1.8 Bertemu teman di masa lalu


Seorang pemuda putih tinggi sedang asik menikmati pemandangan. Saat melihat pemandangan yang bagus dia mengabadikannya dengan kameranya. Pemuda ini membawa kamera SRL yang dikalungkan didadanya. Pemandangan sebuah komplek yang asri dan indah ini dengan keadaannya yang tidak terlalu ramai. Ditambah sore hari yang sangat cerah.
Karin berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Rimbun pepohonan yang terkena tiupan angin membuat suara gemuruh. Karin menikmati suasana ini. Diperlambat langkahnya menuju rumah. Berlawanan arah dengan Karin, seorang pemuda yang sedang mengabadikanpemandangan mengarahkan kameranya kearah sebuah pepohonan yang rimbun.
Dimata kameranya tertangkap sosok seorang gadis mungil yang sedang berjalan dibawah rimbunnya pepohonan. Dizoom sedikit kameranya, dan terlihatlah muka gadis itu. Diabadikannya gambar-gambar tadi. Karin berjalan semakin dekat dengannya begitu juga dengannya yang berjalan mendekat ke Karin.
Mereka bertemu dibawah rimbunnya pepohonan. Karin yang lebih pendek dari pemuda itu lalu mendongakkan mukanya ke arah pemuda itu. Pemuda itu tersenyum dan membuat Karin ikut tersenyum karenanya. Lalu pemuda itu menyapanya.
“Hai Karin sudah lama kita tidak berjumpa?” Sapa pemuda itu masih dengan senyumnya.
“Hai Stevan apa kabar?” Balas Karin yang terkejut melihat teman lamanya ini.
“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Jawab pemuda ini.
“Aku juga baik, kenapa kamu ada disini Stev?”Karin bertanya lagi.
“Aku sedang liburan ke Jakarta.” Jawab pemuda ini dengan nada sopan.
“Oh” Ucap Karin yang kehabisan pertanyaan.
“Hmm bagaimana kalau kita ngobrol ke taman?” Ajak pemuda itu.
Pemuda itu dan Karin menuju taman dekat rumah Karin. Pemandangan disitu memang indah. Meski hanya sekedar beberapa pepohonan dan tumbuh-tumbuhan hias, tapi mereka ditata dengan cantik disana. Karin dan pemuda itu duduk dibangku taman. Sebenarnya Karin punya banyak pertanyaan untuk pemuda ini. Tapi entah kenapa semua pertanyaan itu seakan tidak bisa keluar dari mulutnya.
“Karin kenapa kamu diam?” Tanya pemuda ini dengan sopan.
“Hmm ngga apa-apa. Stev kemana kamu selama ini?” Tanya Karin dengan nada sopan.
“Huft  (menarik nafas) aku akan menjelaskan hal itu, tapi aku mohon kamu jangan marah ya Karin.” Jawab pemuda ini.
“(Mengangguk)” Karin menjawab tanpa suara.
“Setahun yang lalu, saat aku selesai ujian nasional. Mama memberitahuku kalau aku harus kuliah di luar negeri.” Pemuda ini menghela nafas lagi. “Awalnya aku tidak mau, tapi mama memaksa.” Lanjutnya.
“Lalu kenapa kamu tidak memberitahu saya? Kenapa kamu pergi tanpa kabar meninggalkan saya?” Tanya Karin dengan nada datar dan memandang kosong ke depan.
“Aku minta maaf Karin, aku tidak ingin membuatmu sedih dengan kepergianku. Dan mama….” Jawab pemuda ini dan dia berhenti dikata-kata itu.
“Mama kamu gak suka sama aku iya kan Stev?” Lanjut Karin yang mengalihkan pandangannya ke Stevan dengan nada lirih dan sedih.
“(Menunduk, lalu menatap Karin) Kamu tahu dari mana?” Tanya pemuda ini kaget.
“Aku hanya menebak saja. Apakah benar?” Jawab Karin yang malah mempertanyakan pernyataannya tadi.
“Maafkan aku Karin. Maafkan aku.” Pemuda ini memegang pundak Karin dengan erat.
“Aku tidak pernah marah padamu Stevan.” Ucap Karin yang membuat Stevan tercenggang.
“Tapi aku sudah meninggalkanmu tanpa kabar Karin, dan aku sudah menggantungkan hubungan kita?” Pemuda ini sangat merasa bersalah dengan Karin.
“Tidak apa-apa Stevan. Aku tidak merasa digantung. Aku sudah tau semua cerita dan alasanmu. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah.” Karin tersenyum.
“Karin…. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat sekarang? Aku merasa bersalah karenamu.” Pemuda ini terus menyalahkan dirinya.
“Aku sudah bilang kamu tidak salah. Dan tidak ada yang salah disini. Lebih baik kita membicarakan yang lain.” Pinta Karin dengan senyumnya yang manis.
“Baiklah.” Ucap pemuda ini mengikuti permintaan Karin.
“Kamu kuliah dimana?” Tanya Karin yang mulai berganti topik pembicaraan.
“Aku kuliah di Australia.” Jawab pemuda ini dengan senyum.
“Jurusan apa yang kamu ambil?”  Karin bertanya lagi.
“Hmm papa menyuruhku untuk mengikuti jejaknya….” Jawab pemuda ini yang terpotong oleh ke sok tahuan Karin.
“Dan kamu pasti mengambil jurusan manajemen?” Karin memotong omongan Stevan.
“Kamu tuh sok tau!hahaha ngga berubah ya dari dulu.” Pemuda ini tertawa.
“Emangnya salah ya tebakan aku?” Tanya Karin kebingungan.
“Hmm ngga kok bener.” Jawab pemuda ini sambil tersenyum. “Hanya sedikit kurang.” Tambahnya.
“Kurang apa? Tuh kan bener tebakannya!” Ucap Karin kegirangan.
“Kurang bisnis.” Tegas pemuda ini.
Suasana mereka mulai cair. Yang tadinya tegang sekarang sudah santai lagi. Pemuda ini adalah Stevan. Stevan dan Karin mengobrol cukup lama di taman. Mereka memang sudah lama tidak bertemu. Maka itu dari pertemuan hari ini ingin mereka manfaatkan untuk melepas kerinduan.
“Kar..” Panggil Stevan.
“Iya kenapa Stev?” Jawab Karin.
“Aku punya ini untuk kamu….” Stevan mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Karin.
“Apa ini Stevan?” Tanya Karin yang mengambil kotak kecil dari tangan Stevan.
“Buka aja.” Pintanya.
Karin membuka kotak kecil itu. “Sungguh indah hmmmm.” Raut muka Karin berubah jadi sedih.
“Kenapa Karin?” Tanya Stevan
“Hmm aku tidak bisa menerima ini Stev.” Jawabnya.”Kamu tahukan?” Tanya Karin.
“Itu bukan hadiah Karin, tapi adalah sebuah oleh-oleh yang kubeli di aussi khusus untukmu.” Jawab Stevan yang mengetahui maksud dari perkataan Karin.
Karin memang tidak suka diberikan barang kecuali dihari ulang tahunnya dan oleh-oleh jika temannya yang keluar kota dsb. Selebihnya Karin tidak suka diberikan barang-barang atau hadaih pada hari-hari biasa. Karena menurutnya untuk apa memberikan barang atau hadiah saat dirinya tidak berulang tahun atau tidak memenangkan perlombaan, itu aneh sekali menurutnya. Bukan maksud Karin menolak, tapi bila ada alasan yang logis dan masuk akal Karin pasti akan menerimanya.
Setelah Stevan memberikan oleh-olehnya kepada Karin. Hari semakin sore, jadi dia berpamitan pulang. Karin diantarnya sampai rumah, lalu Stevan bergegas mencari taksi dan pulang juga ke rumah orang tua yang ada di Jakarta.
**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru