1.12 biarlah Tuhan yang mengatur semuanya



Karin bangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 05.00. Karin solat subuh kemudian dia mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tepat pukul 06.10 Karin keluar rumah dan berangkat.
Entah mengapa Karin merasa kalau hari ini berbeda dengan hari kemarin. Dia merasa mentari pagi ini bersinar lebih hangat dari hari kemarin. Di jalan tidak sengaja Karin bertemu Malik. Mereka berangkat bersama.
Tak seperti biasanya Karin tersenyum dan sangat menikmati udara pagi ini. Malik yang memperhatikan wajah Karin dari motor ikut tersenyum melihat temannya yang sangat menikmati suasana sejuk pagi ini.
Di kelas Anya, Jani dan Adam sudah duduk manis dibangku masing-masing. Mereka bertiga melihat kedatangan dua sahabatnya.
“Ciee nyampenya barengan ya?” ejek Adam sambil senyam-senyum menggoda Malik dan Karin.
“Jangan-jangan kalian berangkat bareng lagi?” tambah Jani yang asal nyeplos dan ternyata bener.
“Apaan sih?” muka Karin berubah jadi males, “Emang ga boleh kalo gue berangkat bareng Malik?” tanya Karin kepada teman-temannya ini.
“Oh jadi kalian bener berangkat bareng?” tanya Anya ngga percaya.
“Iya, kebetulan tadi ketemu sama Karin di jalan ya gak Kar?” jawab Malik yang melirik Karin.
“Hooh,” kata Karin sambil mengganggukan kepalanya.
“Cieeee jodoh haha,” ejek Adam sambil tertawa diikuti dengan ejekan dari teman-teman yang lain.
“Ciee Karin sama Malik jodoh hahaha,” Jani ikut mengejek sambil tertawa.
“Cieeee hahaha,” Anya juga ikut tertawa.
**
Jam istirahat berbunyi, Adam dan Malik mengajak Anya, Jani, Karin untuk makan bersama di kantin. Mereka mengambil meja di dekat panggung kecil. Kantin sekolah mereka memang cukup besar. Maka dari itu dibuat panggung. Setiap hari ada saja sswa-siswi yang tampil di panggung itu.
Kali ini ada anak-anak dari kelas XII yang sedang berkumpul dekat panggung. Mereka sudah membawa peratalan music seperti gitar dan keyboard. Karin melihat ada beberapa kakak kelas yang dia kenal seperti kak Cinta dan juga kak Reza.
Cinta naik ke panggung diikuti oleh teman-temannya. Mereka mempersiapkan peralatan. Semua orang di kantin memerhatikan mereka begitu juga dengan Karin dan teman-temannya.
“Cek…cek 1….2….3…” Cinta mengetes mic yang dipegangnya.
Reza dan beberapa teman-temannya juga mengetes alat musik mereka masing-masing.
“Perhatian-perhatian,” ucap Cinta yang membuat seisi kantin memandang kepadanya.
“Cinta I lofyuuuuu,” ucap salah seorang teman Cinta yang membuat seisi kantin jadi heboh.
“Cieeeee….huuuuu….” teman-teman yang ada di kantin bersoraks-sorai.
Cinta tersipu malu, “Oke minta perhatiannya sebentar, saya Cinta dan ini teman saya Reza yang akan memainkan gitar, kami akan membawakan lagu berjudul “Inikah Cinta” enjoy this song guys,” ucapnya mengakhri pengumuman dan mulai menyanyi.
Reza memainkan gitarnya. Begitu merdu terdengar. Karin memperhatikan Reza. Reza begitu menikmati setiap petikan gitar yang dimainkan. Saat Karin sedang menatap Reza, tak sengaja mata mereka bertemu. Reza menundukkan kepalanya ketika matanya bertemu dengan mata Karin.
Saat ku jumpa dirinya di suatu suasana terasa getaran dalam dada…Ku coba mendekatinya ku tatap dirinya…..Oh dia sungguh mempesona… ingin aku menyapanya… menyapa dirinya …. Bercanda tawa dengan dirinya…. Namun apa yang kurasa… aku tak kuasa… aku tak tahu harus berkata apa….. hoooooo… inikah namanya cinta… oh inikah cinta… terasa getaran dalam dada….
Cinta sukses membuat satu kantin bernyanyi bersamanya. Suara Cinta memang merdu. Karin kagum sekali dengan penampilan kakak kelasnya ini. Pantas saja Cinta dipilih menjadi ketua padus. Ternyata suaranya memang benar-benar bagus.
“Huuuuu suit suit….” Ucap teman-teman yang ada di kantin sambil memberikan applause atas penampilan Cinta dan Reza barusan, “Lagi-lagi lag-lagi…” ucap mereka.
“Terima Kasih,” ucap Cinta sambil tersenyum lalu dia turun dari panggung.
Setelah Cinta, ternyata masih ada beberapa orang yang tampil untuk bernyanyi di panggung. Kantin menjadi sangat heboh dan ramai.
Adam, Malik, Anya, Karin dan Jani masih dimeja mereka. sampai akhirnya Karin bangkit dari tempat duduknya dan membeli minuman. Seorang cowok disamping Karin yang haus meneguk sebotol air mineral dingin.
“Haus ya kak?” ucap Karin sambil memperhatikan wajah cowok disampingnya.
Mengelap air dibibirnya, “Iya nih Kar, haus banget hehe,” ucapnya yang malu karena ditanya seperti itu oleh Karin.
“Kak Reza sama kak Cinta keren banget tadi performancenya hebat,” puji Karin dengan wajah berseri-seri.
“Masa sih? Perasaan biasa aja tadi,” Reza senang sekali dipuji seperti itu, tapi dia mencoba stay cool didepan adik kelasnya ini.
“Beneran kak, itu latiannya berapa lama?” tanya Karin yang kepo.
“Hmm baru latian dua hari yang lalu Kar hehehe,” jawab Reza dengan senyum.
“Dua hari aja bisa sebagus tadi wah hebat! Gimana kalo seminggu atau sebulan ckckck,” puji Karin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lebay ah hahaha,” Reza tertawa mendengar perkataan Karin.
Malik melihat Karin berbincang dengan seorang cowok. Diperhatikannya dengan baik-baik, cowok itu adalah Reza. “Ngapain Karin ngobrol sama Reza?” tanya Malik dalam hatinya. Malik masih memandangi kedua orang itu. Dan berkata lagi didalam hatinya, “Sepertinya mereka cukup akrab?” lalu Malik ingat kalau waktu itu Reza pernah mengantar Karin sampai depan kelas. Apa mungkin mereka berdua mempunyai hubunga khusus?
Karin kembali bergabung ke meja bersama teman-temannya. Entah apa yang Malik rasakan, dengan spontan dia menyindir Karin.
“Lama aja Kar beli air minumya,” ucap Malik.
Karin hanya tersenyum.
“Tadi lo ngobrol sama siapa Kar?” Tanya Malik menyelidik.
“Oh tadi ngobrol sama kak Reza, kenapa?” jawab Karin yang balik bertanya kepada Malik.
“Gapapa nanya doang, lo lagi deket ya Kar sama Reza?” Tanya Malik yang lagi-lagi menyelidik.
“Hmm kepo lo Lik?” jawa Karin yang membuat Malik jadi malas tetapi dia penasaran.
“Kenapa sih Lik nanya-nanya, lo takut ada saingan?” Adam berkata asal yang membuat Malik jadi tambah malas.
“Ah bacot lo Dam!” ucap Malik kesal.
“Lah benerkan? Lo ngapain nanya-nanya? Lo takut kesaingkan?” lagi-lagi Adam memancing kemarahan Malik.
“Tau Lik, kalo lo suka bialng aja sih?” ucap Anya.
“Iya ngaku aja sih Lik,” Jani menambahkan.
Mereka berlima berisik sekali. Malik yang marah karena diejek oleh teman-temannya. Jani, Adam, dan Anya sibuk mengolok-olok Malik. Sedangkan Karin hanya tersenyum melihat kelakuan teman-temannya ini.
**
Lapangan basket masih sepi. Adam dan Malik sedang berganti baju untuk latihan basket. Setelah selesai mereka berdua keluar kamar mandi dan menuju lapangan basket. Dari kejauhan Malik melihat Karin berjalan bersama Anya dan Jani. Tapi ada seseorang laki-laki yang mengikuti dibelakang Karin.
Reza menyapa Karin, Anya, dan Jani. Terlihat muka Karin tersenyum saat Reza menyapa mereka. Malik yang melihat hal itu membanting bola basket yang dipegangnya.
“Aduh sakit bego!” ucap Adam sambil meringgis kesakitan dibagian kaki.
“Kenapa lu Dam?” Tanya Malik yang tidak sadar telah membuat temannya kesakitan.
“Kenapa-kenapa? Jangan pura-pura gak tau lu. Sakit nih kaki gue kena bola basket!” ucap Adam dengan marahnya kepada Malik.
“Oh kena elu, “ Malik tertawa   “hahaha map map ga tau,” ucap Malik yang kemudian meminta maaf.
“Lagian kenapa sih lu ngelempar tuh bola, lo kesel sama gue?” Tanya Adam dengan muka menantang.
“Au ah, yuk latihan,” ajak Malik yang mengambil bola basket yang  tadi dia lempar dan berjalan menuju lapangan.
**
Bel istirahat berbunyi. Tapi siswa-siswi membawa tas mereka keluar kelas. Ternyata hari ini ada rapat dadakan. Adam mencegah Anya, Jani, dan Karin sebelum mereka melangkah keluar kelas.
“Adam,” teriak Anya yang hamper menabrak Adam.
“Apa?” balas Adam dengan teriak.
“Awas ah gue mau lewat,” Anya menyingkirkan Adam yang ada didepannya.
“Mau kemana sih Nya buru-buru amat?” tanya Malik yang menghampiri Anya dan Adam.
“Gue mau keluar aja,” jawab  Anya.
“Lagian lo ngapain sih Dam berdiri di depan pintu?” kali ini Jani yang bertanya.
“Gue bĂȘte guys, jangan pulang dulu yah. Kita main kemana gitu mau gak?” Adam tiba-tiba menyorocos.
“Main kemana Dam?” Tanya Karin yang juga merasa masih terlalu unutk pulang ke rumah.
“Hmm kemana aja yuk Kar, gue bete banget kalo di rumah jam segini,” jawab Adam dengan muka bete.
“Hmm gimana kalo kita karaokean aja?” Malik memberikan ide.
“Mana buka mall jam segini,” jawab Anya sambil membuang muka.
Jani melihat jam, “Oh iya baru jam setengah sepuluh. Eh Nya mall baru buka tau haha,” ucap Jani.
“Ya palingan baru beres-beres,” ucap Anya ketus.
“Ada yagn punya ide lagi gak?” Tanya Adam kepada teman-temannya.
“Hmm kita ke rumah lo aja deh Dam,” jawab Karin yang memberikan ide cerlemang.
“Oh iya kenapa gak ke rumah si Adam aja,” ucap Malik yang dari tadi berfikir mau kemana, sampai dia lupa kalau rumah sahabtnya begitu dekat.
“Hmm yuk ah cussss,” ucap Adam sambil menggerakan tangan kanannya seperti banci.
Teman-teman Adma tertawa melihat tingkah lakunya yagn seperti banci. Mereka berlima menuju rumah Adam. Setelah sampai, Adam selaku tuan rumah menyuruh bibi menyiapkan makanan kecil dan minuman. Malik melihat ada ps di depan tv milik. Dengan cepat dia mengajak Adam bermain ps. Tapi Adam tidak mau. Adam naik ke lantai atas lalu turun membawa kartu uno.
Mereka berlima memutuskan untuk bermain kartu uno. Anya yang membawa bedak menaburkan bedaknya di sebuah kertas. Permainan dimulai dan putaran pertama ini dimenangkan oleh Karin dan yang kalah adalah Anya. Adam menaruh tangannya ke kertas yang sudah ditaburi bedak dan langsung menempelkannya diwajah Anya. Begitu juga Jani, Malik, dan Karin yangmelakukan hal yang sama.
Permainan terus berjalan. Wajah Anya, Jani, Karin, Adam, dan Malik sudah bertaburan bedak. Wajah Anya yang paling banyak tercoret bedak. Mereka tertawa melihat masing-masing muka dari temannya. Setelah bosan mereka mengakhiri permainan dan saling mengejek muka masing-masing. Adam yang lapar mengajak teman-teamnnya untuk makan. Kebetulan bibi sudah selesai memasak.
Menu makanan hari ini adalah ayam goreng, tempe, tahu, kangkung dan  sambal terasi. Mereka berlima begitu lahap saat makan. Malik memperhatikan Karin saat makan. Karin makan sangat lahap. Dan tiba-tiba Malik berfikir tentang perasaannya kepada Karin. Dia meresa kalau perasaannya ke Karin salah. Mungkin Malik memang cemburu ketika melihat Karin bersama dengan cowok  selain dirinya. Tetapi itu tidak membuktikan kalu dirinya menyukai Karin. Bukanlah Karin berhak mendapatkan cowok yang lebih baik dari dirinya.
Karin menoleh ke arah Malik dan melihat anak itu sedang melamun sambil memandang kosong ke arahnya. Karin mengerakkan tangannya ke depan wajah Malik.
“Lik? Lik?”  ucap Karin sambil mengerakkan tangannya ke wajah Malik. “Malik!” ucap Karin dengan menaikan sedikit nada suaranya.
Tersadar dari lamunannya, “Kenapa Kar?” Tanya Malik kaget dengan suara Karin yang cukup kencang.
“Lo kenapa kok melamun? Itu makanan keburu dingin,” Karin bailk bertanya.
“Gapapa, iya ini mau makan kok. Lo juga makan gih,” jawab Malik yang mengalihkan pertanyaan Karin dan langsung melahap makanannya.
“Awas kesambet lu Lik haha,” ucap Jani sambil tertawa-tawa.
“Udah pada makan, gue tau lu pada laperkan,” ucap Adam yang makanannya udah tinggal setengah.
“Lu kali Dam yang laper, ampe nasi dipiring tinggal setengah gitu,” Anya melihat nasi dipiring Adam yang tinggal setengah dan mengejeknya sambil tersenyum.
“emang gue laper, berisik aja lu Nya,” balas Adam yang melanjutkan makan.
Teman-teman Adam hanya tertawa. Malik masih memikirkan perasaannya kepada Karin.  Sepertinya memang lebih baik kalau Karin dan dirinya berteman. Setidaknya dia bisa ada kapanpun saat Karin membutuhkannya. Dan Karin, dia terlihat bahagia dengan keadaan mereka sekarang ini. Lalu Malik berkata dalam hatinya “Biarlah Tuhan yang mengatur semuanya.”

**tamat** 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru