2.8 Jus Cinta
Dion terbangun dari tidurnya. Dia melihat kak Rina dan kak Sasa tertidur
di bangku sofa. Entah kenapa Dion meridukan sosok seorang sahabat perempuanya
setelah melihat kedua kakaknya ini. Ya dia adalah Tasya. Sudah dua hari bahkan
sekarang mungkin sudah hari ketiga dia di rumah sakit. Tapi kenapa Tasya tidak
kunjung menjenguknya.
Dion mengambil segelas air dimeja samping kasurnya. Ia meminum segelas
air putih itu lalu dia lanjutkan tidurnya. Dion membuka matanya, dilihatnya
matahari sudah memancarkan sinarnya. Dion menyipitkan matanya. Mama menyapanya
dan membawakan makanan untuk Dion.
Sore ini Intan dan teman-teman kelasnya menjenguk Dion di rumah sakit.
Kamar Dion menjadi penuh dan ramai karena banyak sekali teman-teman yang
menjenguknya. Dion sangat senang dengan kedatangan teman-temannya.
Dion merasa lebih sehat dari sebelumnya. Intan tersenyum melihat Dion
sudah bisa tertawa dan bercanda lagi. Biasanya Dion hanya bangun untuk makan atau melakukan hal kecil lainnya. Karena
hari semakin sore, teman-teman Dion berpamitan untuk pulang. Tidak lupa mereka
mendoakan agar Dion bisa cepat sembuh dan kembali ke sekolah.
Dion berterima kasih karena
teman-temannya sudah mau datang menjenguknya. Intan juga berpamitan pulang.
Sekarang kamar Dion terasa sepi sekali. Mama dan kakak-kakanya juga sedang
tidak ada. Mereka pulang sebentar ke rumah. Tasya melangkah masuk ke kamar
Dion. Dion menoleh ke pintu, dilihatnya sahabatnya datang. Tasya tersenyum
begitu juga dengan Dion.
“Hai Dion,” sapa Tasya dengan malu.
“Hai Tasya,” Dion menyapa Tasya dan menyuruhnya untuk duduk, “Sini duduk
Sya.”
Tasya duduk dibangku samping
tempat tidur Dion. “Gue bawain ini buat lo Yon, semoga lo suka ya?” ucapnya.
Menerima sebuah kantong plastik berisi minuman, “Apa ini Sya?” tanya
Dion yang mengambil plastk berisi minuman.
“Ini jus cinta buatan gue hihi,” ucap Tasya sambil tertawa malu.
“Jus cinta?” Dion agak bingung dengan ucapan sahabatnya ini
“Pasti lo lupa ya sama jus cinta?” kata Tasya dengan wajah sedih.
“Hmmm,” Dion memang lupa dengan jus cinta.
“Ini jus yang pernah lo kasih sama gue waktu sd dulu Yon, waktu gue
nangis karena ada cowok yang ngejailin gue,” Tasya mencoba mengingatkan Dion.
Dion mencoba mengingat kejadian itu dan berkata, “Oh iya gue inget, ini
jus strawberry ya?”
Tasya tersenyum, ternyata Dion mengingatnya. Tasya mengangguk.
“Makasih ya Tataskuuuh, kamu kok masih inget sih?” tanya Dion sambil
mencubit pipi Tasya yang chubby.
“Sama-sama. Ya ingetlah, bahkan gue masih inget kata-kata lo saat lo
ngasih gue jus ini,” jawab Tasya dengan hati gembira.
“Oh ya? Emang gue ngomong apa?” tanya Dion sambil menyedot jus
strawberry yang Tasya sebut dengan jus cinta.
“Lo bilang Tasya jangan nangis, terus lo kasih jus ini ke gue dan bilang
lagi kaya gini minum nih jus cinta. Abis itu sambil nangis gue nanya, apaan tuh
jus cinta? Terus lo jawab lagi ini jus yang bisa bikin kita bahagia haha
makanya dinamain jus cinta,” Tasya bercerita sambil membayangkan kejadian itu.
“Dan anehnya lo percaya terus beneran minum jus ini haha,” sambung Dion
yang juga mengingat kejadian itu.
“iya haha dan lo ngasih sisa jus itu ke gue” Tasya menyambungkan cerita
Dion.
“Dan pas lo minum gue bilang, gimana udah ngerasa bahagia belom sekarang?haha”
tawa Dion terpecah.
Tasya memasang muka kecut lalu berkata, “Dan karna gue masih lugu pas
itu gue cuma ngangguk-ngangguk aja yakan?”
“Hmmm,” Dion hanya tersenyum dan mereka bertatapan. “Makasih ya Sya udah
dibawain jus cinta,” ucapnya sambil menghabiskan jus cinta yang Tasya buat
sendiri.
“Sama-sama,” jawab Tasya yang senang karena Dion menyukai jus cinta
buatannya.
“Oh ya Sya kenapa baru jenguk gue sekarang?” tanya Dion dengan wajah
sedih.
“Gue udah jenguk lo dari hari pertama lo di rumah sakit kali Yon,” jawab
Tasya lalu dia melanjutkan perkataannya, “Tapi lo tidur terus, jadi kita gak
pernah ketemu.”
“Oh jadi kemarenan lo selalu jenguk gue?” ucap Dion tak percaya.
Tasya mengangguk, “Oh ya kemarenan lo nerima bubur gak?” tanya Tasya.
“Bubur? Perasaan tiap hari gue makan bubur deh?” jawab Dion sambil
meledek Tasya.
“Ih bubur yang disterofoam gitu yang isinya cuma kecap, ayam sama cakwe
Yon,” Tasya bertanya dengan serius.
Ini membuat Dion berfikir-fikir.
Lalu dia ingat. Kemarin pagi Intan menyuapinya bubur. Tapi kata Intan itu bubur
buatannya. “Oh bubur itu ya?hmm itu bukannya buatan Intan?” tanya Dion yang
merasa ada yang aneh dengan kejadian ini.
“What Intan?” Tasya kaget sekali waktu mendengar nama itu disebut.
“Kenapa emang Sya? Ada yang salah ya?” tanya Dion.
“Ngga papa kok, emang Intan bilang apa kemaren soal bubur itu?” tanya
Tasya yang mencoba mengetahui kejadian kemarin pagi.
“Hmm kemaren gue kan laper tapi makanan dari rumah sakit beloman dateng,
jadi gue makan bubur itu dan Intan bilang itu bubur buatannya.” Dion
menceritakan dengan jelas kejadian soal bubur itu.
Tasya agak syok sama apa yang dikatakan oleh Dion. Apa maksud itu anak
ngaku-ngakuin masakannya. Rasanya mau marah dan memberitahu Dion kalau semua
itu hoax palsu! Tapi Tasya diam dan mencoba mencari cara lain untuk membuat
mata hati Dion sadar.
“Sya? Kok jadi diem sih?” tanya Dion yang melamba-lambaikan tangannya
dimuka Tasya.
Tasya tersadar lalu berkata, “Ah ngga papa kok, hmm lo suka sama bubur
buatan Intan?” tanya Tasya yang tersenyum licik.
“Suka, enak banget Sya rasanya. Padahal setau gue Intan gak bisa masak.
Gue aja kaget waktu dia bilang kalo bubur itu buatan dia.” Dion terus nyerocos
yang membuat Tasya mempunyai ide bagus untuk membuktikan kalau bubur itu
bukanlah buatan Intan.
“Hmm kenapa lo gak minta buatin lagi sama Intan?” kali ini Tasya merasa
senang.
“Oh iya ya nanti deh gue minta dia buatin lagi,” ucap Dion.
“Hmm Yon gue gak bisa lama-lama ya soalnya besok masuk pagi, get will
really soon ya boy,” ucapan terakhir dari Tasya kemudian ia berpamitan pulang.
Lagi-lagi Dion sendirian di kamar. Dion mulai berfikir kata-kata Tasya
tadi. Dari mana Tasya mengetahui kalau Intan membawa makanan untuknya? Dan
Tasya juga tahu kalau makanan itu adalah bubur.
Setahu Dion, dua orang ini seperti dia dan Adit. Kalau bertemu tidak
pernah akur. Dion melihat ada sesuatu keanehan disini. Tapi dia belum bisa memprediksi
apa keanehan itu. Tapi dari cara Tasya bicara tadi sepertinya dia sedang
menantang Intan. Entahlah Dion pusing memikirkan itu.
**
Keesokan harinya.
Sore hari di rumah sakit Medistra. Intan mengajak Dion berjalan-jalan
menggunakan korsi roda. Mereka ke taman rumah sakit itu. Disitu Dion menghirup
udara segar. Sudah lama dia tidak keluar kamar. Ya ini hari keempat dirinya
dirawat di rumah sakit. Dion meminta mama untuk cepat-cepat membawanya pulang,
tapi dokter belum mengijinkan. Dion
teringat ucapan Tasya kemarin. Lalu dia menanyakan tentang bubur itu kepada
Intan.
“Tan waktu hari minggu kamu ketemu Tasya gak?” tanya Dion yang mencoba
menyelidiki.
“Hmm ngga kok, kenapa emang?” jawab Intan berbohong.
“Gapapa, dua hari kemaren Tasya jenguk aku apa ngga?” tanya Dion yang
pura-pura tidak tahu.
“Ngga yang, Tasya si sahabat kamu tuh ngga jenguk kamu sama sekali.
Jahat banget ya dia?” jawab Intan yang mencoba meracuni pikiran pacarnya ini.
Dion kaget dengan jawaban Intan. Intan berbohong kepada dirinya. Pacarnya
sendiri berani berbohong. Dan malah mencoba meracuni pikirannya.
“Yang kok diem? Ganti topk pembicaraan dong jangan si Tasya lagi.” Pinta
Intan yang ngambek sama Dion.
“Hmm bubur yang waktu itu aku makan beneran buatan kamu?” tanya Dion
lagi.
“Iya yang kenapa sih?” jawab Intan yang mulai kesel.
“Hai Dion,” sapa seorang cewek yang mucul dari belakang Dion dan Intan.
“Hai, eh Tasya kok tahu gue sama Intan disini?” tanya Dion.
“Tadi ketemu mama lo Yon, terus dia bilang lo disini,” jawab Tasya.
“Ngapain lo kesini?” tanya Intan ketus.
“Ngapain aja boleh haha,” jawab Tasya sambil bercanda.
“Dasar kamse upay iyuuuuh!” ejek Intan dengan wajah jutek.
“Intan jangan gitu ah,” tegur Dion. “Lo bawa apa Sya?” Dion menatap
kantong plastik yang dibawa Tasya.
“Ini bubur buat lo Yon,” Tasya memberikan bubur itu kepada Dion.
“Wah enaknya,” Dion mengambil bubur itu.
“Ehhhh…” Intan panik melihat hal ini.
“Kenapa panik gitu muka lo Tan?” tanya Tasya dengan senyum licik
diwajahnya.
“Gapapa, yang jangan dimakan,
buburnya pasti gak enak kaya buatan aku!” ucap Intan yang mencoba mengambil
bubur itu.
“Ngga,” ucap Dion yang melindungi bubur pemberian Tasya. “Kamu kenapa
sih Tan?” tanya Dion.
Intan terdiam. Dia sudah terpojokkan sekarang. Apa yang harus dia
lakukan.
Dion membuka bubur dari Tasya dan mencipipinya. Rasanya sama seperti
waktu itu. Dion sadar akan satu hal. Bubur yang kemarin itu buatan Tasya. Intan
memang benar-benar tidak bisa memasak. Betapa bodohnya dirinya selama ini. “Hmm
enak, kok kaya bubur buatan kamu ya yang?” tanya Dion.
“Pasti enakan bubur buatan aku lah yang!” tegas Intan.
“Aku udah tau semuanya yang, aku tau kalo kamu bohong soal bubur ini dan
juga soal Tasya yang gak pernah datang ngejenguk aku.” Dion menghela nafas. Dia
capek selalu menyembunyikan perasaannya ini.
“Yang….kamu…” Intan mulai sedih.
“Kamu selalu bilang sama aku kalau Tasya inilah itulah, tapi nyatanya
kamu yang kaya gitu. Aku nyesel udah ngelepas sahabat aku hanya buat kamu,”
ucapnya. “Aku mau mulai sekarang kita putus,”Dion melanjut perkataannya.
“Tapi yang… emang kenyataannya si Tasya kaya gitu. Pokoknya kamu gak
boleh mutusin aku!”
“Maaf Tan, tapi aku muak selalu ngederin kamu ngejatuhin atau
ngejelek-jelekin sahabat aku. Tasya tuh selalu berkorban buat kamu dan buat
aku. Tapi kamu apa? Kamu gak pernah ngehargain itu,” Dion berbicara tanpa mau
menatap wajah Intan yang mulai memerah.
“Tapi yang kita kan bisa ngomong baik-baik gak usah langsung putus kaya
gini,” pinta Intan.
“Ngga ada lagi yang harus diomongin, mendingan sekarang kamu pergi tinggalin
aku disini,”ucap Dion dengan tegas.
Intan sangat sedih. Air matanya tak dapat dibendung. Dia pergi
meninggalkan Dion dan Tasya. Intan sempat menatap Tasya dengan tatapan sangat
sinis, seakan Tasya lah penyebab putusnya hubungan mereka berdua. Sedangkan
Tasya, dia diamm terpaku tak percaya dengan
apa yang baru sahabatnya katakan? Dion baru saja memutuskan pacarnya demi
dirinya? Pasti Intan marah besar kepadanya.
**

Komentar
Posting Komentar