2.7 Adu Motor


Malam hari di tempat tongkrongan daerah Jakarta.
Ditempat ini banyak anak sekolah yang menongkrong. Karena tempat tongkrongan ini lumayan murah untuk kantong anak sekolahan dan tempatnya juga nyaman. Banyak sekali anak sekolahan yang sering datang hanya untuk sekedar nongkrong atau makan disini. Terutama anak-anak dari SMA Global.  
Waktu menunjukkan pukul 21.30. kebetulan jalanan sedang sepi. Dion dan teman-teman segengnya datang menggunakan motor besar milik mereka.Suasana disana cukup panas. Apalagi ada Adit, Dion menyadari hal itu. Datanglah seorang laki-laki berambut panjang yang sering dipanggil gondrong , dia datang dan mengumumkan sesuatu.
“Assalamualaikum kawan-kawan,” suara ngebass Gondrog yang besar membuat tongkrongan yang ramai ini menjadi hening.
“Waalaikum salam,” jawab orang-orang disana.
“Sekarangkan hari Jumat malem Sabtu nih dan ini Jumat terakhir di bulan ini. Nah gue ada sedikit rejeki nih. Tapi syaratnya harus ada yang tanding. Gue pengen buat acara adu motor malem ini juga. Tapi cuma dua orang. Siapa yang mau?” tanya Gondrong.
“Hadiahnya apaan bang kalo menang?” tanya salah seorang anak berkaca mata.
“Hadiahnya uang lima juta sekarang juga!” jawab Gondrong yang mengeluarkan uang dari saku celananya.
“Wow,” suara decak kagum dari anak-anak yang nongkrong disitu.
Dion dan Adit bertatapan mata dan saling tersenyum. Seakan mengerti maksud masing-masing, mereka langsung mengangkat tangan.
 “Gue bang!” ucap keduanya bersamaan.
Gondrong melihat kedua bocah kecil ini mengangakat tangan mereka, “Tepuk tangan dong buat mereka berdua, “ ucap Gondrong yang tersenyum melihat keberanian dua bocah ini.
Diiringi sorak-sorai dari pada suporter seperti layaknya mau nonton pertandingan moto GP, Adit dan Dion bersiap. Mereka memanasi motor masing-masing. Gondrong memberitahukan jalan mana saja yang harus dilewati dan beberapa peraturan yang harus mereka taati.
“Gue akan ngalahin lo Dit!gue ngga terima sama kejadian kemaren di sekolah , dan satu lagi gue akan buktiin kalo gue lebih jago dan lebih layak untuk ngejaga  Tasya!” ucap Dion dalam hati yang menatap mata Adit dengan tajam lalu dia memberikan jari jempol terbalik.
Adit menatap Dion kemudian tersenyum dan berkata dalam hati “Liat aja gue akan ngalahin elo Yon, dan gue akan kasih liat ke lo siapa disini yang lebih jago dan layak untuk ngejaga Tasya!”
Adit dan Dion bersiap digaris start. Seorang cewek cantik berdiri ditengah mereka dan membawa sehelai kain.
“Satu…..dua….tiga…” ucapnya lalu melempar kain itu.
Kedua motor itu melaju sangat cepat. Adit yang berada dibelakang Dion mempercepat laju motornya. Dion melihat Adit memercepat motornya dari kaca spion. Tapi Dion membiarkan Adit berada disebelah motornya. Sekarang  mereka   bersebelahan.
Dion membuka kaca helmya dan berteriak “Elo gak akan bisa ngalahin gue!”
Adit ikut membuka kaca helmnya dan berteriak, “Jangan kepedean lo!”
“Kalo gue bisa ngalahin lo dalam pertandingan ini elo harus jauhin Tasya, gimana?” Dion membuat kesepakatan dengan Adit.
“Oke tapi kalo lo yang kalah, lo yang harus jauhin dia!” ucap Adit.
“Fine,” ucap Dion yang melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan motor Adit.
Adit mengejar Dion. Saat sedang mengejar motor Dion, Adit melihat seekor kucing tepat didepan motor Dion dan dia berteriak, “Awas Dion ada kucing.”
Dion yang sedang mengendarai dengan kecepatan tinggi medengar teriakan itu dan melihat kucing yang berada beberapa meter didepannya, dengan cepat dia membanting stang motornya ke arah kanan dan dia terjatuh. Adit yang melihat hal itu menghentikan motornya. Adit panik, dia mendekat kearah  Dion. Dion masih sadar dan meminta Adit lebih dekat kepadanya dan berbisik kepada Adit, “Kalo gue ngga bisa jaga Tasya, gue titip dia sama lo ya Dit,” ucapan terakhir dari Dion sebelum dia menjerit kesakitan dan tidak sadarkan diri. Adit yang panik, melepon teman-temannya. Begitu teman-temannya datang Dion segera dibawa ke rumah sakit.
**
Tasya yang sedang tertidur lelap dikamar tiba-tiba bermimpi tantang Dion. Dion duduk dibangku taman yang sering mereka kunjungi. Dion memakai baju berwarna putih-putih.  Dion menoleh ke belakang dan melihat Tasya, dia tersenyum dan meyuruh Tasya duduk.
Tasya duduk disamping Dion dan bertanya, “Kamu ngapain disini?”
Dion tersenyum dan menjawab “ Mau ketemu kamu untuk yang terakhir kalinya.”
Tasya kaget dengan jawaban dari sahabatnya ini, “Kamu bercandakan Yon?” tanya Tasya.
Lalu Dion berdiri “Aku ngga bercanda Sya,” Dion mengecup kening sahabatnya ini lalu berkata, “Mungkin udah saatnya aku pergi, bye Sya. Jaga diri baik-baik ya.” Kemudian Dion pergi dan menghilang entah kemana.
Entah kenapa perasaan Tasya sangat sedih saat itu. Ia merasa seolah-olah semua ini nyata. Tasya menanggis dibangku taman. Sampai akhirya dia bangun dan tersadar kalau itu semua hanya mimpi. Mimpi terburuk yang pernah ada dalam hidupnya. Dan dia tidak ingin mimpi buruk ini menjadi kenyataan.
**
Di rumah sakit
Dion langsung dilarikan ke ruang IGD. Dokter jaga langsung memberikan tindakan. Adit mengurus semua admistrasinya dengan uang yang  gondrong berikan. Dokter membawa Dion ke ruang khusus dan memberikan berbagai tindakan. Kepalanya mengalami benturan, tangan dan kakinya sedikit robek karena motor kencang yang dikendarainya terseret diaspal. Syukurlah Dion masih bisa ditolong meskipun sekarang dirinya belum sadar.
Pihak keluarga Dion sudah ditelepon. Dan mereka sudah hadir di rumah sakit. Mama Dion sangat syok medengar berita tentang putranya ini. Mama terus menanggis dan membuat Papa sangat sedih. Adit  yang masih di rumah sakit merasa sangat bersalah. Kenapa bukan dirinya saja yang kecelakaan, kenapa harus orang lain. Dia meresa sangat bersalah kepada keluarga Dion. Apalagi kepada mama Dion yang sedari tadi menanggis. Dia membayangkan kalau mamanya yang ada diposisi mama Dion, pastinya mamanya akan sangat sedih.
Adit teringat oleh Tasya. Anak itu adalah sahabat Dion. Adit mencoba melepon Tasya untuk memberitahukannya tentang hal ini. Adit terus menerus melepon Tasya. Tapi tidak ada jawaban. Adit mencoba memmbbm Tasya tatapi tidak terkirim. Dia melihat jam ditangannya, waktu menunjukkan pukul 23.17 pasti Tasya sudah tertidur pulas. Adit memutuskan untuk  pulang ke rumah dan akan menjemput Tasya untuk melihat Dion besok pagi.
**
Pagi hari setelah Dion kecelakaan. Kondisi Dion masih tidak sadarkan diri. Dia sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Mama setia mendampingi Dion. Mama masih sedih dengan kejadian yang menimpa anaknya. Mama berdoa agar Dion cepat sadar. Mama sangat sayang kepada Dion. Karena Dion adalah anak laki-laki satu-satunya dikeluarganya.
Intan sudah sampai di rumah sakit Medistra. Intan bergegas menuju kamar Dion. Intan melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan kemudian dia berkata “Ruang Melati nomor tiga,” Intan mengintip ke dalam melalui kaca dari pintu, dilihatnya seorang pemuda yang dia kenali sebagai Dion. Intan mendorong  pintu dan masuk kedalam. “Assalamualaikum,” sapa Intan kepada seorang wanita paruh baya lalu mencium tangannya.
“Walaikum salam,” jawab wanita ini. “Kamu temannya Dion?” tanya wanita ini.
“Bukan, tapi aku pacarnya,” ucap Intan sambil memberikan senyum termanisnya.
“Oh kamu nak Intan ya?” tanya wanita ini yang adalah mama dari Dion.
“Iya tan, kok tante tau sih?” jawab Intan yang agak kaget ucapan mama Dion.
“Dion pernah bercerita tentang kamu,” ucap Mama sambil tersenyum, “silahkan duduk,” mama menawari Intan duduk.
“Iya makasih tante,” Intan duduk disebelah Mama Dion.
Mama Dion  terlihat sedih. Dia menatapi anaknya yang terbaring lemas di tempat tidur. Hal ini membuat hati Intan sedih. Intan tidak tega melihat Mamanya Dion bersedih seperti ini. Karena sebenarnya Intan juga merasa sedih dengan adanya kecelakaan tadi malam.
“Hmm Dion masih belum sadar tan?” tanya Intan.
“Belum nak, kata dokter mungkin dia akan sadar nanti siang,” jawab Mama yang masih memandangi wajah anaknya yang mengenakan alat bantu pernapasan.
**
Pagi hari di rumah Tasya, Tasya kaget waktu Mama bercerita kalau tadi malam Dion kecelakaan. Dirinya yang sedang minum susu hampir saja tersedak mendengar berita ini.
“Dion kecelakaan Sya,” ucap Mama sambil mengoles margarin di roti.
“Dion Wijaya Kusuma?” tanya Tasya tidak percaya dan langsung menyebutkan nama panjang Dion.
“Iya Dion sahabat kamu,” jawab Mama sambil menaburkan meses ke roti.
“Mama dapet berita ini dari siapa?” tanya Tasya yang masih tidak percaya dengan berita tersebut.
Memberikan roti ke papa, “Tadi pagi mama ke tukang sayur, terus ada ibu-ibu lagi ngerumpi. Katanya Dion anaknya Pak Kusuma kecelakaan motor tadi malam,” Mama menjelaskan berita itu.
 “Oh gitu, hmm Tasya keatas ya Maaa,” Tasya menghabiskan tetes terakhir susunya dan berlarian menaiki tangga.
Tasya mengambil handphonenya, dilihatnya handphone mati. Kemudian Tasya menghidupkannya. Handphone Tasya tidak mau hidup, sepertinya baterainya habis. Dia mencharger hpnya kemudian dihidupkannya.  Ada banyak sekali bbm dan telepon masuk dari Adit. Lalu Tasya membukanya satu per satu. Dibacanya perlahan-lahan bbm dari Adit.
“Sya Dion kecelakaan,” ucap Tasya dalam hati. Mata Tasya melotot melihat bbm dari Adit. Diteleponnya Adit. “Please Dit angkat telepon gue!” ucap Tasya yang sedang menelepon Adit. Tut….tut…tut…Masih belum diangkat. Tasya menunggu lagi tut….tut…tut….  
“Halo,” sapa Adit.
“Dit lo dimana?” tanya Tasya dengan nada panik.
“Di rumah Sya,” jawab Adit.
“Bisa anter gue ke rumah sakit sekarang?” pinta Tasya.
“Oke, setengah jam lagi gue jemput lo ya,” jawab Adit yang sudah mengerti maksud Tasya.
Tasya bergegas mandi. Setelah Tasya rapih dan siap, dia membbm Adit. Tak lama kemudian Adit datang menjemputnya dan mereka menuju rumah sakit.
“Dit?” panggil Tasya.
“Ya kenapa Sya?” tanya Adit.
“Kenapa Dion bisa kecelakaan?” tanya Tasya dengan nada sedih.
“Ini semua salah gue Sya,” jawab Adit dengan nada sedih dan dia hampir saja kehilangan kendali.
“Kok salah lu sih Dit, oke tenang ya Dit. Lo fokus nyetir dulu, ceritanya nanti aja yah,” ucap Tasya yang melihat ada kesedihan yang mendalam dimata temannya ini.
Mereka sampai di rumah sakit Medistra. Tasya dan Adit turun dari mobil lalu mereka menuju kamar Dion. Ruang melati nomor 3, langkah mereka berhenti disana.
“Sya lo aja yang masuk,” ucap Adit yang tidak kuasa menahan kesedihannya.
Tasya mengintip kaca yang terdapat dipintu. Dilihatnya ada Mama Dion dan seorang cewek, dia adalah Intan. Tasya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Diajaknya Adit ke taman rumah sakit itu untuk berbincang. Mereka duduk dibangku taman, lalu Tasya memulai pembicaraan.
“Dit,” panggil Tasya yang menatap wajah Adit.
“Apa?” jawab Adit yang juga menatap wajah Tasya.
“Tolong ceritain kejadian kecelakannya Dion ya Dit ?” pinta Tasya dengan nada sangat lembut, dia takut Adit terlalu sedih seperti tadi di mobil.
“Semua salah gue Sya, gue itu penyebab semuanya,” ucap Adit yang menyahakan dirinya sendiri.
“Adit, lo jangan salahin diri lo kaya gini. Lo gak salah kok, mungkin ini udah takdirnya Dion,” Tasya mencoba menenagkan Adit sambil mengelus-elus pundaknya. “Lo tenang dulu ya, coba ceritain pelan-pelan ke gue.” Tasya mencoba membuat Adit tenang.
Adit menghela nafas kemudian ia mulai bercerita, “Jadi begini Sya, gue sama Dion ada disatu tongkrongan yang sama, terus disana lagi ada acara adu motor gitu dan yang menang dapet duit. Tapi gue sama Dion gak ngincer itu. Kita berdua lagi perang dingin dan mau nunjukin kekuatan dengan ikut balapan itu. Terus pas lagi balapan ada kucing sya. Sedangkan Dion lagi ngebut sengebut-ngebutnya. Pas gue kasih peringatan dia malah banting stir dan akhirnya jatoh.” Adit menjelaskan secara singkat kronologis kecelakaan kepada Tasya.
Tasya hanya diam mendengar itu semua. Lalu dengan spontan dia bertanya, “Apa yang membuat kalian ingin mengibarkan bendera perang?” Tasya menatap mata Adit seakan matanya bertanya “Apakah karna gue?”
Adit membuang pandangannya dari mata Tasya, “Yang pasti bukan elo Sya dan lo gak perlu tahu,” ucapnya pelan. Adit tidak ingin Tasya mengetahui yang sebenarnya karna kalau Tasya tahu dirinya akan sama bersalahnya seperti dia.
“Coba bilang itu sambil tatap mata gue Dit!” tantang Tasya.
“Ngga Sya,” jawab Adit dengan mata berbianr-binar menahan air mata yang sedang ia tahan.
“Lo bohong Dit,” Tasya memegang pundak Adit. Dia tahu alasan yang sebenarnya. Bukannya Tasya kegeeran, tapi dia mendengar cerita pertengkaran Adit dan Dion waktu itu dari Rere. Dan setelah Tasya telusuri berita yang sebenarnya dari Ical teman dekat Adit, mereka memang bertengkar karena Tasya.
“Adit membelai rambut Tasya, maafin gue Sya,” ucap Adit dengan nada sangat sedih.
“Mama Dion tahu kenapa Dion kecelakaan?” tanya Tasya lagi.
“Dia hanya tahu kalau Dion kecelakaan motor, tapi ngga tahu kalau kami sedang adu motor,” jawab Adit yang sudah terlihat tidak sedih lagi dan mulai mengendalikan emosinya.
“Bagus, malah Tante Kusuma jangan sampe tahu ya Dit,” Tasya memperingati Adit.
“Kenapa Sya?” tanya Adit yang bingung dengan ucapan Tasya ini.
“Gapapa gue takut aja kalo nanti dia jadi syok, kasihan kan?” jawab Tasya. “Hmm kita jenguk Dion sekarang yuk,” ajak Tasya.
Mereka berdua meninggalkan taman dan menuju kamar Dion. Tasya menarik nafas sebelum melangkah masuk ke kamar Dion. Dia membuka pintu dan memasang senyum terindahnya. Mama Dion tersenyum melihat Tasya.  Tasya menyapa dan mencium tangannya, “Assalamualaikum Tante.” Diikuti dengan Adit yang juga bersalaman dengan mamanya Dion
“Waalaikum salam Tasya, makin cantik aja,” puji Mama Dion.
“Makasih Tan, hmm bagaimana keadaan Dion?” tanya Tasya.
“Dion belum sadar dari semalam Sya,” jawab Mama dengan wajah begitu sedih.
Intan yang berdiri di samping Dion melihat jari tangan Dion mulai bergerak, “Tante Dion sadar,” ucapnya.
Mama Dion menoleh kearah anak kesayangannya ini. Dilihatnya jari tangan Dion bergerak-gerak lalu perlahan-lahan Dion membuka matanya. “Alhamdulillah,” ucap Mama.
Tasya tersenyum haru melihat Dion yang membuka matanya perlahan-lahan.  Adit juga begitu, dia merasa senang bercampur haru karena akhirnya Dion melewati masa krisisnya. Tasya yang tak kuasa melihat ini cepat-cepat keluar ruangan. Adit yang menyadari hal itu kemudian mengejar Tasya.
Intan tersenyum melihat pacarnya yang sudah mulai sadar dan mengambil posisi sedekat mungkin untuk memperlihatkan kalau ada dirinya disitu. Intan menyadari kalau Tasya dan Adit keluar ruangan, tapi dia tidak menghiraukannya. Intan terlalu senang dengan sadarnya Dion.
Dion membuka matanya perlahan-lahan. Kepalanya masih berasa berat dan sakit. Dilihatnya Mama dan Intan. Mereka berdua tersenyum, Dion pun tersenyum kepada mereka. Lalu Dion hendak bergerak tetapi mama menahannya
“Jangan banyak bergerak dulu,” perintah mama yang menahan tubuh anaknya ini.
Dion hanya tersenyum.
“Hallo sayang,” sapa Intan yang memegang tangan Dion.
“Ha..i” ucap Dion dengan terbata-bata dan menahan sakit didadanya.
“Jangan dipaksakan berbicara dulu ya sayang,” pinta Intan dengan manisnya.
Suster masuk dan memberikan makanan serta obat kepada Dion. Intan menyuapi Dion. Dion terlihat cukup lapar, mungkin ini karena semalaman dia bertarung hidup dan mati. Setelah makan, meskipun makannya tidak dihabiskan, Dion meminum obat dan kembali tidur.
**
Hari minggu pagi di rumah sakit Medistra. Tasya membuatkan bubur khusus untuk Dion. Intan melihat Tasya berjalan dikoridor sambil membawa sesuatu. Intan mengejar Tasya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Tasya.
“Tasya,” ucap orang ini.
“Iya apa?” jawab Tasya yang menoleh kebelakang, “Intan?” ucapnya setelah melihat orang yang menepuk pundaknya ini.
“Lo mau ngapain?” tanya Intan dengan nada yang tidak enak.
“Mau jenguk Dion lah,” jawab Tasya dengan nada polos.
“Terus itu lo bawa apaan?” tanya Intan yang melihat Tasya membawa plastik.
“Oh ini,” sambil menunjuk palstik yang berisi bubur, “Ini bubur buatan gue buat Dion,” jawab Tasya dengan senyum bangga.
Mereka berdua masuk kedalam kamar Dion. Ada mama disana. Mereka berdua bersalaman dengan mama dan mengobrol. Dion masih tertidur pulas dikasurnya. Kata dokter kondisi Dion sudah mulai membaik. Meskipun Dion masih lemas tapi kondisi fisiknya sudah mulai membaik dari pertama kali dia masuk.
Waktu menunjukkan pukul  11.00. sudah sekitar sejam Tasya dan Intan menunggu Dion tapi dia belum juga bangun. Handphone Tasya bordering tanda adanya panggilan masuk. Tasya melihat siapa yang meneleponnya lalu dia sedikit menjauh dari mama dan Intan. Setelah menerima telepon Tasya berpamitan dan bergegas pergi meninggalkan kamar Dion.
Mama meminta ijin untuk keluar sebentar kepada Intan. Dengan senang hari Intan menjaga Dion. Intan memandangi wajah Dion. Meskipun dalam keadaan sakit tetap saja Dion ganteng. Saat Intan memandangi Dion, matanya terbuka. Ternyata Dion terbangun.  Dion membuka mata dan melihat ada kekasihnya. Dia tersenyum.
“Udah dari tadi kamu disini Tan?” tanya Dion dengan nada lemas.
“Iya,” jawab Intan.
“Mama kemana?” Dion celingukan mencari mamanya.
“Tadi mama keluar sebentar,” jawab Intan yang membuat Dion kembali diam.
“Hmm laper nih makanan udah sampe belum yang?” tanya Dion yang kerjaannya cuma makan dan tidur aja belakangan ini.
“Hmm susternya belom dateng nih yang, apa kamu mau aku beliin makanan?” tanya Intan.
Dion melihat plastik berisi sterofoam lalu menunjuknya, “Itu apa yang?” ucapnya.
Intan memperhatikan apa yang ditunjuk oleh Dion, “Oh itu bubur, kamu mau?” tanya Intan yang teringat kalau itu bubur buatan Tasya.
“Iya deh aku laper,” jawab Dion yang memang udah kelaperan.
Intan membuka sterofoam berisi bubur. Bubur itu sudah dingin. Tapi rasanya tidak berubah tetap enak, apalagi kalau panas mungkin akan lebih enak dimakan.
“Ini kamu yang buat yang?” tanya Dion sambil mengunyah bubur  yang sangat lembut ini.
Intan terdiam lalu ia menjawab “Emang gak enak ya yang?” dengan ekpresi wajah sedih.
“Enak banget yang, buburnya lembut banget,” puji Dion sambil mencubit wajah pacarnya.
“Iyalah siapa dulu yang buat hihi,” Intan tertawa mendengar pujian dari pacarnya ini.
“Ini seriusan kamu yang buat?” tanya Dion tak percaya.
“Iya kenapa yang?” jawab Intan yang sedikit panik dengan pertanyaaan Dion ini.
“Ngga apa-apa, bukannya kamu gak bisa masak ya yang?” tanya Dion yang heran dengan jawaban Intan.
“Aku …hmmm tadi pagi dibantuin bibi yang hehe,” Intan berbohong. Ini dia lakukan karena dia tahu kalau Dion mengetahui yang sebenarnya  Dion akan memuji-muji Tasya. Dan Intan tidak menyukai itu.
Dion masih agak janggal dengan pernyataan Intan ini. Tapi dia cuek saja. Yang penting perutnya kenyang dan dia senang karena Intan mau menyuapinya. Baru pertama kali ini Dion menghabiskan makanannya. Kemarin Dion memang makan tapi dia tidak pernah menghabiskan makanannya.
Intan senang karena pacarnya menghabiskan makanan ini. Meskipun bubur ini bukan buatannya tapi dia senang kalau Dion juga senang. Suster masuk memberikan makanan serta obat. Perut Dion sudah teriak kenyang. Intan mengambil obat dan meminumkannya kepada Dion.
Lagi-lagi setelah minum obat Dion tertidur. Mama Dion masuk ke dalam kamar. Dia membawa dua kakak Dion serta papanya. Mama mengenalkan Intan kepada kakak-kakak dan papa Dion. Setelah berkenalan Intan pamit pulang.

**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2.6 Perkelahian

1.5 Kejadian di kantin

1.6 Mendapat murid baru