar, gue gak mau ganggu lu sama Malik.” Anya jadi pengikut
Adam.
“Ish pada
jahat banget ya semua!” Ucap Malik dengan nada sedih.
“Ya udah kita
temenin aja sampe parkiran deh gimana?” Adam memberikan sedikit saran.
Mereka
berlima berjalan menuju parkiran. Karin dipapah oleh Jani dan Anya. Sesampainya
di parkiran Anya, Jani dan Adam meninggalkan mereka berdua. Malik menghidupkan
motornya dan mempersilahkan Karin naik. Dengan hati-hati Karin naik ke atas
motor. Motor melaju dengan pelan, melawati pos satpam lalu melawati Jani, Anya
dan Adam. mereka bertiga tersenyum senyum sambil meledek Karin dan Malik. Karin
dan Malik hanya tersenyum melihat kelakuan teman-temannya ini.
**
Stevan
mematikan mobilnya dan menarik nafas panjang. Dia mengambil bunga mawar putih dan keluar dari mobilnya.
Dari kejauhan ia melihat ada motor mendekat, bersembunyilah ia di balik mobil.
Sedikit mengintip ia melihat Karin turun dari motor itu, kemudian seorang cowok
yang mengendarai motor ikut turun dan memapah Karin.
Karin
sempat menepis rangkulan cowok itu, tapi karena cowok itu memaksa akhirnya
Karin membiarkannya. Sesak dada Stevan saat melihat hal itu. Dalam hatinya
bekata “Siapakah cowok itu? Apakah dia
adalah pacar Karin?” sungguh sia-sia kedatangannya.Cowok itu mengantar
Karin sampai ke dalam rumahnya. Kemudian dia berpamitan dan pergi.
Stevan
masih berdiri di belakang mobilnya dan menatap kosong ke arah rumah Karin.
Apakah yang harus ia lakukan sekarang? Ia merasa sangat bodoh. Tak pernah
terpikirkan olehnya kalau Karin sudah mempunyai pacar. Stevan menghela nafas
kemudian dibuangnya mawar putih yang dipegangnya. Stevan masuk ke mobil dan
menghidupkannya lalu pergi meninggalkan rumah Karin.
**
Di dalam
rumah, Karin mendengar suara mobil yang melaju kencang. Namun suara itu tak
dihiraukanya. Karin mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Sekitar lima
belas menitan Karin keluar dengan wajah segar. Perlahan-lahan dia berjalan ke
ruang keluarga. Baru ia akan duduk tapi mamanya meminta tolong agar Karin
membuang sampah ke tempat sampah depan rumah.
“Kar tolong
buangin sampah yah.” Suruh mama sambil tersenyum.
“Males ma,
kaki Karin lagi sakit nih.” Jawab Karin dengan wajah cemberut.
“Mana coba
mama liat?” Tanya mama.
“Tuh
lecet-lecet lutut sama tangan Karin.” Jawab Karin dengan bangga sambil
menunjukkan luka-lukanya.
“Nanti abis
buang sampah mama obtain sama pijitin kakinya gimana?” Mama mencoba membujuk
Karin.
“Ya udah
mana sampahnya ma?” Tanya Karin dan ia mulai bangkit dari tempat duduknya.
“Tuh kamu
ambil aja di dapur, yang plastik item semua ya Kar.” Jawab mama.
Dengan
malas Karin berjalan ke dapur dan mengambil sampah-sampah itu. Dibawanya dua
kantong plastik hitam keluar rumah. Saat Karin hendak membuang sampah
dilihatnya ada bunga mawar putih yang masih bagus. Bunga itu ada diseberang
rumahnya. Karin membuang sampahnya kemudian memungut bunga itu.
“Bunga siapa ini? Hemm mungkin terjatuh. Eh
tapi kok ada kartu ucapannya.” Karin berkata dalam hati. Ia membuka kartu ucapan itu dan membacanya
lagi di dalam hati “To : Karin, bunga
mawar ini mengingatkanku pada senyumanmu, Stevan.” Karin kaget dengan apa
yang ia baca barusan.
Karin
membawa bunga ini sambil berjalan masuk ke rumah. Sambil berjalan ia berfikir,
kapan Stevan ke rumahnya. Mengapa dia tidak bertemu dengan Stevan. Sunggah hal
yang aneh. Karin masuk ke kamar dan menaruh bunga ini ke meja belajarnya. Dari
ruang keluarga mama berteriak memanggil nama Karin.
“Karin….
Karin….” Panggil mama.
Karin masih
melamun di kamarnya.
“Karin…
Karin…” Panggil mama lagi dan sekarang beliau sudah berdiri di depan pintu
kamar Karin.
Karin
tersadar dari lamunanya.” Iya ma ada apa.” Jawab Karin.
“Kamu dari
tadi dipanggilin kok gak nyaut?” Tanya mama.
“Maaf ma.”
Karin meminta maaf.
“Ya udah
jadi mama pijitin gak?” Tanya mama lagi.
“Iya ma,
tapi pijtinnya di ruang tv aja ya ma biar sekalian nonton hehe.” Jawab Karin
sambil tersenyum.
“Ya udah
buruan, mama ambil minyaknya dulu ya.” Ucap Mama.
“Iya ma.”
Jawab Karin.
Karin
menaruh bunga mawarnya di laci meja kemudian ia bergegas ke ruang keluarga.
Mama sudah menunggu disana. Mama melihat kondisi kaki anaknya. Sepertinya kaki
Karin sedikit keseleo. Lalu dengan hati-hati dan penuh perasaan mamanya memijit
kaki Karin. Karin kesakitan dan meminta mama supaya lebih pelan memijitnya,
tapi mama malah tersenyum. Setelah selesai diurut Karin merasa kakinya sudah
tidak terlalu sakit seperti tadi. Mama memang hebat deh.
**
Stevan
duduk dipinggiran kolam renang. Dia sedang memikirkan Karin. Dikepalanya
terlintas kejadian tadi sore. Dilihatnya Karin bersama seorang cowok. Lalu
cowok itu terlihat sangat perhatian sekali kepada Karin. Lagi-lagi sesak dada
Stevan kalau mengingat-ingat kejadian itu. Padahal bukan seharusnya ia senang
kalau Karin sudah bisa move on dari dirinya.
Tapi kenapa
sekarang ia malah tidak rela kalau Karin sudah menemukan seorang pengganti
dirinya. Perasaan Stevan sangat kacau. Besok dia harus kembali lagi ke
Australia. Masa liburannya di Jakarta sudah habis. Rasanya ia tidak ingin pergi
meninggalkan kota penuh kenangan ini. Kota kenangannya bersama Karin. Bersama
seseorang yang paling disayangnya. Stevan menarik nafas dan menghelanya dengan
sedih. Dia tidak boleh seperti ini terus. Biarlah Karin menemukan pemilik dari
tulang rusuknya, dan Stevan bertekad tidak akan mengganggu hidup Karin. Dan ia
akan serius belajar dan membiarkan cintanya mengalir seperti air.
**
Dikamar
Karin
Karin
membuka laci meja dan mengambil bunga mawar putih yagn tadi siang dipungutnya.
Bunga itu masih terlihat sangat baru. Karin berfikir apa yang membuat Stevan
membuang bunga ini. Lalu ia mengingat-ingat kejadian tadi sore. Kemudian ia
teringat kalau tadi sore ia mendengar suara mobil yang melaju sangat kencang.
Apa jangan-jangan itu suara mobil Stevan. Karin berfikir lagi dan ia mengingat
kalau tadi sore Malik mengantarnya pulang dan memapahnya sampai ke dalam rumah.
Apakah itu yang membuat Stevan membuang bunga mawar ini.
Andai saja
Stevan benar-benar menghilang dan tidak kembali dalam kehidupan Karin. Mungkin
semuanya tidak akan seperti ini. Karin tahu kalau sampai kapanpun mereka tidak
akan pernah bisa menyatu. Sebuah perbedaan yang sangat mencolok antara mereka
berdua. Lalu Karin mengambil secarik
kertas dari bukunya dan menuliskan :
Terima Kasih Stevan atas bunga mawar putih yang
telah kamu berikan untukk,u aku akan menyimpan bunga ini karena bunga mawar putih ini adalah lambang
dari kesucian cinta kita yang takkan pernah bisa menyatu sampai kapan pun.
**
selesai**

Komentar
Posting Komentar