1.11 kembali ke aussie

Stevan mengambil tiket yang ada diatas meja belajarnya. Mama sudah memanggil-manggil nama Stevan, dia bergegas keluar kamar dan menemui Mamanya.
“Pagi Mom muah” Stevan mendaratkan ciuman hangatnya dipagi ini kepada Mamanya.
“Pagi dear, kamu sudah siap untuk hari ini?” tanya Mama kepada Stevan yang terlihat sangat segar pagi ini.
“Yes Mom, tapi rasanya berat mau ninggalin Mama disini,” ucap Stevan dengan sedih.
“Jangan sedih sayang, kamu baik-baik ya disana. Sering-sering telepon Mama ya,” Mama meyakinkan Stevan kalau dia akan baik-baik saja tanpa Stevan.
“Frans titip Mama ya, jangan jadi anak nakal. Jangan nyusahin Mama juga, awas kalo nyusahin Mama nanti gue jitak loh haha” ucap Stevan kepada adiknya yang masih berusia 13 tahun.
“Iya kak, Aku akan menjaga Mama. Kakak tenang aja.” Fransiskus meyakinkan kakak satu-satunya ini dengan memeluk Mamanya penuh kasih sayang.
“Love you Mom, muah” Stevan ikut memeluk Mamanya dan mencium pipi beliau.
“Sudah sudah, kamu berangkat sana nanti ketingalan pesawat” Mama melepaskan pelukan kedua anaknya ini lalu mengantarkan Stevan keluar rumah.
“Take care ya nak, jaga dirimu baik-baik” pesan Mama.
“Yes Mom, love you so much muah” sekali lagi Stevan mencium Mama seakan-akan tidak mau meninggalkan Mamanya.
“God Bless you darl,” balas  Mama dengan kecupan dikening Stevan.
Stevan masuk ke mobil dan mobil mulai berjalan. Mobil BMW Stevan melewati gereja depan rumah, kemudan Stevan meminta supirnya berhenti sebentar. Stevan turun dari mobil dan masuk ke gereja. Dia berjalan ke altar gereja lalu dia mengepalkan tangannya dan berdoa disana.
“Tuhan tolong jaga orang-orang yang Aku sayangi disini. Aku mohon semoga Mama baik-baik disini. Dan semoga Aku bisa menjalani hidup baruku disana. Amin.” Doa Stevan.
Stevan keluar gereja dengan wajah sangat senang. Dia tersenyum kepada dunia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Mobilnyapun melaju dengan cepatnya ke bandara. Di dalam mobil Stevan sempat membuka salah satu sosial media dan membuat tulisan “Good bye Jakarta, I  LOVE YOU SO MUCH AND I WILL MISS YOU!


**
Karin membuka salah satu sosial media, agak kaget itu yang dirinya rasakan ketika melihat tulisan dari Stevan. Karin mebaca tulisan itu dalam hatinya “Good bye Jakarta, I love you so much and I miss will miss you!”ucapnya. “Pasti kamu mau pulang ke Aussie yah hari ini” tebaknya dalam hati. Kemudian Karin menulis di sosial media miliknya “Take care, I will miss you :’)
Karin mengambil mawar putihnya dan memfoto mawar itu, kemudian dia mengunggahnya ke sosial media. Dijudul fotonya dia menulis,  “Thanks for your white roses, I loved it!” Karin berharap semoga Stevan melihat foto mawar putih yang dia berikan untuknya.
**
Mobil Stevan masih melaju dengan cepat. Didalamnya dia masih sibuk dengan sosial media miliknya. Dilihatnya ada tulisan dari Karin, dibaca dan lihatnya gambar yang Karin ulpload. “Thanks for your white roses, I loved it!”ucapnya dalam hati, kemudian dia melihat bunga mawar putih yang waktu itu dia buang di depan rumah Karin. “Inikan bunga yang gue kasih ke Karin, ternyata dia memungutnya, Karin..”ucapnya lagi dalam hati.
Kemudian Stevan membalas tulisan dan gambar Karin yang dia tahu itu untukknya. “You’re well Darl, I happy if you happy” itu tulisan Stevan untuk Karin dan Stevan berharap Karin membacanya. Entah apakah yang hari ini ia rasakan. Dia merasa senang meskipun hari ini dia harus kembali ke Aussie dan meninggalkan semua kenangannya di kota ini.
Stevan sampai di bandara, dia membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia mengehala nafas “Huuuuh” lalu berkata “Good bye Jakarta, bye Mom, Dad, Frans and you Karina Putri J” dengan nada kecil lalu dia menuju ke waiting room. Sekarang Stevan sudah siap untuk kembali menimba ilmu disana.
**
Di kamar Karin.
Karin melihat tulisan Stevan dan membacanya dengan nada pelan “You’re well Darl, I happy if you happy” dan berkata lagi “hmm seneng deh akhirnya lo. Selamat jalan Stevan” lalu Karin mengsign out sosial medianya.
Karin jadi meninggat masa-masa konyolnya waktu smp. Saat dia tahu kalau Stevan akan pergi meninggalkan negeri ini, dia langsung panic dan berusaha mengejar Stevan. Perasaannya kacau saat itu, rasanya tak rela untuk melepaskan stevan.
Tapi apa yang dia rasakan sekarang. Semuanya berbeda. Semua tidak seperti dulu lagi. Sekarang Karin sudah bisa melepaskan Stevan. Dia tidak lagi ingin mengingat-ingat Stevan. Membiarkan hidupnya berjalan apa adanya dan membiarkan Stevan menjalani hidupnya yang baru.
Yang Karin sesalkan hanya Stevan tidak pernah pamit saat pergi. Dia suka datang dan pergi ke dalam hidup Karin sesuka hatinya. Tapi Karin membiarkan itu. Ia yakin suatu saat nanti bisa melihat dan bertemu dengan Stevan lagi. Dan saat itu mereka sudah tidak akan memiliki perasaan apapun. Tapi itu hanya mungkin.

**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru