2.9 Kembali Seperti Dulu



Sudah lebih dari seminggu Dion dirawat. Hari ini dokter sudah mengijinkan Dion untuk pulang. Tasya dan Adit menjemput Dion ke rumah sakit. Dion senang karena sekarang dirinya dan Tasya sudah benar-benar baikan. Dia tidak ingin menyia-nyiakan sahabatnya lagi.
Adit merasa kalau hubungannya dengan Dion juga sudah membaik  semenjak kecelakaan ini. Mereka bertiga menjadi tetangga yang rukun. Meski sepertinya Adit mempunyai perasaan kepada Tasya. Dan sepertinya Dion menyadari hal itu dan tidak ingin memikirkannya.
Sedangkan Intan , cewek ini mulai merubah dirinya setelah kejadian di rumah sakit itu. Dia tahu kalau dirinya salah. Dan tak seharusnya dia seperti itu kepada sahabat pacarnya sendiri. Tasya memang baik. Dan Intan mencoba merubah dirinya. Intan masih mencintai Dion dan berharap agar dirinya bisa kembali kepada kekasihnya itu.
Tasya, dia tetap menjadi dirinya sendiri. Dia senang dengan kesembuhan Dion. Dia juga merasa Dion sudah kembali seperti Dion yang dulu lagi. Dion sahabatnya, Dion yang selalu menjaganya, dan Dion yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.
Dion, dia merasa kecelakaan itu mengubah segalanya. Megubah hidupnya dan membuka matanya. Dion kembali seperti dulu. Dirinya sangat berterima kasih kepada Tuhan karena dibalik sebuah bencana ada hikmah yang tersimpan didalamnya. “Andaikan kecelakaan ini tidak terjadi, mungkin aku tidak akan pernah tau akan semua kebenaran ini,” ucapan Dion dalam hatinya.
**
 Seperti biasa pagi ini Adit menjemput Tasya, tapi kali ini mereka berangkat bertiga. Hari ini Dion sudah mulai masuk sekolah. Dan karena Dion masih sakit, Adit dan Tasya memutuskan untuk berangkat bersama Dion sampai anak ini benar-benar sembuh. Tasya dan Adit mengantar Dion sampai ke kelas. Intan yang sudah datang dari tadi dan memang menunggu kehadiran mantan kekasihnya ini menghampirinya.
“Pagi Dion,” sapa Intan.
“Pagi,” Dion menjawab sapaan Intan.
“Kayaknya kamu masih belum sembuh betul deh Yon,” tanya Intan yang hendak memegang wajah Dion tapi Dion menepis tangan Intan.
“Gue ngga apa-apa kok, lo gak usah khawatir,” jawab Dion yang menepis tangan Intan yang hendak memegang wajahnya.
“Kalo kamu butuh bantuan, aku siap buat bantu kamu ya Yon,” ucap Intan dengan manis.
“Ngga usah makasih,” Dion menjawab dengan nada dingin.
Intan meninggalkan tempat Dion, dia kembali ke tempat duduknya. Dion masih dibangkunya, banyak teman-temannya yang mengerubunginya. Rupanya teman-temannya sudah kangen dengan Dion. maklum sudah hampir dua minggu Dion tidak masuk sekolah. Jadi hari pertama masuk sekolah dipakai Dion untuk berkangen-kangenan dengan teman-temannya.
**
Sudah sekitar satu minggu Dion terus diantar jemput oleh Adit dan Tasya. Dion merasa kalau dirinya merepotkan mereka berdua. Lagi pula Dion merasa kalau dirinya sudah mulai sembuh dan biasa kembali membawa kendaraan sendiri. Hari ini Dion memutuskan untuk berangkat memakai motor.
“Dion….Dion,” Tasya memanggil-manggil Dion dari depan pagar rumahnya.
“Eh nak Tasya,” sapa seorang wanita separuh baya yang keluar dari rumah.
“Pagi tante,” sapa Tasya sambil tersenyum, “Dionnya ada tan?” tanya Tasya dengan sopan seraya menyium tangan mamanya Dion.
“Ada, tuh orangnya lagi di garasi,” ucap Mama.
“Eh Tasya, ngapain ke sini,” tanya Dion sambil mengeluarkan motornya.
“Mau ngajak lo berangkat bareng Yon,” jawab Tasya dengan muka polosnya.
“Ngga usah Sya, hari ini gue mau naek motor aja,” ucap Dion sambil tersenyum.
“Emang lo udah sembuh?” tanya Tasya.
“Udah kok, lo berangkat sama gue yuk?” ajak Dion.
“Ngga deh gue bareng Adit aja,” Tasya menolak ajakan Dion dengan halus.
“Oh ya udah kalo gitu,” ucap Dion yang menggas motornya dengan kencang karena kesal Tasya lebih memilih Adit dibandingkan dirinya.
“Aku berangkat ya tante, assalamualaikum,” Tasya berpamitan kepada Mamanya Dion kemudian masuk ke mobil.
“Hati-hati ya nak Tasya,” ucap Mama, “Kamu gak berangkat Yon,” tanya Mama yang melihat anaknya ini masih bersantai diatas motornya.
“Bentar lagi mah, motor aku masih belom panas. Takut mogok dijalan hehe,” jawab Dion yang kembali memainkan gas motornya.
“Mama masuk dulu kalo gitu,” ucap Mama yang berjalan masuk ke rumah.
“Ma pamit dulu dong,” Dion menahan kepergian Mamanya, dia berpamitan kepada mamanya lalu berangkat ke sekolah.
**
Dion sudah lama tidak ke taman biasa. Sore ini ia ingin mengajak Tasya untuk pulang bersamanya. Tapi ia takut kalau Tasya menolak ajakannya seperti tadi pagi. Tapi Dion akan mencobanya meskipun dia tau Tasya akan menolaknya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Dion sudah menunggu di depan kelas Tasya. Tasya keluar bersama beberapa temannya. Dion memanggil nama Tasya. Tasya yang sedang mengobrol dengan temannya mencari siapa yang mencarinya dan ia melihat Dion.
“Ada apa Yon?” tanya Tasya.
“Hari ini pulang sama Adit ya?” tanya Dion yang sudah berfikiran negatif duluan.
“Hmm ngga deh kayaknya, kenapa?” jawab Tasya yang berbalik bertanya.
“Tumben Sya? Hmm gue mau ngajak lo pulang bareng sekalian ke taman biasa nih,” jawab Dion, “Lo mau ga?”
“Hmm ya udah,” Tasya menerima ajakan Dion.
Hati Dion senang tak karuan. Entah kenapa ia sangat senang. Akhirnya Tasya tidak menolak ajakannya. Dion membawa motornya dengan kecepatan sedang. Rasanya sudah lama tidak membonceng sahabatnya ini. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali membonceng Tasya. Dion menegok kearah Tasya dan membuat sahabatnya ini kaget.
“Sya,” ucap Dion sambil mengenggok kearah Tasya.
“Apa?” jawab Tasya yang kaget karena dia sedang melamun.
“Gpp kok lo diem aja dari tadi, lo lagi mikirin apa Sya?” tanya Dion sambil membetulkan kaca spion motornya, agar dia bisa melihat wajah Tasya.
“Hmm ngga mikirin apa-apa kok Yon,” jawab Tasya yang memberikan senyum termanisnya.
Dion hanya tersenyum melihat senyuman yang terpancar dari wajah sahabatnya ini. Mereka sampai di taman biasa. Dion membelikan ice cream untuk mereka berdua. Dion mulai membuka obrolan seputar kenangan mereka saat waktu kecil. Dan itu membuat Tasya tersenyum-senyum kecil. Dion melihat ada sesuatu yang aneh pada Tasya. Tasya tidak seperti biasanya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Sya?” panggil Dion.
“Iya apa Yon?” jawab Tasya yang menoleh ke hadapan Dion
“Kok kayaknya dari tadi lo diem aja? Ada yang lo pikirin ya?” tanya Dion.
“Hmm ngga kok Yon,” jawab Tasya yang lagi-lagi tersenyum.
“Lo bohong Sya,” ucap Dion.
Tasya hanya diam
“Lo mikirin Adit ya?” tebak Dion dengan asal.
Tasya masih diam. Tebakan Dion memang benar. Tasya memang sedang memikirkan Adit.
“Sya? Lo lagi kenapa sih?” tanya Dion yang makin kesal karena dari tadi Tasya cuma diam.
 “Ngga apa-apa kok Yon, hmm pulang yuk,” ajak Tasya yang udah bosan sama keadaan ini.
“Ngga mau, lo cerita dulu! Lo lagi kenapa sih?” ucap Dion dengan nada tegas.
“Gapapa Yon, lagi gak mood aja pulang yuk,” Tasya berdiri dan berjalan perlahan-lahan.
Dion mengikuti Tasya dari belakang dan menepuk pundaknya hingga Tasya menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Dion.
“Ada apa?” tanya Tasya.
Dion memeluk erat tubuh Tasya. Tasya panik karena Dion memeluknya di taman, di tempat yang ramai oleh lalu lalang orang. Untungnya sore itu taman cukup sepi.
“Dion lepasin,” ucap Tasya.
“Ngga Sya, sampe lo merasa lebih baik baru gue lepasin,” ucap Dion yang masih memeluk erat tubuh Tasya.
“Dion lepasin ini di tempat umum, malu diliatin orang banyak,” Tasya berusaha melepaskan pelukan Dion, tetapi tidak berhasil.
“Lo udah meresa lebih baik belum?” tanya Dion.
“Udah Yon, sekarang lepasin gua,” jawab Tasya yang udah pasrah dan nyerah sama kelakuan sahabatnya ini.
Setelah Tasya berkata seperti itu Dion melepaskan pelukannya dan mengajaknya pulang. Tasya masih heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Tidak seperti biasanya Dion memeluk Tasya seperti tadi. Dan biasanya tiap Dion memeluk Tasya, dirinya merasa senang dan biasanya moodnya kembali. Tetapi kenapa tadi saat Dion memeluknya  perasaannya biasa saja. Dan Tasya merasa moodnya makin parah setelah Dion memeluknya.
Mereka berjalan menyusuri taman. Tiba-tiba Tasya teringat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya dan Dion ke taman ini. Saat hati Tasya tak karuan rasanya ketika mendengar kabar kalau sahabatnya sudah jadian. Dia mengingat semuanya. Es krim, jalan sendirian, dan Adit. Tasya menghentikan langkahnya saat otaknya berfikir tentang Adit. Dion yang melihat Tasya menghentikan langkahnya ikut berhenti.
“Sya?” ucapnya, “Kenapa berhenti?” tanya Dion sambil memandangi wajah Tasya yang bertatapan kosong.
Tersadar dari lamunannya, “Ngga apa-apa Yon hmm yuk pulang,” jawab Tasya kemudian dia mengajak Dion untuk pulang.
Dion menyalakan motornya, Tasya pun naik ke motor. Mereka berdua pergi meninggalkan taman. Dion memacu motornya perlahan sedangkan Tasya menikmati udara sore hari. Lagi-lagi Tasya teringat kepada Adit. Saat ia sedang berjalan sendirian ada seorang cowok yang menyapanya dan mengajaknya pulang. Tasya tersenyum sendiri. Dion melihat Tasya tersenyum dari kaca spion dan ikut tersenyum. Dion mengira kalau mood Tasya sudah kembali karenanya, padahal Tasya tersenyum karena teringat Adit.
**
Adit sudah rapih dan akan menjemput Tasya. Dirumah Tasya, Tasya juga sudah berseragam lengkap dan menunggu orang yang akan menjemputnya. Disisi lain, Dion sedang memanaskan motornya dan bersiap untuk menjemput Tasya. Adit dan Dion sampai bersamaan. Adit sampai dari arah sebelah kanan dan Dion sampai dari arah sebelah kiri. Tasya yang sudah rapih dan duduk manis menunggu temannya ini langsung berdiri melihat keduanya datang.
“Adit, Dion” ucapnya sambil menunjuk kearah mereka berdua.
Dion kaget saat melihat Adit sampai bersamaan dengannya. Dion fikir Adit akan telat menjemput Tasya. Dilihatnya Tasya yang berdiri memandangi dirinya dan Adit. Lalu Dion berinisiatif untuk turun dan mengajak Tasya untuk berangkat ke sekolah bersama.
Tasya masih berdiri tegak dan kaku memandangi kedua temannya ini. “Kenapa mereka berdua bisa sampai di waktu yang bersamaan. Dan Dion, kenapa dia datang?”  Tasya bertanya-tanya dalam hatinya. Dia sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Adit masih dimotornya dan melihat kearah Dion serta Tasya. DIa duduk dan melihat apa yang akan Dion lakukan kepada Tasya.  Sepertinya Dion mau mengajak Tasya untuk berangkat ke sekolah bersamanya. Padahal Adit dan Tasya sudah berencana untuk berangkat bersama pagi ini. Entah kenapa Adit merasa kalau Dion merusak rencananya.
“Pagi Tasya berangkat bareng yuk,” ajak Dion yang kemudian menarik tangan Tasya.
“Pagi Yon hmmmm,” Tasya membalas sapaan Dion.
“Kenapa Sya? Yuk berangkat nanti telat loh,” ucapnya kemudian memaksa Tasya melangkahkan kakinya lebih cepat.
Tasya terus memandangi Adit seakan matanya berbicara maafkan aku Adit. Meskipun itu hanya penafsiran Adit saja tapi dia yakin kalau Tasya berkata seperti itu dalam hatinya. Adit tersenyum saat Dion melewatinya dan mengklakson seakan memberi tanda kemenangan pada dirinya yang berhasil mengajak Tasya untuk berangkat ke sekolah bersama.
Dion bangga sekali karena dia bisa mengajak Tasya untuk ke sekolah bersama. Ada rasa kemenangan dalam hati Dion karena hal ini. Meskipun terkesan memaksa Tasya, toh Tasyapun nurut saja kepadanya. Inilah salah satu sifat yang Dion suka dari Tasya, yaitu penurut. Tasya sangat penurut atau lebih tepatnya Dion menyebutnya dengan pasrah.
Tasya bingung apa yang harus dia lakukan. Dia sangat tidak enak hati kepada Adit. Apalagi pagi ini mereka berdua sudah berencana untuk berangkat bersama. Tapi kenapa Dion harus datang disaat yang bersamaan. Ini membuat hati Tasya menjadi rumit. Dion adalah sahabatnya begitu juga dengan Adit. Tapi Tasya merasa perasaan yang tak biasa ketika dia dekat dengan Adit. Perasaan deg-degan yang tidak pernah dia rasakan kalau sedang bersama Dion. mungkinkah Tasya menyukai Adit. Lalu bagaimanakah dengan Adit?

**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru