2.10 Kejadian di Taman



Dion berangkat lebih pagi ke rumah Tasya. Dia tidak ingin kecolongan start oleh Adit. Dan ternyata benar Adit belum datang. Tasya juga sepertinya masih belum siap. Dion memarkirkan motornya ke dalam rumah Tasya. Dia masuk ke dalam dan melihat Tasya menuruni tangga.
“Pagi Tasya,” ucapnya.
“Pagi Yon, kok lo udah sampe aja?” tanya Tasya yang kaget dengan kedatangan Dion.
Dion tersenyum “Kan mau berangkat sama lo, yuk jalan.” Ajaknya kemudian menarik tangan Tasya.
“Eh tapi,” Tasya tak berdaya saat Dion menarik tangannya. “Ma berangkat ya,” Tasya berpamitan kepada Mama yang ada di dapur.
“Tante berangkat ya,” ucap Dion.
“Iya hati-hati ya nak,” ucap Mama yang sedang sibuk membuat roti.
Di luar rumah Adit sudah menunggu Tasya. Dion dan Tasya melihat kehadiran Adit. Tasya mulai bingung. Lagi-lagi Dion menarik tangan Tasya.
 “Hmmm …..” Tasya menggigit bibirnya.
“Kenapa? Yuk Sya nanti terlambat,” Ajak Dion lalu dia menarik tangan Tasya.
Tasya melepaskan tangan Dion dengan halus, “Maaf Yon tapi aku udah janji duluan sama Adit,” Tasya menolak ajakan Dion dengan sopan.
Dion menatap kesal kepada Adit, “Oh ya udah kalo gitu,” ucapnya.
“Sekali lagi maaf ya Yon, maaf banget. Gue berangkat duluan ya bye sampe ketemu di sekolah,” ucap Tasya  sambil berjalan ke motor Adit kemudian naik ke motor.
Dion hanya tersenyum melihat sahabatnya lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya. Sedangkan Adit dia tersenyum melihat Tasya memilih dirinya dibandingkan Dion. Dan Tasya sendiri merasa agak kasihan dengan Dion karena telah menolak sahabatnya ini. Tapi Tasya tidak bisa berbohong kalau dirinya lebih memilih Adit.
Adit memperlambat laju motornya. Dilihatnya wajah Tasya dari kaca spion. Seperti pagi-pagi biasanya, Tasya begitu cantik. Bagaikan matahari pagi yang hangat, wajah Tasya menghangatkan dirinya. Dari belakang Dion mengikuti Tasya dan Adit. Dion selalu mengambil posisi disamping motor Adit. Tasya dan Adit agak risih dengan hal ini. Tapi mereka bersikap tenang dan tidak menghiraukan Dion.
Sampailah Tasya dan Adit di sekolah, mereka berdua berjalan bersama menuju kelas. Tapi lagi-lagi Dion mengganggu mereka berdua. Dion muncul dari belakang Tasya dan Adit.
“Hai teman-teman,” sapanya sambil tersenyum dengan memperlihatkan giginya.
“Hai Dion,” Tasya menjawab sapaan sahabatnya ini.
“Eh lu Yon,” ucap Adit dengan nada sangat malas.
“Bareng dong ke kelasnya hehe,” ucap Dion berbasa-basi.
“Ya udah yuk,” ucap Tasya.
“Sya nanti pulang sekolah pulangnya sama siapa?” tanya  Dion yang tidak mau keduluan oleh Adit.
“Hmm ngga tau deh Yon, kenapa?” jawab Tasya.
“Ya gapapa sih gue pengen ngajak lo pulang bareng, lagian ada yang pengen gue omongin.” Jelas Dion dengan nada serius.
“Ngomong apa?” Tasya menjadi penasaran.
“Hmm Sya kayaknya nanti gue ngga bisa anter lu pulang deh,” ucap  Adit secara tiba-tiba yang membuat Tasya terkejut.
“Berarti Tasya fix pulang sama gue ya nih?” tanya Dion kepada Tasya sambil memandang keduanya.
“Hmmmm,” Tasya menggigit bibirnya, dia bingung harus menjawab apa.
“Udah iya aja, eh gue masuk kelas duluan ya. Sampai ketemu pulang sekolah Sya,” ucap Dion.
Dion masuk ke kelasnya. Kini tinggal Tasya berdua dengan Adit. Mereka melanjutkan langkahnya ke kelas masing-masing. Tetapi sebelum Tasya memasuki kelas, dia sempat bertanya sesuatu kepada Adit.
“Dit, kenapa lo gak bisa anter gue pulang?” tanya Tasya sebelum dia memasuki kelas.
“Hmm gue duluan ya Sya, ada pr yang belom gue kerjain. Bye Sya,” ucap Adit tanpa menjawab pertanyaan Tasya kemudian dia pergi secepat mungkin meninggalkan Tasya.
Tasya masih terpaku di depan kelasnya. Dia melihat Adit yang menghilang dibalik pintu kelasnya. Lalu Tasya melangkahkan kakinya masuk kelas. Kemudian dia duduk dibangkunya. Tasya masih berfikir tentang apa yang membuat Adit berbicara seperti itu. Akhir-akhir ini Adit seperti memberikan kesempatan kepada Dion untuk selalu bersamanya. Adit tidak seperti Adit yang dulu Tasya kenal. Adit yang selalu tidak mau kalah dihadapan Dion. Tapi beberapa hari terakhir ini, Adit seperti selalu mengalah kepada Dion.
**
Pulang sekolah ini Dion mengajak Tasya ke sebuah mall. Sudah lama sekali Dion dan Tasya tidak menonton film bersama. Kebetulan ada film baru yang diangkat dari sebuah novel terlaris. Dion membeli tiket serta popcorn. Tasya menunggu Dion dibangku tunggu. Lalu terfikirkan olehnya, andai saja dia bisa menonton bersama Adit. Mungkin akan lebih asik.
Tasya masih dalam lamunannya. Dion berjalan menuju Tasya kemudian memberikan dia popcorn. Tasya yang tersadar dari lamunannya langsung menerima popcorn pemberian Dion.
“Sya udah lama ya kita gak nonton bareng?” Dion mencoba mengenang kebahagiaan mereka saat waktu masih bersahabat dulu.
“Iya Yon, apalagi semenjak lo deket sama Intan,” Tasya mengungkit kejadian Dion dan Intan.
“Ya ampun Sya bisa gak lo lupain kejadian itu?” tanya Dion yang bete saat Tasya mengingatkannya dengan Intan.
Tasya hanya diam, tetapi hatinya berkata  “Ngga Yon!”
“Oh ya gimana hubungan lo sama Adit?” tanya Dion yang sebenarnya kepo sama kedekatan Tasya dan Adit.
“Hmm baik-baik aja kenapa?” jawab Tasya yang balik bertanya kepada Dion.
“Gapapa just ask aja,” jawabnya.
“Oh ya kata lo tadi pagi lo mau ngomong? Ngomong apa?” tanya Tasya yang penasaran dengan ucapan Dion tadi pagi.
“Oh itu ya…hmmmm…eh Sya filmnya udah mulai,” jawab Dion yang mengalihkan pertanyaan Tasya.
Mereka menikmati film itu. Sesekali Dion melempar pandangannya kearah Tasya. Sesekali Tasya tertawa melihat adegan lucu di film ini, lalu tersenyum-senyum melihat adegan romantis di film ini. Dion merasa senang karena masih bisa melihat sahabatnya ini bahagia.
Tasya sadar kalau sahabatnya ini sesekali mencuri pandangan kepadanya. Tapi dia tidak menghiraukannya. Tasya melepas semua tawa dan rasa bahagianya saat menonton. Tasya sangat suka dengan film yang Dion pilihkan untuknya, karena alur ceritanya menarik. Sang penulis skenario sangat pintar, karena bisa menyisipkan adegan lucu, romantis, serta adegan-adengan lainnya semenarik ini. Dan yang Tasya pelajari dari film yang dia tonton adalah jangan memendam cintamu. Entah kenapa Tasya mengingat Adit.
Akhir-akhir ini Tasya selalu mengingat Adit. Dia tidak bisa lepas memikirkan Adit. Apakah mungkin Tasya menyukai Adit. Dia tidak ingin seperti tokoh utama didalam film yang barusan dia tonton. Sang tokoh utama harus kehilangan orang yang disayangnya karena terlalu lama memendam perasaan cintanya. Sang tokoh utama menyesal karena tidak sempat mengungkapkan perasaannya kepada orang disayanginya. Padahal orang yang disayanginya juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
**
Di taman seorang laki-laki duduk diam menatap kosong ke kolam air mancur didepannya. Dia sedang melamun memikirkan sesuatu. Laki-laki itu adalah Adit. Adit memikirkan Tasya. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan perasaannya kepada Tasya. Ya Adit menyukai Tasya. Sudah lama dia memendam perasaannya kepada Tasya. Tapi ada perasaan takut dalam dirinya. Bagaimana kalau Tasya menolaknya. Itu yang selalu membuat Adit berfikir-fikir lagi untuk mengatakan perasaannya.
Handphonenya berbunyi, dilihatnya ada sms dari mamanya. Mamanya menyuruh cepat pulang karena mamanya ingin membuat makan malam bersama keluarga. Adit berdiri dengan malasnya dan mengambil tasnya . dipakainya tas itu dan dia mulai berjalan ke parkiran. Saat dirinya berjalan, dilihatnya seorang perempuan dan laki-laki berjalan dari arah berlawanan. Mereka berpapasan dan perempuan itu menyapa Adit.
**
Selesai menonton film Dion mengajak Tasya untuk makan sore bersama. Setelah selesai makan mereka menuju taman tempat biasa mereka mengobrol. Tasya memperhatikan seorang laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengannya. Diperhatikan orang itu, saat mereka berpapasan Tasya menyapanya.
“Adit,” sapa Tasya.
“Oh hai Tasya,” Adit agak kaku saat menjawab sapaan Tasya.
“Ngapain disini Dit?” tanya Tasya dengan muka menyelidik.
“Oh itu hmmm abis makan es krim,” jawabnya dengan sangat kikuk.
“Sendirian Dit?” tanya Tasnya lagi.
“Hehe iya Sya, oh ya gue pulang duluan ya,” ucapnya kemudian meninggalkan Tasya dan Dion.
“Iya hati-hati Adit,” ucap Tasya.
“Kesana yuk Sya,” ajak Dion yang menarik tangan Tasya.
Adit yang tadinya ingin pulang berbalik arah dan mencoba mengintip apa saja yang Tasya dan Dion lakukan. Dion dan Tasya duduk dibangku taman. Dion asik sekali bercerita dengan Tasya, sedangkan Tasya hanya tersenyum melihat Dion yang sangat asik bercerita. Tiba-tiba Dion mengambil tangan Tasya dan mengenggamnya. Kemudian Dion mencium tangan Tasya dan menaruhnya didadanya. Adit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya Dion sedang menyatakan perasaannya kepada Tasya. Tetapi Adit tidak bisa mendengar apa yang Dion ucapkan kepada Tasya.
Dion masih menggenggam tangan Tasya erat dan menaruhnya didadanya. Tasya tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya ini. Kemudian Dion mengehela nafas.
“Sya, lo tau kan tokoh utama difilm yang tadi kita tonton?”  tanya Dion.
Tasya hanya mengganguk.
“Dia ngga mau ngungkapin perasaannya ke orang yang dia sayang, sampai akhirnya orang yang dia sayang pergi dan dia malah nyesel,” ucap Dion lalu dia menghela nafas dan melanjutkan perkataannya, “Aku gak mau nyesel kaya dia. Aku gak mau orang aku sayang itu pergi.”
Tasya masih diam dan mendengarkan perkataan Dion.
“Aku suka kamu Sya, aku gak mau kehilangan kamu, aku mau aku yang selalu ada disamping kamu, aku gak mau jadi sahabat kamu lagi, tapi aku mau jadi pacar kamu, yang bisa ngelindungi kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?”
Tasya makin diam dan tidak tau harus menjawab apa. Ingin rasanya menolak Dion, tapi ia tidak bisa. Tasya melepaskan genggaman tangan Dion dan mengambil tasnya kemudian berdiri.
“Mau kemana Sya?” tanya Dion yang ikut berdiri.
“Bercandaan kamu gak lucu Yon,” ucap Tasya yang berjalan meninggalkan Dion.
“Siapa yang bercanda sih Sya, aku serius!” ucapnya dengan nada tegas.
Tasya membalikan badannya dan menatap mata Dion, “Aku ini sahabat kamu dan selamanya kita akan jadi sahabat Yon!” ucap Tasya dengan tegas dan pergi meninggalkan Dion.
Dion masih berdiri terpaku mendengar jawaban dari Tasya. Dia berfikir kalau Tasya memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi perasaannya salah. Tasya tidak menyukainya dan hanya menggangapnya sebagai sahabat tidak lebih. Dion agak kecewa dengan hal itu. Tapi Dion tidak ingin Tasya pulang sendirian. Secepat mungkin dia mengambil tas dan jaketnya kemudian berlari mengejar Tasya.
Tasya berjalan sangat cepat dan menaiki angkot yang lewat. Tasya tidak ingin kalau dirinya sampai terkejar oleh Dion. Tasya masih terbayang dengan perkataan Dion tadi. Sahabatnya memiliki perasaan lebih kepadanya, tapi kenapa Tasya tidak bisa memiliki perasaan lebih kepadanya. Motor Dion melewati angkot yang Tasya tumpangi. Untungnya Dion tidak melihat Tasya didalam angkot. Kalau Dion melihat Tasya menaiki angkot ini mungkin nantinya Dion akan menunggunya sampai turun angkot.
**
Dikamar Adit, dia sedang memikirkan Tasya. Dilihatnya jalanan depan rumahnya. Ada seorang anak sma yang memakai cardigan berwarna biru. “Itu Tasya” ucapnya dalam hati, “Kenapa Tasya pulang sendirian?bukannya tadi dia sama Dion?kemana Dion?”  Adit bertanya-tanya dalam hatinya. Dan apakah yang tadi dia lihat itu hanya salah paham belaka.
Adit memperhatikan raut muka Tasya, sepertinya anak ini sedang kacau. Adit yang menyadari akan hal itu langsung mengambil jaket dan secepat mungkin keluar dari kamar. Dia berlarian menuruni tangga. Mama yang melihat hal ini cukup heran. Karena Adit tidak seperti biasanya. Mama hendak memanggil anaknya ini tapi Adit terlalu cepat untuk pergi sehingga mama hanya bisa memandanginya dari kejauhan.
Tasya berjalan sendirian dengan muka ditutupi jaket dan ditekuk ke bawah. Perasaanya saat ini kacau balau. Tiba-tiba Tasya terkagetkan karena ada seseorang yang memegang pundaknya. Tasya terdiam, lalu orang yang memegang pundaknya memutar tubuh Tasya kearahnya dan mengangkat wajah Tasya yang sedari tadi ditekuknya.
“Tasya?” ucap orang ini yang adalah Adit.
“Adit, ngapain lo disini?” tanya Tasya.
“Tadi gue liat lo jalan sendirian, hmm kita ngobrol di taman aja yuk Sya,” ajak Adit lalu mereka berjalan menuju taman. “Sini duduk Sya,” Adit mempersilahkan Tasya untuk duduk disampingnya.
Tasya menarik nafas panjang dan memandang kosong kedepannya.
“Lo kenapa Sya? Cerita dong sama gua?” tanya Adit
Tasya menarik nafas panjang dan memandang kosong kedepannya.
“Lo kenapa Sya? Cerita dong sama gua?” tanya Adit.
“Gue… gue….jahat Dit,” ucap Tasya sambil menutupi wajahnya yang mulai mengeluarkan air mata.
“Lo jahat kenapa Sya?” tanya Adit lagi yang khawatir melihat keadaan Tasya seperti ini. Lagi-lagi Adit memegang pundak Tasya dan meenghadapkan Tasya kearahnya, Adit mengambil tangan Tasya dan  membuka tangan yang sedari tadi menutupi wajahnya itu. Terlihat muka Tasya yang merah sehabis menanggis. “Lo nanggis Sya?” tanya Adit yang membuat Tasya kembali menanggis.
Tasya tak kuat menahan perasaannya saat ini, dengan spontan dia memeluk Adit. Dan Adit juga memeluk Tasya. “Gue… gue udah ngerusak persahabatan sama Dion Dit,” ucapnya.
“Ngerusak gimana?” tanya Adit.
“Dion nembak gue…” jawab Tasya yang membuat hati Adit seperti terkena panah dan rasanya sangat perih.
“Dion nembak lo?kapan?” tanya Adit lagi.
“Tadi sore Dit,” jawab Tasya dengan nada sesunggukan karena dia belum berenti menanggis.
“Terus kenapa lo jahat?” tanya Adit yang makin penasaran dengan cerita Tasya.
“Gue gak akan mungkin bisa nerima Dion,” Tasya menjawab dengan nada penegasan.
“Kenapa lo gak bisa nerima Dion?” lagi-lagi Adit bertanya dan membuat Tasya makin menanggis. “Maaf kalau pertanyaan gue tadi makin ngebuat lo nanggis  Sya,” ucapnya yang kemudian membelai rambut Tasya dan menghapus air mata dipipi Tasya.
Tasya menatap Adit, “Adit,” ucapnya.
“Iya Sya kenapa?” tanya Adit yang juga menatap mata Tasya.
“Makasih ya,” ucap Tasya sambil memegang tangan Adit.
“Sama sama Sya,” ucap Adit sambil menggengam tangan Tasya. “Sya kalo emang lo masih mau nanggis gua siap nemenin lo kok,” ucap Adit yang membuat Tasya tersenyum haru.
Tasya dengan spontan memeluk Adit, “Adit lo emang bener-bener temen terbaik gue,” ucapnya.
Adit hanya tersenyum mendengar ucapan Tasya tadi, dalam hati dia berkata “ Temen terbaik, lo cuma anggep gue sebagai temen ya Sya.” Adit ingin sekali mengutarakan perasaannya tapi melihat kondisi Tasya yang seperti ini membuatnya mengurungkan niatnya.
**
Dion mengendarai motornya dengan perasaan yang kalang kabut. Dia habis ditolak oleh sahabatnya sendiri. Entah apa yang harus dia lakukan. Semuanya tidak seperti apa yang dia rencanakan. Ternyata Tasya memang hanya menggangpanya sebagai seorang kakak dan tidak lebih. Mungkin dirinya terlalu naïf dan takut untuk kehilangan Tasya. Terlebih lagi Dion merasa kalau dirinya kalah dari seseorang.
Motor Dion melewati rumah Tasya dan melihat ada Adit di teras rumah Tasya. Dion terus melaju dengan perlahan-lahan sambil memperhatikan langkah Adit yang menjauhi spion motornya. Sepertinya Tasya memang lebih nyaman dengan Adit.
Dion memarkirkan motornya di garasi rumah kemudian dia bergegas naik ke kamarnya untuk mandi. Setelah mandi Dion merasa lebih segar. Dion melihat keluar jendela. Dia melihat halaman rumahnya, terlintas dalam fikirannya kenangannya bersama Tasya saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Tepatnya 8 tahun lalu sebelum dirinya pindah ke Malaysia, Tasya kecil menanggis di bawah pohon mangga karena tahu akan kepergian Dion. Dion yang lebih tua setahun dari Tasya mencoba menenangkan  Tasya.
Tapi sekarang saat Tasya menanggis karena dirinya, bukan dia lagi yang bisa menenangkan Tasya. Tasya yang sekarang  sudah bukan Tasya kecil yang dulu dia kenal. Tasya sudah banyak berubah sejak kepindahannya waktu itu. Mata hati Dion mulai terbuka. Dia menyadari kalau bukan dirinyalah yang Tasya inginkan. Tapi Aditlah yang Tasya inginkan.
Dion meresa bersalah setelah menyadari hal itu. Dia sering menjauhkan Tasya dari Adit. Sepertinya dia harus mencari cara agar kedua sejoli ini bisa menyatu. Dion berfikir dan dia mendapatkan ide untuk menebus kesalahannya selama ini. Dia berkata dalam hatinya, “Tuhan aku mempunyai rencana untuk kedua temanku, aku mohon semoga rencanaku ini berhasil dan bisa menebus kesalahanku kepada mereka berdua selama ini.”
**
Keesokan harinya, Tasya yang sudah pulang sekolah hari ini harus pulang sendiri. Adit tidak bisa mengantarnya karena dia harus latihan basket. Sedangkan Dion yang selalu mengikutinya hari ini sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Tasya sampai dirumah dengan selamat. Dia sudah mandi dan  sedang menonton televis. Sampai sebuah telepon tanpa nomor meleponnya dan memberikan kabar yang mengejutkan.
“Halo ini Tasya?” ucap seseorang ditelepon sana.
“Ya saya sendiri, maaf ini siapa ya?” tanya Tasya yang agak kaget.
“Apa kamu kenal dengan Adit?” jawab seseorang ditelepon ini.
“Ya saya kenal, ada apa ya?” Tasya bertanya lagi.
“Adit kecelakaan didekat taman, apa kamu bisa kesini sekarang karena saya hanya menemukan nomor kamu dihandphonenya.” Ucap orang tersebut lalu teleponnya terputus.
“Haloooo… haloooo…” Tasya panik, dia mencoba menarik nafas panjang lalu dia kekamar mengambil kardingan dan langsung menuju taman dekat rumahnya.
**
Adit yang sedang istirahat dipinggir lapangan dihebohkan oleh temannya yang berlarian dan mengatakan kalau Tasya mengalami kecelakaan di taman dekat rumahnya. Adit dengan spontan langusng berdiri dan menatap temannya itu. “Lo serius?” ucapnya
“Iyalah serius, buruan kesana Dit,” ucap teman Adit.
Adit yang sedang panik dan tanpa berfikir panjang dia langsung mengambil kunci motornya dan bergegas ke taman.
**
Tasya berlarian ke taman dekat rumahnya. Dia sangat cape. Dilihatnya sekeliling. Sunyi sepi yang dia dapatkan. Ternyata telepon barusan itu hoax adanya. Rasanya Tasya kesal pada dirinya sendiri. Untuk apa dia percaya akan berita itu. Tasya membalik badannya dan hendak pulang. Tapi langkahnya terhenti karena ada motor yang mengklaksonnya.
Adit mengklakson motornya. Dia memberhentikan motornya tepat disamping Tasya. Adit turun dari motor dan memeluk Tasya. Adit memeluk Tasya dengan sangat erat seperti orang yang takut kehilangan. “Tasya kamu gak apa-apakan?” tanya Adit
“Aku gak apa-apa kok Dit, kamu juga gak apa-apakan?” jawab Tasya yang balik bertanya kepada Adit.
“Ngga kok Sya, aku kira kamu kecelakaan beneran?” ucap Adit yang membuat Tasya melotot dan melepaskan pelukan mereka.
“Kamu juga dapet berita itu?” tanya Tasya.
“Yah Tasya kan lagi asik meluk kamu malah dilepasin, hmm iya aku dapet berita itu dari si Joni. Emang kamu juga dapet?” tanya Adit yang kali ini menggengam tangan Tasya.
“Iya Dit, aku ditelepon katanya kamu kecelakaan disini. Jadinya aku langsung lari-larian tau kesini,” ucap Tasya dengan nada sangat kesal.
“Hmm entah siapa yang ngerjain kita, sekarang aku yakin akan satu hal Sya,” Adit menggengam tangan Tasya semakin erat.
“Apa Dit?” tanya Tasya yang tidak mengerti maksud Adit.
“Hmm kalo kamu ada perasaan sama aku, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya Adit sambil mencium tangan Tasya.
“Hmmm,” Tasya menggigiti bibirnya, “Hmmm harus jawab sekarang ya Dit?” tanya Tasya dengan mukanya yang polos.
“Iyalah Tasya, aku tungguin nih,” ucap Adit yang masih menggengam tangan Tasya.
“Hmm oke aku jawab sekarang, aku ngga bisa Dit….” ucap Tasya dengan nada sedih yang terputus oleh ucapan Adit.
“Yah kenapa?” Adit memotong ucapan Tasya yang belum selesai dengan muka yang sangat sedih.
“Tunggu aku belum selesai ngomong. Aku itu ngga bisa untuk nolak kamu Adit,” Tasya melanjutkan omongannya dengan wajah beerseri-seri.
Jawaban dari Tasya ini membuat Adit sangat senang. Adit memeluk Tasya dan Tasya juga memeluk Adit. Saat itu Dion yang sudah mengintai mereka berdua dari balik semak-semak keluar sambil bertepuk tangan. Adit dan Tasya kaget dengan kedatangan Dion. Tapi Dion menjelaskan semuanya. Dan penjelasan Dion membuat Tasya dan Adit berterima kasih atas rencana Dion.

*****The end********

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru