1.3 Cowok itu bernama Reza
Rak-rak
buku yang tinggi dan besar membuat para siswa harus mencari buku yang mereka
inginkan dengan penuh kesabaran. Karena meskipun sudah dikelpomokkan menurut
abjab dan pelajaran tetap saja susah untuk menemukannya. Apalagi Karin adalah
anak baru di sekolah ini. Sudah agak lama ia mencari dan belum ketemu juga buku
yang ia cari. Karin kaget karena ada seseorang yang datang.
“Nyari buku
apa?” Tanya cowok yang waktu itu pernah ia temui juga diperpustakaan.
“Hmm buku
ensiklopedia biologi yang jilid 3 kak.” Jawab Karin dengan lemas.
“Oh itu
lagi temen saya pinjem. Btw buat apa kamu minjem buku itu?” Tanya cowok itu.
“Hmm mau
baca aja kak.” Jawab Karin. “Oh ya nama kakak siapa?” Tanya Karin.
“Gua Reza,
nama elo siapa?” Jawab cowok itu yang namanya Reza.
“Karin
kak.” Jawab Karin dengan senyuman.
“Lo hobby
baca ya?” Tanyanya lagi.
“Iya kak,
kakak juga?” Jawab Karin.
“Za, lo
disini gua cariin juga.” Seorang cowok berkacamata datang.
“Kenapa
Ji?” Tanya Reza.
“Za kita
kan ada rapat, lo ditunggu anak-anak osis tuh.” Jawab cowok berkacamata itu
yang namanya adalah Aji.
“Oh iya gua
lupa. Hmm Karin gua duluan ya.” Reza berpamitan.
Reza dan
temannya pergi meninggalkan perpustakaan. Karin hanya bisa memandang kepergian
Reza dari tempatnya. Karena buku yang dia cari tidak ada dirinya memutuskan
untuk meninggalkan perpustakaan. Karin berjalan sendirian dikoridor menuju
kelas. Saat sedang berjalan ada bola basket melintas tepat didepan kakinya,
diikuti dengan berlarinya seorang cowok yang mengejar bola itu.
Cowok itu
sangatlah berkeringat baju yang dia kenakan adalah baju olahraga. Saat cowok
itu mengambil bola basket yang berhenti tepat dibawah kaki Karin, mereka
bertatap-tatapan. Salah seorang temannya memanggil-manggil namanya. Dan cowok
itu menyadiri kalau namanya dipanggil bergegaslah ia membawa bola itu kembali
ke lapangan. Permainan dilanjutkan dengan adanya bola itu. Karin meneruskan
jalannya yang sempat terhenti oleh kejadian tadi.
Istirahat
selesai, anak-anak berhambran masuk ke kelas. Karin yang sudah berada di kelas
dari tadi sudah berkumpul dengan Anya, Jani, Adam dan Malik. Sejak kejadian di
kantin Malik jadi terlihat sangat perhatian dengan Karin. Teman-teman dekat
mereka seperti Adam, Jani dan Anya mengira kalau Malik suka dengan Karin.
Waktu
pulang adalah waktu yang ditunggu oleh semua siswa-siswi sekolah. Malik
mengajak Karin untuk pulang bareng, awalnya Karin menolak karena tidak enak
dengan kedua temannya yaitu Anya dan Jani. Tapi kedua temannya mendukung Malik
untuk mengantar Karin pulang. Mau tak mau Karin menerima ajakan Malik.
Lagi-lagi
ada cewek-cewek yang iri melihat kedekatan Malik dan Karin. Apalagi Fanya dan
Lilis yang merupakan teman sekelas mereka. Yang setiap hari selalu ketemu di
kelas dan melihat Malik yang sangat perhatian sama Karin. Selain mereka berdua,
Susan yang berbeda kelas dengan Malik pun ikut panas mendengar laporan dari
kedua temannya yang sekelas dengan Malik.
“Malik apa
gua gak ngerepotin lo nih?” Tanya Karin yang sedikit merasa merepotkan Malik.
“Gak kok
Kar, lagian rumah kita kan searah cuma beda gang aja hehe.” Jawab Malik dengan
penuh kelembutan.
“Iya sih
tapi apa cewek lo nanti gak marah?” Tanya Karin lagi.
“Gue ngga
punya pacar Kar tenang aja lagi.” Jawabnya lagi.
Rumah Malik
dan Karin memang searah. Sama dengan rumah Anya dan Jani, sebenarnya rumah
mereka berempat searah. Tapi rumah Karin dan Malik yang paling jauh. Malik
mengantar Karin samapi rumah. Dan mengajak Karin untuk berangkat barsama besok.
**
Pagi ini
Karin mandi agak siang karena tadi malam Malik sms akan menjemputnya jam 6 .10.
Maklum jarak dari sekolah ke rumah mereka tidaklah terlalu jauh. Apalagi bila
ditempuh dengan motor. Malik sampai dan Karin berpamitan kepada kedua orang
tuanya untuk berangkat. Motor melaju cukup pelan. Udara di pagi hari yang cerah
sangatlah menyegarkan. Karin menghirup udara yang segar itu dengan senyuman
yang bisa Malik lihat dari kaca spion motornya.
Mereka
berdua sampai di sekolah. Adam yang juga baru sampai langsung menghampiri kedua
temannya ini. Ketiganya menuju ke kelas. Tak lama mereka bertiga sampai bel tanda
masuk berbunyi. Dan para siswa dan siswi memulai pelajaran.
Pagi ini
pelajaran pertama adalah geografi. Guru geografi mereka bapak Ahmad menugaskan
mereka untuk membuat rangkuman tentang bab pertama. Buku-buku refernsi bisa
para murid cari di perpustakaan. Adam
selaku ketua kelas mengarahkan teman-teman sekelasnya untuk ke perpustakaan.
Semua murid kelas sepuluh satu yang adalah kelas Adam menuju perpustakaan.
Karin
berjalan berdampingan dengan Jani dan Anya. Saat melewati sebuah kelas musik
matanya melihat seorang cowok yang
sedang bermain piano. Cowok itu mengiringi teman-temannya menyayikan sebuah
lagu. Mukanya tidak terlalu kelihatan karena tertutup piano.Karena mukanya
tidak terihat Karin melanjutkan langkahnya. Di perpustakaan Malik mengambil
tempat duduk dekat Karin agar dia bisa mengobrol. Tapi Karin malah memandang
kosong bukunya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Malik lantas menegurnya.
“Hei Kar, lo
lagi mikirin apa sih?” Tanya Malik berbasa-basi.
“Iya gapapa
Lik, hmm gak mikir apa-apa kok.” Jawab Karin yang terbuyar dari lamunannya.
“Masa? Apa
jangan-jangan lo mikirin gua ya?” Malik
mencoba membuat suasana lebih relax.
“Pede
banget sih lo Lik.” Karin menepis pernyataan Malik.
“Duh yang
lagi pacaran jangan disini dong.” Adam mulai kesal.
“Iya nih
tau deh yang lagi pedekate jangan di sini bisa kali yaaa.” Ucap Jani.
“Yup udah
tadi malem ada yang minta nomornya Karin gitu katanya penting.” Anya mulai
nyeplos.
“Berisik
aja lo semua.” Malik jadi kesel.
“Ssst
jangan berisik ini perpustakaan.” Tegur beberapa teman mereka.
**
“Karin
pulang bareng gak?” Tanya Malik.
“Hmm
kayanya ngga deh Lik.” Jawab Karin penuh penyesalan.
“Kenapa?”
Malik bertanya lagi kali ini dengan nada sedih.
“Soalnya
gua mau ikut eksul padus, hari ini pertama kalinya kumpul.” Jawab Karin.
“Oh ya
udah. Nanti pulangnya hati-hati ya Kar.” Ucap Malik penuh perhatian.
“Iya
makasih. Lo juga hati-hati bawa motornya.” Karin membalas dengan senyuman.
“Kar, Jan
yuk kita ke ruang seni musik nanti telat lagi.” Ajak Anya.
“Hmm duluan
ya Malik, Adam.” Ucap Anya, Jani dan Karin sembari meninggalkan mereka berdua.
“Iya.”
Balas kedua cowok ini.
“Duh gak
sabar deh sama hari pertama ikut padus hihihi.” Anya sangat exited banget.
“Yup nanti
kita ketemu sama temen-temen baru iya gak?” Jani menambahkan.
“Semoga aja
bisa ketemu cowok-cowok kece ya hihihi.” Anya berharap.
“Dasar ya
kalian pikirannya hahaha.” Karin hanya tertawa.
“Biarin
Kar, lo kan udah punya Malik tuh terus si Jani juga udah sama Adam nah gua kan
belom ada.” Anya nyerocos panjang lebar.
“Apan sih
Nya gua sama Adam? ishhh gua tuh udah punya pacar ya!” Jani paling males kalo
dirinya udah dihubung-hubungkan dengan Adam.
“Tau lu mah
gossip mulu Nya, gua sama Malik tih cuma temen aja.” Karin membela diri.
“Bokis
banget. Kalo lu ama Malik mah beneran Kar, lo liat dong perhatiannya Malik k lo
tuh beneran.” Jani mencoba menyakinkan Karin.
“Hooh
bener, buktinya Malik aja minta nomor lu ke gua.” Anya membuka kartu mati
Malik.
“Kak Reza.”
Ucap Karin pelan.
“Siapa
Kar?” Tanya Anya kepo.
“Ah ngga
masuk yuk.” Karin masuk ke kelas.
“Temen-temen
kira-kira kita udah bisa mulai perkenalan eskulnya?” Tanya seorang cewek
berambut hitam panjang.
“Bisa kak.”
Jawab semua yang ada diruangan itu.
“Selamat
sore ade-ade kelasku. Nama saya Cinta dari kelas 12 ips 4 saya adalah ketua
dari eskul ini.” Ucap Cinta.
Cinta memperkenalkan satu persatu pengurus eskul
padus. Ada wakil, bendara dan sekertaris padus serta seorang cowok yang akan
mengiringi mereka saat latihan dan saat tampil. Pertemuan pertama ini hanyalah
sebuah perkenalan eskul padus pada para pemula. Serta pengumpulan biodata
seluruh calon anggota padus.
Acara
perkenalan padus tidak terlalu lama. Sekitar setengah jam sesi perkenalan dan
Tanya jawab selesai. Anya, Jani dan Karin mempunyai banyak teman baru. Mereka
pulang ke rumah masing-masing dengan
hati senang. Apalagi Anya yang tadi berkenalan dengan seorang cowok. Akhirnya
Anya mendapatkan apa yang ia inginkan.
**
Hari ini
ada pengumuman untuk seluruh pengurus kelas agar datang keruang MPK. Karena
akan diadakan rapat kecil oleh ketua MPK. Adam dan Karin adalah salah satu
pengurus kelas dan mereka wajib datang. Setelah bel sekolah usai keduanya
mendatangi ruang MPK. Disana sudah banyak pengurus kelas yang lainnya. Tanpa
basa-basi ketua MPK memulai rapat kecil ini.
“Baik
teman-teman apa semua udah hadir?” Tanyanya.
“Udah kak.”
Jawab para peserta.
“Assalamualaikum,
Selamat sore teman-teman.” Ucapnya.
“Waalaikum
salam.” Para peserta menjawab salam dari cowok ini.
“Perkenalkan
saya Reza, saya adalah ketua MPK. Salam kenal ya teman-teman.” Ucap Reza dengan senyumnya yang sangat manis.
Ketua MPK
memperkenalkan diri, ternyata cowok yang pernah Karin temui di perpustakaan ini
adalah ketua MPK. Reza memperkenalkan para pengurus dan anggota dari MPK. Lalu
tanpa basa-basi lagi Reza menjelaskan kenapa ia mengumpulkan semua pengurus
kelas dari masing-masing kelas. Reza juga memberitahukan keuntungan mengikuti
MPK.
Jadi semua
pengurus kelas ini wajib menjadi MPK dan akan segera dilantik minggu ini. bagi
yang tidak berminat boleh untuk tidak mengikuti pelantikan tapi minimal ada
satu orang untuk perwakilan setiap kelas. Untuk yang akan mengikuti pelantikan,
Reza membagikan sebuah formulir pendaftaran dan wajib diisi dengan
sebenar-benarnya. Karena pelantikan akan dilaksanakan sebentar lagi dan akan
diadakan bersamaan dengan pelantikan osis. Maka Reza menghibau agar para
peserta segera mengumpulkan kembali formulir pendaftaran.
**
“Dam udah
selesai ngisi formulirnya?” Tanya Karin.
“Ada yang
belom nih Kar, liat punya lo dong.” Jawab Adam.
“Nih.”
Karin memberikan kertas formulirnya.
“Oh ini
ngisinya gini doing toh.” Adam berbicara sendiri. “Selesai.” Ucapnya bahagia.
“Kumpulin yuk Kar.” Ajak Adam.
“Itu
formulir apaan deh Dam?” Tanya Jani yang tidak tau sama sekali.
“Itu
formulir pelantikan MPK Jan.” Anya selalu tahu.
“Loh kalian
ikut MPK.” Tanya Jani.
“Yoi dong,
lo pada ikut osis ya, biar kita bisa ketemu pas pelantikan.” Ajak Adam dengan
pedenya.
“Malik, gua
sama Anya kan emang udah daftar osis dari kemarenan.” Jawab Jani.
“Oh iya
yang waktu itu lo bawa foto banyak banget ya Nya?” Karin mencoba
mengingat-ingat.
“Iya udah
deh Kar jangan diinget-inget lagi.” Anya jadi gak mood.
“Kar yuk
kumpulin!” Ajak Adam.
“Teman-teman
gua ke ruang MPK dulu ya.” Karin pergi bersama Adam.
“Duluan
ye.” Ucap Adam.
Mereka
berdua berjalan ke ruang MPK. Disana sudah banyak pengurus kelas lainnya. Karin
melihat ada kak Reza disana dia sedang mengbrol dengan ketua osis. Karin
melangkah masuk dan menyerahkan formulirnya kepada seorang cowok berkaca mata.
Dengan seulas senyum cowok itu menerimanya. Karin pun tersenyum meski agak
sedikit meringgis.
Setelah bel
masuk ruang MPK sepi, hanya ada beberapa orang seperti ketua, wakil ketua,
sekertaris, bendara, dan beberapa
anggota MPK. Mereka mengecek semua formulirnya. Satu persatu Reza membaca
formulir para peserta. Disebelahnya ada cowok berkaca mata yang adalah Aji. Aji
melihat Reza serius sekali membaca formulir peserta ini. Karena penasaran Aji
mengintipnya.
“Formulir
siapa Za? Kok lu serius amat.” Ucap Aji sambil melirik kearah kertas yang Reza
pegang.
“Ah ngga.”
Ucap Reza agak gugup.
“Karina
Putri.” Aji membaca nama yang ada diformulir itu. “Cantik Za.” Ucap Aji. “Liat
bentar deh.” Aji mengambil kertas yang Reza peganng. “Hmm ini cewek yang pernah
gua ceritain lo Za. Yang waktu itu ngeliatin gua di perpustakaan. Oh namanya
Karina.” Aji bercerita panjang lebar.
“Sini Ji
gua mau baca lagi.” Reza mengambil kembali kertas formulirnya.
“Ya ampun
gua cuma liat aja. Oh ya liat nomor hapenya dong.” Aji mengeluarkan
handphonenya.
“Ini kan
privasi Ji. Kalo mau tanya sendiri dong.” Ucap Reza yang agak kesal.
“Ish Reza
lo jahat banget! Gua gak berani nanyanya.” Aji meyakinkan Reza dan dia mencatat
nomor hapenya Karin.
Keadaan di
kelas sepuluh satu sangatlah hening. Hari ini ada ulangan bahasa Indonesia.
Semua murid sudah sangat siap dengan ulangan ini karena bapak Herman selaku
guru bahasa Indonesia sudah mengumumkan tentang ulangan seminggu sebelumnya.
Ulangan cukup mudah karena hanya mengkarang tentang kebudayaan Indonesia.
Waktu habis
dan semua siswa mengumpulkan ulangan mereka. Bapak guru bersiap, Adam memimpin
doa sebelum pulang. Doa selesai bapak guru keluar dan semua siswa-siswi berhamburan
keluar kelas. Karin menghidupkan hapenya dan ada sms masuk. Nomornya tidak
dikenal karena tidak ada dikontak Karin. Karin bertanya pada Anya dan Jani tapi
mereka juga tidak tahu itu nomor siapa.
Seperti
biasa Karin pulang bersama Anya dan Jani. Dia tidak pulang bersama Malik karena
Karin ingin kerumah Vino. Hari ini Karin ada jadwal mengajar. Tak seperti
biasanya, saat Karin sampai Vino sedang duduk santai dipinggir kolam renang.
Kelihatannya dia sedih. Karin menghampirinya.
“Ini
siapa?” Tanya Vino yang matanya ditutup oleh tangan Karin.
“Siapa
hayooo?” Karin balik bertanya.
“Pasti kak
Karin ya.” Jawab Vino.
“Kakak
bukan ya?” Karin membuka tangannya dari mata Vino.
“Kak Karin
nakal ya hihihi.” Vino tersenyum lalu kembali memainkan air kolam.
“Vino kenapa
sih? Kok sedih gitu?” Karin merangkul
Vino yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
“Vino lagi
sedih kak, tadi pagi kata mama sama papa kita mau pindah.” Ucap Vino sedih.
“Pindah
kemana? Vino gak boleh sedih, kalo Vino sedih kak Karin juga ikut sedih.” Karin
ikut sedih.
“Ke Amerika
kak, pekerjaan papa dipindah kesana selama 3 tahun. “ Vino memunduk dan tak
kuasa menahan air matanya. “Aku minta sekolah disini, tapi mama gak kasih
soalnya 3 tahun bukan waktu yang singkat kata mama.” Lanjutnya.
“Vino
sayang udah ya jangan ditangisin. Siapa tau nanti disana kamu dapet kehidupan
yang lebih baik lagi.” Karin memberikan nasihat kepada adik kecilnya ini dan
memeluknya erat.
“Mama juga
bilang gitu kak.” Vino menghapus air matanya.
“Oh ya
kapan kamu pindah ke Amerika?” Taya Karin.
“Hmm
mungkin secepatnya kak, karena papa udah ditunggu disana.” Jawab Vino
“Ya udah
jangan bersedih ya. Mending sekarang kita jalan-jalan aja yuk gak usah
belajar.” Karin mengajak Vino jalan-jalan.
“Jalan-jalan
kemana kak?” Tanya Vino antusias.
“Hmm ke
taman deket rumah yuk, kamu punya sepeda kan?” Jawab Karin.
“Iya kak
yuk ke garasi.” Ajak Vino.
Karin
mengoes sepedanya. Vino memeluk erat Karin seakan takut jatuh. Vino adalah anak
tunggal dari pengusaha yang sukses. Vino
baru kelas 6 sd dan Karin sudah menanggap Vino seperti adiknya sendiri.
Karin sudah setahun lebih mengajar Vino. Mama dan papa nya Vino juga sudah
menganggap Karin seperti saudaranya sendiri, bahkan Karin diberikan beasiswa
orang tua Vino.
Taman cukup
ramai, karena setiap sore banyak yang berolahraga dan bermain di taman itu.
Karin membelikan Vino ice cream dan makan bersama di taman itu. Dani teman Vino
yang sedang bersepeda melihat Vino dan menghampiri mereka. Karin membelikan ice
cream untuk Dani.
Hari
semakin sore, Karin harus segera pulang. Setelah puas bermain dan jalan-jalan
mereka kembali ke rumah Vino. Vino berterima kasih kepada kak Karin karena dia
sudah cukup senang hari ini. Dani pulang ke rumahnya begitu juga dengan Karin.
**
Hari kamis
semua peserta pelantikan osis dan MPK diberitahukan tentang perlengkapan untuk
hari sabtu dan minggu. Para peserta punya waktu sekitar 2 hari ini untuk
mempersiapkan perlengkapan. Karena perlengkapan pelantikan osis dan mpk tidak
semua sama. Maka kelima sahabat ini sibuk mempersiapkan perlngkapan dan saling
bertukar perlengkapan untuk melengkapinya.
Hari yang
mereka tunggu tiba. Pagi-pagi sekali anak-anak sma harapan jaya sudah
berkumpul. Waktu menunjukkan pukul 07.00 setengah jam lagi bus mereka akan
berangkat. Anya, Malik dan Karin belum juga datang. Adam menelepon Malik,
ternyata Malik dan Karin masih dijalan. Jani yang menlepon Anya melihat Anya
baru turun dari mobil. Jani mematikan hapenya.
Dari
kejauhan ada mobil sedan melaju cukup pelan. Turunlah seorang cowok memakai
kupluk dan kaca mata hitam serta seorang cewek. Mereka berdua adalah Malik dan
Karin. Adam, Anya dan Jani yang melihat hanya bisa tersenyum-senyum. Karin dan
Malik menuju ketiga temannya. Adam dengan candaannya mengoda Malik.
“Ciee
berangkat bareng.” Ucap Adam mengoda Malik.
“Iya abis
kasihan Karin kalo kita gak bareng.” Malik berucap lembut.
“Jangan-jangan
kalian udah jadian?” Anya membuat gossip.
“Apa Malik
sama Karin jadian toh.” Gilang yang mendengar ucapan Anya langsung kaget.
“Apaan sih
lu Lang kepo banget haha.” Jani tertawa.
“Eh
temen-temen ternyata Malik sama Karin udah jadian.” Teriak Gilang.
“Ih apaan
sih gossip banget lu Lang!” Karin kesal.
Teman-teman
dari kelas lain yang tidak tau apa-apa hanya tersenyum, ada juga yang tertawa.
Untuk para fans Malik yang ada disitu itu adalah kabar buruk bagi mereka. Apalagi
bagi Susan yang bersusah payah mengejar cinta Malik. Hatinya langsung remuk
saat mendengar berita itu. Malik dan Karin memang terlihat dekat. Mereka
memperlihatkan kedekatan yang membuat sekeliling iri. Kadang Karin risih dengan
perhatian yang Malik berikan. Karena menurut Karin, Malik tidak benar-benar suka
dengannya.
Malik hanya
tersenyum mendengar gossip itu. Malahan Malik terlihat tidak ambil pusing
dengan gossip itu. Tapi tanpa Malik dan Karin sadari gossip itu sudah menyebar
lama tetapi bar menguap sekaran-sekarang ini. Mungkin sekarang baru anak-anak
yang ikut pelantikan yang mengetahuinya. Bisa saja nanti gossip ini menyebar ke
seluruh penjuru sekolah.
Kakak-kakak
dari osis dan mpk menyuruh para peserta pelantikan masuk ke dalam bus. Mereka
juga mempunyai guru pendamping yaitu bapak Herman selaku ketua Pembina seluruh
eskul, bapak Dodi selaku Pembina osis, ibu Shinta selaku Pembina pmr dan ibu
Tiara selaku Pembina mpk. Pembagian tempat untuk bus peserta dibagi menjadi 2.
Ada bus 1 dan bus 2. Untungnya Adam, Karin, Malik, Anya dan Jani mereka mendapatkan bus yang sama yaitu bus 2.
Kurang
lebih 3 jam mereka sampai ditempat tujuannya. Semua peserta turun dan memasuki
villa. Acara pembukaan dimulai. Dan acara langsung saja dimulai. Para peserta
dipernalkan mengenai keanggotaan osis dan mpk.
Setelah pengenalan selesai maka diadakan games kekompakan. Para peserta
dibagi menjadi beberapa kelompok.
Setelah
games lalu acara diisi dengan materi. Materi selesai diakanlah isoma
(istirahat, solat dan makan). Lalu diisi oleh materi lagi. Hari semakin larut,
teman-teman peserta pelantikan akan menjalani jurit malam. Kelompok yang sama
seperti saat games. Artinya Karin dan Adam sekelompok. Sedangkan Anya, Jani dan
Malik sekelompok. Waktu menunjukkan pukul
23.30 kelompok pertama dipersilahkan jalan. Kelompok pertama adalah
kelompok Malik, Anya dan Jani. Dengan Malik sebagai ketua kelompok. 15 menit
kemudian kelompok dua jalan. Begitu juga seterusnya. Sampai kelompok terakhir
yang adalah kelompok lima. Kelompoknya Adam dan Karin, mereka berjalan dari
satu pos ke pos lain.
Di pos terakhir
ada ketua osis dan ketua mpk. Ketua osis bernama Jami dan ketua mpk bernama
Reza. Selain ada mereka berdua disitu ada beberapa orang anak osis dan mpk
lainnya. Kelompok Karin berbaris. Mereka ditanyakan bermacam-macam pertanyaan.
Setelah kelompok ini selesai. Mereka kembali ke villa. Saat Karin berjalan ada
seseorang menyapanya. Ternyata dia cowok berkaca mata yang waktu itu tersenyum
di perpustakaan. Karin hanya tersenyum membalas sapaan cowok itu.
**
Pagi yang
cerah untuk minggu pagi ini. Para peserta yang diberikan kesempatan untuk tidur
mulai dibangunkan. Mereka bangun untuk solat subuh. Setelah solat subuh guru
Pembina mereka memberikan siraman rohani. Siraman rohani selesai dan waktunya
jalan-jalan. Para peserta diajak mengelilingi villa dipagi hari dan diberikan
sesi berfoto-foto. Jam menunjukan pukul 08.00 para peserta sudah berada di
villa. Mereka makan pagi dan bersiap-siap untuk pulang. Jam 10.00 panitia
mengumpulkan para peserta dan diadakanlah acara penutupan.
Acara
pelantikan untuk osis dan mpk resmi ditutup. Semua peserta bersorak-sorai. Mereka
menaiki bus masing-masing. Muka capek dan kelelahan terlihat diwajah para
peserta. Apalagi besok senin mereka harus kembali sekolah seperti biasa. Karena
bangku bus berdua-dua Anya dan Jani duduk bersama di depan Karin yang duduk bersama Sesil. Sedangkan Adam
dan Malik duduk berdua dibelakang tempat duduk Karin.
Sebelum bus
melaju, seorang cowok dari anak mpk memimpin doa. Setelah selesai memimpin doa
dia menuju tempat duduknya. Cowok itu melawati bangku Karin dan kembali
menyapanya. Karin hanya tersenyum. Malik yang melihat hal itu jadi agak
jelous. Karena para peserta kelelahan
mereka semua tertidur di dalam bus. Dan saat sampai di sekolah mereka
berhamburan turun bus dan ingin cepat-cepat pulang.
Malik
mengajak Karin untuk pulang bersama. Dia dijemput sama mama nya naik mobil.
Karin tak kuasa menolak karena dia juga sudah capek. Sedangkan Anya dan Jani
dijemput orang tua masing-masing. Dan Adam dia meminta pembantunya
menjemputnya.
Dari kejauhan
Aji memperhatikan Karin. Karin dan Malik sedang duduk menunggu di pos satpam. Dia
menghampiri Karin dan lagi-lagi menyapanya.
“Hai
Karin.” Sapa Aji dengan senyuman.
“Iya kak.”
Karin menjawab.
“Oh iya
kita belom sempet kenalan.” Ucap Aji sambil tersenyum. “Aku AJi anak mpk kelas
12 ips 1.” Aji memperkenalkan dirinya.
“Karin.”
Ucap Karin seingkat.
“Aku udah
tau nama kamu kok. Nama panjang kamu Karina Putri kan?” Ucap Aji panjang lebar.
“Iya kak.” Karin
agak kaget didalam hatinya Karin berkata
“Tau nama gua darimana dia?”
“Karin
pulangnya sama siapa?” Tanya Aji.
“Hmm
dijemput kak.” Jawab Karin.
“Oh gitu
disini lagi nunggu jemputan ya?” Tanya Aji berbasa-basi.
“Iya.”
Jawab Karin sambil menunduk.
“Emang
siapa yang jemput?” Aji bertanya lagi
“Saya
pulang bareng sama Malik kak.” Jawab Karin dengan nada tidak enak.
“Oh.” Aji
sedih.
“Hmm Kar,
mobil gue udah dateng nih, yuk.” Ajak Malik dan dia menarik tangan Karin.
“Duluan ya
kak.” Karin berpamitan dan mengikuti langkah Malik.
“Hmm mereka
pacaran ya?” Ucap Aji dengan sedih.
Malik dan
Karin masuk ke mobil dan meninggalkan sekolah. Dikejauhan seorang cowok
memperhatikan mobil yang menjauhi sekolah. Ternyata gossip yang beredar tentang
Malik dan Karin benar adanya. Gossip-gossip yang selama ini beredar tentang
mereka. tentang kedekatan dan kemesraan mereka ternyata benar. Apalagi ditambah
temannya menyukai Karin.
**

Komentar
Posting Komentar